Brindonews.com


Beranda Daerah Kota Ternate Akademisi: Promosi Produk Rempah ke Belanda dan Portugal ala Pemkot Ternate Hanya Seremoni

Akademisi: Promosi Produk Rempah ke Belanda dan Portugal ala Pemkot Ternate Hanya Seremoni

Muammil Sunan.

TERNATE, BRN – Langkah promosi produk UMKM berbahan rempah di Belanda dan Portugal ala Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman mendapat kritik dari Muammil Sunan, dosen ekonomi Unkhair Ternate.

Muammil menyebut, strategi promosi oleh Pemerintah Kota Ternate tidak tepat dan tidak efektif. Langkah yang dilakukan hanya menguras anggaran.





“Kalau saya lihat itu, pertama, perjalanan mereka ke luar negeri itu tentu dengan anggaran yang tidak kecil. Kedua, nilai uang rupiah harus dikonversi ke dollar, dan jika dihitung kurs sekarang Rp 15 ribu, maka sudah pasti valuenya lebih besar. Semua transaksi, termasuk biaya inap hotel pakai mata uang negara tujuan (minimal dollar). Apakah termasuk boros atau tidak, ini dulu yang dilihat, barulah kita bicara promosi,” kata Muammil ketika dimintai tanggapan melalui sambungan telepon, Rabu, 24 Mei.

Ada hal yang perlu dirombak total dalam strategi pemasaran, terutama produk UMKM berbahan rempah. Pasar global, menurut Muammil, butuh persaingan ketat dan kualitas produk.

“Pasar luar negeri akan bisa terima produk kita kalau kita bisa penuhi itu. Misalnya Sirup Pala, kopi rempah dan produk rempah lainnya bisa diterima oleh negara yang didatangi (Belanda dan Portugal). Ini produk apa harus diperjelas, bukan cuma sekadar bicara rempah-rempah. Bukan tidak sepakat atau tidak setuju pak wali sampai ke Belanda dan Portugal, tapi harus perjelas dan dipertegas tujuan dan maksud mereka ke luar negeri. Apalagi sudah dalam waktu yang cukup lama tinggalkan pemerintahan (meski tugasnya dijalankan sekda). Kalau hanya tujuan sesaat dan manfaatnya kecil sekali bagi masyarakat, buat apa?. Harus dipikir ouputnya, jangan hanya sekadar jalan-jalan ke luar negeri promosi rempah-rempah segala macam, tapi dia pe manfaat tarada sama sekali, percuma saja,” sambung Muammil.





Ia menyarankan agar Tauhid lebih fokus pelayanan masayarakat dan mendorong peningkatan pelaku UMKM, terutama meningkatkan keterampilan.

“Torang mau bicara ekspor bagimana kalau industri kita lemah atau tara diberdayakan. Bubuk Cengkeh ini bahan baku, bukan produk akhir, olahan terakhirnya kan tara jelas. Apakah Belanda atau Portugal sudah ada kesepakatan terima atau setuju sebagai negara tujuan ekspor produk rempah-rempah itu. Katakanlah jadi negara tujuan ekspor, pertanyaannya kita mampu tidak produksi dalam jumlah yang diminta?. Misalnya Belanda minta kopi rempah, tapi mereka butuhkan dalam tiap bulan sekali harus ratusan ton, mampukah kita?”.

“Bicara ekspor satu barang itukan tentu ada yang namanya kompetisi dan persaingan. Torang ekspor Kopi Dabe atau Kopi Nyiru, sementara di Belanda maupun di Portugal ada banyak varian kopi dari negara lain di sana, otomatis bersaing dalam hal kualitas dan harga. Bicara jalur perdagangan (ekspor) ini kan rutenya panjang, apalagi dari Ternate, harus ke Surabaya dulu atau Tanjung Priok barulah sampe ke negara tujuan. Kalau dihitung-hitung kita keluarkan biaya yang cukup besar,” jelasnya. (red)





 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan