Pemkot Ternate Dorong Revitalisasi Cagar Budaya untuk Perkuat Pariwisata dan PAD
TERNATE, BRN – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate terus mendorong revitalisasi kawasan cagar budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan kota. Langkah tersebut tidak hanya bertujuan menjaga warisan sejarah, tetapi juga membuka peluang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan mendorong investasi.
Hal itu disampaikan Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, saat menjadi pembicara dalam Simposium Internasional rangkaian Rakernas JKPI XII di Kota Ternate, Kamis (27/8/2026).
Tauhid mengatakan, kebudayaan memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah, terutama di tengah perkembangan globalisasi dan digitalisasi.
“Dalam konteks ini maka revitalisasi cagar budaya merupakan salah satu strategi meningkatkan PAD sekaligus merupakan sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dan mendorong perkembangan investasi,” kata Tauhid.
Fort Oranje Jadi Salah Satu Fokus Revitalisasi
Menurut Tauhid, Pemkot Ternate terus menggali, menginventarisasi, dan mengembangkan berbagai objek kebudayaan, termasuk cagar budaya, untuk dijadikan destinasi wisata sejarah dan budaya.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Fort Oranje. Revitalisasi kawasan tersebut mencakup pemanfaatan lahan dan bangunan, renovasi kawasan, rehabilitasi lingkungan, hingga peningkatan fungsi kawasan dengan tetap memperhatikan prinsip pelestarian.
Tauhid menilai revitalisasi kawasan cagar budaya dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas karena mampu menggerakkan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan pusaka.
“Revitalisasi cagar budaya mempunyai peranan penting dalam pembangunan daerah, yaitu sebagai investasi dalam meningkatkan PAD, meratakan dan meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, revitalisasi tetap diarahkan untuk memperkuat pelestarian sejarah dan budaya Ternate. Pemkot Ternate telah membentuk UPTD Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman melalui Perwali Nomor 3 Tahun 2015.
Kelembagaan tersebut mendukung upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya, museum, benteng, serta berbagai tinggalan sejarah lainnya.
Libatkan Masyarakat dan Swasta
Tauhid menegaskan, pengembangan kawasan pusaka tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Keterlibatan masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar pemanfaatan kawasan berjalan berkelanjutan.
“Perlu keterlibatan berbagai pihak yang saling terkait satu dengan yang lain dan tidak dapat dipisahkan, yaitu masyarakat, pemerintah serta swasta,” tegasnya.
Pengembangan kawasan pusaka, lanjut Tauhid, diarahkan pada penguatan partisipasi masyarakat, keterlibatan stakeholder, kepemilikan lokal, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, pelatihan, promosi, serta monitoring dan evaluasi.
Dari sektor pariwisata, revitalisasi kawasan pusaka diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan. Fort Oranje menjadi salah satu kawasan yang dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya Kota Ternate.
Selain Fort Oranje, Pemkot Ternate juga memasukkan sejumlah museum dalam agenda pengembangan, di antaranya Museum Alfred Russel Wallace, Museum Rempah Kota Ternate, dan Museum Memorial Kesultanan Ternate.
Tauhid menyebut peningkatan fasilitas dan prasarana, promosi yang lebih luas, serta pengelolaan kawasan secara kolaboratif menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan pusaka ke depan.
Revitalisasi Tak Boleh Abaikan Konservasi
Meski memiliki potensi ekonomi, Tauhid mengingatkan agar revitalisasi tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan pendapatan. Aspek lingkungan, sosial, teknologi, serta kaidah konservasi harus tetap menjadi pertimbangan utama.
“Revitalisasi cagar budaya bukanlah sektor penyumbang terbesar dalam pendapatan daerah, tetapi berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi dari pemanfaatan cagar budaya tersebut, tanpa mengabaikan kaidah konservasi dan aspek pelestarian secara menyeluruh,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, Pemkot Ternate berharap kawasan cagar budaya tidak hanya menjadi ruang untuk merawat sejarah, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata berkelanjutan, ruang ekonomi kreatif, serta penggerak perekonomian masyarakat.
Pengembangan kawasan pusaka juga diharapkan memperkuat identitas Ternate sebagai kota yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan rempah yang menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban dunia. (Ham/Red)







