Brindonews.com


Beranda Headline Warga Darpan Versus Bupati Memanas

Warga Darpan Versus Bupati Memanas

Desakan warga desa Daruba Pantai (Darpan) yang menolak di relokasi 

MOROTAI, BRN– Keinginan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai secepatnya
membangun Water Front City (WTC) kembali menuai protes warga. Betapa tidak,
para warga yang berdomisli di desa Daruba Pantai (Darpan) dimana lokasi
tersebut dibangun WFC tetap menolak direlokasi.

Pasalnya, sikap warga Darpan menolak direlokasi
ini sebagai buntut dari kekecawaan upaya Pemkab Morotai membangunan WTC. Rabu
(7/8) pagi sejumlah warga Darpan kembali melakukan susulan dengan dinas terkait
yang berlangsung ruang rapat kantor DPRD. Pertemuan tersebut tak lain mencari
solusi.  





Ketua DPRD Morotai, Fahri Hairuddin mengatakan,
DPRD selaku wakil rakyat hanya mejembatani persoalan yang dihadapi warga
Darpan. Tindaklanjut ini kemudian disampaikan ke Pemkab untuk mempertimbangkan
kemauan warga setempat.

“ DPRD hanya menindaklanjuti masalah ini ke
Pemkab, soal mau atau tidak tergantung warga Darpan, karena itu hak mereka,” ucap
Fahri.

Sementara itu, Kepala Bappeda Abjan Sofyan menjelaskan,
sebelum pembangunan WFC dilakukan sudah dilakukan pemantauan langsung di lokasi.
 Abjan mengaku, lokasi pembangunan WFC terdapat
sejumlah rumah yang harus direlokasi. Disisi lain, warga yang berdomisili lokasi
tersebut rentan terkena abrasi pantai, karena rumah mereka berada diatas laut.





“ Karena bupati kuatir terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan, bupati lansung meminta kepada warga untuk relokasi,” kata
Abjan.

Langkah relokasi warga itu dilakukan
berdasarkan hasil kajian lingkungan serta hasil koordinasi bersama Pemerintah Provinsi
(Pemprov) Malut. Meski telah dilakukan pengkajian, kata  Abjan, bukan berarti tidak serta merta rumah
warga langsung relokasi.

“ Sebagian rumah warga tidak dibongkar, tapi
direhab, jika warga Darpan bersedia di relokasi, maka sudah jelas Pemkab lansung
mengambil langka, ini kami lakukan seperti di Ternate, sehingga kedepan tata
kota lebih bagus lagi,” sambung Abjan. 





Kendati sudah dijelaskan oleh kepala Bappeda,
warga Darpan tetap bersikeras untuk tidak direlokasi. Juru Bicara (Jubir) warga
Darpan, Kamarudin Mahasari tetap menolak untuk direlokasi. Sebab menurut Jubir,
persolan yang dihadapi warga Darpan sangat berbeda apa yang dilakukan
Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate.  

“ Reklamasi di desa Darpan, jangan samakan
seperti di Ternate, karena dari sisi geografis saja berbeda jauh. Dan sejauh
yang kami ketahui pembangunan WFC tidak ada Amdal, kami juga peroleh informasi
bahwa air bersih yang ada di Pulau Kolarai sudah mengandung garam, karena efek
dari pembangunan WFC,” imbuh Kamarudin.





Selain itu lanjut Jubir, Pemkab juga terkesan
tidak transparan dan partipatif soal rencana relokasi rumah warga. Tanpa didahului
sosialisasi, Bupati Morotai, Benny Laos dengan tiba-tiba bupati turun lokasi
pembangunan dan menyebut rumah warga bakal digusur.

Penolakan warga Darpan untuk tidak direlokasi
dipertegas salah satu warga Darpan, Iskandar. Menurut  Iskandar, alasan warga yang nyaris menghakimi Bupati
beberapa waktu lalu itu karena menerima ucapan tak menyenangkan dari Bupati.

“ Saya jujur saja, warga Darpan merasa
tersinggung dengan perkataaan yang tidak baik di keluarkan oleh bupati, bahwa
rumah-rumah ini akan di gusur. Kalau kalian tidak mau, maka kalian akan
berhadapan dengan polisi dan  bupati juga
menakut-nakuti warga Darpan dengan mengatakan, bahwa kalian akan di penjarakan
selama lima tahun jika tidak mau pindah, ucapan bupati ini yang membuat warga
Darpan tersinggung dan lansung bersikap keras dan menolak untuk direkolasi,” tegas
Iskandar. (Fix)





Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan