Brindonews.com


Beranda News Angkat Potensi Budaya dan Bahari, Kepulauan Sula Gelar Festival Tanjung Waka

Angkat Potensi Budaya dan Bahari, Kepulauan Sula Gelar Festival Tanjung Waka

SANAN, BRN – Provinsi Maluku Utara (Malut) makin
serius mengembangkan sektor pariwisatanya. Beragam atraksi pariwisata semakin
sering ditampilkan Provinsi Malut. Kali ini Provinsi Malut kembali bersiap
menggelar Festival Tanjung Waka. Festival ini akan digelar di Tanjung Waka,
Kabupaten Kepulauan Sula 27-30 Desember 2018.





Agenanya sudah pasti paten. Sederet sajian budaya yang
padat akan dipersembahkan, mulai dari Tarian Bela Yai, Tarian Denge, Tarian
Laka Baka, hingga Pencak Silat sudah dipersiapkan. Selain itu, festival ini
menjadi momentum lahirnya Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kepulauan Sula.

“ Festival Tanjung Waka menjadi sebuah atraksi
pariwisata yang semakin berkembang. Festival ini menjadi etalase seni budaya
kebesaran Kepulauan Sula. Momentum ini sekaligus kita maksimalkan dengan
mengukuhkan GenPI Kepulauan Sula sebagai motor promosi pariwisata kabupaten
ini,” ujar Syarifudin KoRoy penggagas sekaligus ketua panitia Festival Tanjung
Waka.

Menurut Syarifudin, festival ini dimaksudkan untuk
semakin mengangkat sektor pariwisata Kepulauan Sula. Pasalnya Kepulauan Sula
memiliki potensi yang menakjubkan. Bukan hanya budaya, alamnya pun luar biasa.
Terlebih lagi potensi Baharinya.





“ Kepualauan Sula adalah surga tersembunyi. Potensi
besar Alam dan budaya yang dimilikinya menjadi sebuah modal yang patut
diperhitungkan. Ini yang akan kita angkat dalam festival ini,” imbuhnya.

Ucapan Syarifudin memang tak terbantahkan. Keindahan
alam kepulauan Sula tak di ragukan lagi. Tanjung Waka berada pada titik paling
selatan pulau Sanana. Dari spot ini wisatawan akan disajikan fenomena alam yang
liar biasa ketika bulan purnama. Dimana wisatawan dapat menyaksikan bulan
purnama terbit dan matahari terbenam sekaligus.

Tanjung Waka juga memiliki pantai pasir putih yang
sangat memikat. Panjangnya sekitar 7 Km. Belum lagi alam bawah lautnya yang
kaya. Dive sitenya banyak. Berada di wilayah segitiga karang dunia (coral
triangle) membuat Kepulauan Sula menjadi spot incaran diver dunia.
Keanekaragaman hayatinya tinggi dan sangat terjaga.





“ Visibility nya tinggi, sekitar 20 meter, dengan
temperature air yang hangat yaitu sekitar 26 hingga 29 derajat celcius.
Pokoknya bakal ketagihan menyelam di Kepulauan Sula,” bebernya.

Lantas bagaimana aksebiltasnya? Tidak perlu khawatir,
akses menuju Kepulauan Sula cukup mudah. Ada dua moda transportasi yaitu dengan
menggunakan pesawat terbang yang menuju Bandara Sultan Baabulah, Ternate dan
menggunakan kapal laut yang menuju Ternate. Dari Ternate menuju Kepualauan
Suka, dapat menggunakan kapal laut ataupun pesawat terbang.

“ Perjalanannya cukup singkat, sekitar 1,5 jam dengan
pesawat terbang,” paparnya. 





Soal penginapan juga tak perlu khawatir. Terdapat
sejumlah penginapan seperti hotel bintang satu dan homestay. Tarifnya cukup
murah, hanya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sudah dapat beristirahat
dengan nyaman.

Hal ini membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya langsung
angkat jempol. Menteri yang baru saja terpilih sebagai The Best Marketing
Minister of Tourism Of ASEAN dari Philip Kotler itu memuji keseriusan Malut
untuk mengangkat pariwisatanya.

“ Atraksi-atraksi seperti ini harus terus dikembangkan,
tetapi ingat ini juga harus didukung promosi yang gencar. Ini bisa
dikolaborasian dengan GenPI. Kalau soal potensi saya sudah tidak ragu lagi.
Malut itu gerbang bahari Indonesia Timur. Surga bahari Indonesia,” ujar Menpar
Arief. (brn)





Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan