Brindonews.com


Beranda News Rela Diguyur Hujan, Warga Galela Menunggu Kedatangan Gubernur

Rela Diguyur Hujan, Warga Galela Menunggu Kedatangan Gubernur

SOFIFI,BRN Petani asal Galela Kabupaten Halmahera Utara
(Halut) kembali menduduki kantor gubernur untuk menagih janji gubernur Maluku
Utara Abdul Gani Kasuba yang taka da titik terang.





Ratusan
petani asal Galela rela membangun tenda di depan kantor gubernur hingga
tuntutan di penuhi. Bahkan mereka rela diguyur hujan hanya untuk mendapatkan
jawaban dari gubernu, namun saat demonstrasi berlangsung selama dua hari,
gubernur tak berada di tempat.

Kedatangan
para petani asa Galela ini menuntut Gubernur Malut Abdul Gani Kasuba segera menyesesaikan
sengketa  lahan antara petani dan pihak
perusahaan, dengan mencabut izin PT KSO, pasalnya lahan cadangan yang
dijanjikan pemerintah sampai saat ini tidak ada kabar.

Masa
aksi mendirikan tenda di depan pintu masuk pintu kantor gubernur, untuk
menunggu kedatangan orang nomor satu Pemprov Malut yang saat ini berada di luar
daerah. “ Massa aksi tidak ada pulang jika Gubermur Malut tidak mau menemui
mereka”. Buktinya puncak Gosale di diguyur hujan deras, masa aksi tidak
membubarkan diri.





Ketua
Serikat Petani Galela Arif Biramasi pada wartawan Kamis (24/1/2019) mengatakan
aksi yang dilakukan hari ini merupakan aksi lanjutan masyarakat sepuluh desa
yang ada di Galela. Aaksi sebelumnya telah dilakukan di Kabupaten Halmahera
Utara, namun tidak ada titik terang.” kami datang disini untuk meminta pada
gubernur segera menyesesaikan persoalan sengketa tanah di Galela, katanya.

Masyarakat
tani meminta pada gubernur Malut untuk mengembalikan lahan masyarakat yang saat
ini sedang dirampas oleh pihak perusahaan, larena lahan eks perusahaan PT
Global yang saat ini telah diduduki masyarakat lantaran pemerintah tidak
menyiapkan lahan cadangan. “masyarakat sudah cukup menahan derita sejak tahun
1991 sampai 2019,  tapi belum juga
diselesaikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Malut,”katanya.

Arif
menceritakan lahan eks PT Global yang saat ini diambil kembali masyarakat
lantaran sejumlah perjanjian yang dilakukan oemerintah dengan perusahaan tidak
dipetapi, perjanjian yang sangat krusian itu pemerintah siiapkan lahan cadangan
seluas 2.000 hektar, namun sampai saat ini bahkan izin kontrak perushaan PT
Global selesai, lahan cadangan tidak ada.”kami hanya tuntut agar lahan kami
dikembalikan, pasalnya pemerintah janji siapkan lahan cadangan seluas 2.000
hentar sampai saat ini tidak ada, sehingga saat ini lahan tersebut kami ambil
ulang,Tapi saat ini ada perusahaan baru yakni PT KSO mau ambil alih lahan
sehingga saat ini menjadi sengketa,”ujarnya





Masyarakat
petani Galela juga menagi janji Gubernur Malut KH Abdul Gani Kasuba untuk
menyelesaikan lahan tersebut, bahkan orang nomor satu di pemrov Malut perna
memerintahkan pada masyarakat petani untuk duduki ulang lahan eks PT Global
dengan bertanam dan membangun rumah kebun.”gubernur perna janji pada kami di
tahun 2014 lalu, untuk mengolah ulang lahan, serta membangun rumah kebun,
mesjid, perintah itu kami lakukan sehingga saat ini kami sudah bangun rumah, Musallah
dilahan eks PT Global, karena gubernur janji akan selesaikan masalah lahan
tersebut,”ungkapnya.

Untuk
itu mendesak Pemprov Malut segera batalkan perpanjangan HGU PT KSO Capitol
Casagro, karena dinilai cacat hukum sebab tanpa sepengetahuan petani di 10
desa.”jika gubernur tidak merespon aksi kami, ini kami akan terus duduki kantor
gubermur Malut,”tegasnya.(red/tim)





Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Iklan