Brindonews.com


Beranda Daerah Pedagang Boikot Pekerjaan Pasar Baru

Pedagang Boikot Pekerjaan Pasar Baru

Lembaran kain yang bertuliskan tolak pembangunan pasar dan aktifkan terminal yang di pasang di lokasi pembangunan pasar baru, Jailolo. Langkah pedagang yang memboikot pembangunan ini sebagai buntut kekecewaan dari tuntuan aksi sebelumnya beberapa waktu lalu. 

HALBAR, BRN
– Sejumlah pedagang yang tergabung dalam Komunitas Peduli Pedagang Kaki Lima Pasar
Baru, Jailolo, Halmahera Barat, Jumat (9/11) memboikot pembangunan pasar baru yang
di bangun diatas lahan terminal lama Desa Gufasa Kecamatan Jailolo.  

Pemboikotan
ini sebagai buntut kekecewaan karena Pemkab Halbar belum mengakomodir tuntutan
mereka pada aksi sebelumnya yakni membuka/mengaktifkan kembali terminal sebagai
pusat perputaran arus ekonomi serta membuka akses jalan menuju pasar baru. Masa
aksi menilai pembangunan tahap pertama pasar baru diatas lahan terminal lama itu
tidak memperlancar arus ekonomi di pasar baru, melainkan menekan bahkan
mematikan arus ekonomi. Karena itu, mereka meminta kepada Pemkab Halbar dan
DPRD Jailolo segera menghentikan proses pembangunan.





Koordinator
aksi, Ramli dikonfirmasi brindonews mengakui aksi ini sebagai buntut kekecewaan
dari aksi sebelumnya di depan kantor bupati Halbar beberaoa waktu lalu. Ramli berjanji
jika tuntutan mereka pada aksi kali ini tidak di tindak lanjut Pemkab Halbar, Senin
(12/11) nanti akan dilakukan aksi besar-besaran disertai pembakaran ban bekas di
depan kantor bupati Halbar.

“ Jika
tidak di hentikan, kami bakal memboikot dan membongkar bangunan yang baru tahap
pertama pekerjaan itu,” tandasnya.

Menurut
Ramli, kepemimpinan Dani Missy sangat berbeda dengan kepemimpinan Namto Hui
Roba. Pasalnya, di masa Namto menjabat sebagai bupati Halbar perputaran arus
ekonomi lebih rasakan langsung oleh masyarakat. Sementara Danny Missy tidak
demikian. Masyarakat seakan resah terutama pedagang, kami seakan-akan dijajah
bahkan dari sisi aktivitas di pasar selalu  di bebani dengan pungutan pajak yang terus
ditagih.





“ Di
masa Namto itu kami para pedagang merasakan kesejahteraan, karena masih bisa
melihat perputaran ekonomi di Halbar yang tidak begitu pelik ketimbang di
masanya Dani Missy. Kami melihat perputaran ekonomi seakan merosot,” kataya (Yadi/red)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan