Balai PPPD Maluku Utara Ungkap Data Produksi Ikan di Halmahera Selatan Capai 3 Ribu Ton Lebih

HALSEL, BRN – Kepala Sub Bagian, Balai Pembangunan Pengelolaan Perikanan Daerah Wilayah V Provinsi Maluku Utara Fahrudin Hadji mengklaim hasil produksi ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai Bacan di Desa Panamboang, Kabupaten Halmahera Selatan pada periode 2024 lalu mencapai 3,300 kilogram lebih.
“Hasil ini dengan nilai ekonomi sebesar Rp 45,6 miliar. Capaian ini menjadi indikasi geliat sektor perikanan tangkap yang masih aktif dan menjanjikan di wilayah Halmahera Selatan, Maluku Utara. Setiap hasil tangkapan yang masuk pelabuhan didata oleh petugas sebelum dilaporkan ke provinsi. Sistem pelaporan ini memudahkan pemantauan produksi perikanan secara berkala,” kata Fahrudin, Kamis, 28 Agustus.
Fahrudin menyatakan, presentase produksi ikan pada pertengahan 2025 yang diproyeksikan setelah pendaratan di PPP Bacan mencapai 2.621.350 kilogram dengan nilai setara Rp 36,2 miliar.
Selain produksi tangkap kata dia, nilai produksi pasca tangkap hingga Juli 2025 tercatat mencapai Rp 903,6 juta. Aktivitas bongkar muat tercatat sebanyak 279 kali, dan diperkirakan pendapatan akan meningkat hingga Rp 1 miliar pada Agustus dari target tahunan sebesar Rp 2,3 miliar.
Fahrudin menyebutkan, jenis ikan yang didaratkan di pelabuhan meliputi cakalang, bebi tuna, layang, kembung, deho, dolosi, biji nangka, kerapu, dan kakak tua. Dari seluruh jenis tersebut, cakalang menjadi tangkapan paling dominasi, disusul anakan tuna dan layang.
“Harga ikan cakalang di tingkat pelabuhan saat ini berada pada kisaran Rp 14.000 sampai Rp 15.000 per kilogram. Sementara harga bebi tuna lebih tinggi, setiap hari pelabuhan menerima tangkapan berkisar antara 500 kilogram hingga 50 ton, tergantung cuaca dan musim tangkap. Sebagian besar hasil tangkapan berasal dari kapal-kapal berkapasitas 5 hingga 30 GT, yang umumnya beroperasi dengan durasi singkat,” jelasnya.
“Nelayan biasanya berangkat pagi dan kembali keesokan harinya. Keberadaan kastor dan BBM subsidi sangat membantu, meskipun kami masih kekurangan fasilitas seperti kastor es untuk menjaga kualitas ikan,” sambungnya.
Fahrudin mengemukakan, ada dua perusahaan penampung yang mengelola ikan baik dari sektor swasta maupun BUMN. Setelah dikumpulkan dipenampung, ikan-ikan tersebut dikirim ke Ternate, sebelum diteruskan ke Surabaya dan Jakarta menggunakan kontainer. Dalam sebulan, rata-rata dilakukan dua kali penjualan dengan kapasitas maksimal 17 ton per kontainer.
“Cold storage ini sangat krusial untuk menjawab keterbatasan nelayan dalam hal penyimpanan hasil tangkap. Selain itu, BBM dan sarana logistik lainnya juga perlu terus diperkuat. Aktivitas sektor perikanan tetap bergerak meski ada keterbatasan armada. Kami tetap optimistis target 2025 dapat tercapai,” ucapnya. (h/red)