Brindonews.com


Beranda Opini Utopia Gemerlap Dunia

Utopia Gemerlap Dunia

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. | Penulis lepas Yogyakarta

Keindahan dunia tidak ada habisnya untuk digambarkan, bahkan dalam rangkaian seluruh kata dari semua bahasa sekalipun.





Keterbatasan manusia menjadi latar belakangnya. Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai keterampilan berbahasa menjadikannya mampu mengungkap keindahan namun pada saat itu pula hakikatnya manusia tidak mampu menggambarkan keseluruhan.

Sifat unik, dalam istilah filsafat adalah di antara alasan lainnya yang menjadikan keindahan dunia dapat menipu, dan melalaikan.

Sepanjang sejarah peradaban manusia telah mencatat banyak yang berusaha mencari apa sebenarnya yang menjadi hakikat dunia ini.





Sebut saja para filsuf yang berusaha membangun pemikiran sebagai konsep-konsep untuk dapat dipahami. Pemikiran tentang alam, perilaku manusia, bahkan tentang Tuhan menjadi bagian kegelisahan para pemikir tersebut.

Namun disadari atau tidak, terlepas dari segala dinamika dalam prosesnya, usaha tersebut jauh dari kebenaran yang sesungguhnya. Artinya, persoalan yang dikemukakan justru tidak terpecahkan secara paripurna, atau setidaknya memberikan jawaban sebagai jalan keluar dari persoalan yang sebelumnya dikemukakan.
Seni, sebagai ekspresi tidak jauh berbeda.

Jika filsafat berkutat pada pemikiran, kemampuan manusia untuk berseni justru menjadikan gambaran tentang dunia sempit, atau berkurang keindahannya. Dunia dijadikan sebagai satu model baik cara berbuat manusia ataupun ekspresi rasa.





Terlebih jika seni diartikan sebagai suatu karya, hakikat dunia menjadi terdistorsi menjadi sebatas karya seni. Kemudian keindahan dunia secara keseluruhan menjadi keindahan-keindahan yang terbatas. Atau jika terhadap pemikiran filosofis yang dapat mengagumkan menjadi sebatas karya filsafat.

Maka, apakah keindahan dunia menjadi hilang, samar, atau setidaknya berkurang?, tentu tidak. Kepastian itu bisa ditemukan sebagaimana yang diungkapkan Allah sendiri dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 7 yang berbunyi: “sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapa di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”.

Sifat menipu menjadi satu kesatuan dalam dunia yang menjadikannya indah. Apa yang ada di dunia, berupa perhiasan-perhiasan, seperti kemewahan harta, istri dan anak-anak, berikut perbuatan manusia yang memuncak pada kemuliaan akhlak juga dijadikan dapat melalaikan.





Kebaikan seperti pemberian, pertolongan dan sopan santun menjadi contoh perbuatan yang menjadi keindahan dunia tersendiri. Demikian seterusnya, keindahan-keindahan tersebut dapat menjelma rasa senang, nyaman, dan nikmat.

Bukan oleh siapa-siapa, tetapi Allahlah yang menjaga dan menjadikannya sebagai keniscayaan serta menundukkan segala sesuatunya pada ketetapannya tersebut.

Kehidupan akan berjalan baik dengan amal baik dan akan menghasilkan kebaikan. Ummat Islam, diingatkan berkali-kali untuk beribadah, seperti perintah salat, melaksanakan zakat, sedekah dan lain sebagainya, dan untuk senantiasa bersyukur dengan segalanya serta sabar jika dirasa tidak berkesesuaian dengan kebenaran. **





Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan