Ubah Keterangan Soal Perintah Menembak Brigadir J

Redaksi author photo

Nabiila Nur Syofiiyah.


Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.

 

Bharada E diperintah untuk melakukan tindak pidana yang disangkakan. Apa yang dilakukan polisi bernama lengkap Richard Eliezer Pudihang Lumiu ini adalah spontanitas_diperintah untuk menembak Brigadir Yosua saat masih hidup.


Bharada Eliezer menembak karena mendapatkan tekanan dari atasannya yang juga ada di lokasi. Namun, sosok atasan yang dimaksudkan itu masih enggan untuk dibocorkan.


Sebenernya Bharada E masih memepunyai waktu untuk berpikir kembali, apakah harus mengikuti perintah atasannya untuk menembak kakak letingnya itu, atau menolak dan tidak menembak Brgadir Yoshua. Tetapi  kemunkinan besar Bharada E akan mendapatkan konsekuensi kalau tidak mengikuti perintah. 

 

Pada awal pengakuan Ferdy Sambo soal penembakan, mengatakan bahwa dia menyesal tidak menembak langsung anak buahnya itu. Sambo beralibi tidak berada di lokasi peristiwa 8 Juli tersebut. Pihak kepolisian menyatakan kasus pembunuhan Nopryansah Yosua Hutabarat sebagai peristiwa tembak-menembak antara Brigadir J dengan Bharada E.


Pemicu penembakan pun masih disebut terjadi karena dugaan pelecehan seksual terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Pelecehan seksual itulah yang disebut membuat Ferdy Sambo menyesal tidak menghabisi Brigadir J secara langsung. Akan tetapi, belakangan polisi mengungkap bahwa cerita tembak-menembak termasuk pelecehan seksual adalah skenario yang dibuat Sambo dalam rencana pembunuhan Brigadir J. Di pengakuan Ferdy Sambo yang baru mengatakan kalau dia mengaku tidak memerintah Richard Elizer alias Bharada E menembak Brigadir J, melainkan hanya menghajar. 

 

Guru Besar Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Hibnu Nugroho menyebut Ferdy Sambo bisa dinilai tidak kooperatif jika keterangannya dalam kasus kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J terus berubah. Terbaru, mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri itu mengaku tak memerintahkan Richard Eliezer atau Bharada E menembak Brigadir J, melainkan hanya menghajar. 

 

Keterangan tersebut bisa pengakuan, bisa pengingkaran. Di situlah mulai adanya suatu pengingkaran. Dahulu mengaku menembak, kok sekarang tidak. Nanti hakim akan menilai kooperatif tidaknya si Sambo.

 

Seharusnya dari awal kejadian saat mantan inspektur jenderal berpangkat dua  bintang ini ditanyai pihak berwajib soal keterangan mengenai kejadian tersebut langsung saja berkata jujur, apa saja yang terjadi dan apa saja yang dilakukan saat penembakan Brigadir Yoshua, bukan malah mengganti cerita setiap ditanyai menegenai kronologi penembakan.


Sambo dinilai tidak kooperatif dalam memberi penerangan karena mengubah-ubah keterangan. Benar mengenai mulai adanya suatu pengingkaran, karena keterangan Ferdy Sambo yang dulunya mengaku menembak dan sekarang mengaku tidak menembak. 

 

Pengakuan Sambo yang menyebut tidak memerintahkan Bharada E menembak Brigadir J nantinya akan dicocokkan dengan keterangan para saksi dan bukti-bukti. Jika ternyata pengakuan itu tidak benar, Sambo justru bisa dituding menyampaikan kesaksian palsu. Hal ini bisa memperberat hukuman mantan jenderal bintang dua tersebut.

 

Jadi kalau sampai keterangan tersangka mengelak tetapi bukti yang lain tetap kuat ya tidak mempunyai nilai, justru malah nanti dinilai mempersulit, bohong, dan sebagainya. Mungkin lebih baik jika Sambo di biarkan untuk mengelak bahwa dia tidak memerintahkan Bharada E untuk menembak Brigadir J, karena nanti seiring berjalannya waktu bukti-bukti dan juga saksi-saksi yang ada akan terkumpul dengan sendirinya dan Sambo terbukti bersalah dan memerintahkan untuk menembak Brigadir J. 


Sambo bukan satu-satunya tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Ada empat tersangka lainnya, Putri Candrawathi, Richard Eliezer atau Bharada E, Ricky Rizal atau Bripka RR, dan Kuat MA’ruf. Kelimanya disangkakan perbuatan pembunuhan berencana dan dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). 

 

Ancaman pidananya maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama-lamanya 20 tahun. Memang benar adanya kalau Sambo bukan satu-satunya tersangka dalam kasus ini masih ada tersangka lain, yakni empat tersangka yang sudah di sebutkan, nantinya mereka sangat harus menerima hukuman yang sesuai dengan ketentuan yang ada dan berlaku sama dengan yang sudah di tuliskan. 

 

Melihat perkembangan terkini kasus Sambo, tak menutup kemungkinan mantan perwira tinggi Polri itu bakal mengubah atau mencabut keterangan-keterangan ketika diadili di meja hijau. Bisa saja keterangannya berubah atau mencabut kesaksian-kesaksian sebelumnya. Mungkin sekali.

 

Makanya, di sinilah jaksa selalu bicara pada bukti-bukti yang akurat. Kendati proses hukum di pengadilan diprediksi tidak mudah, peluang Sambo untuk dijatuhi hukuman maksimal masih terbuka lebar. Masih ada peluang terbuka untuk Sambo dihukum mati. Dan juga masih bisa ditambah dengan beberapa saksi. Yang sudah mulai membuka mulut untuk menyatakan kebenaran terhadap kasus penembakan Brigadir Yosua Hutabarat.

 

Dalam persidangan pekan lalu, dapat disimpulkan bahwa sudah mulai menemukan titik terang terhadap kasus ini. Namun Ferdy Sambo tetap kukuh terhadap pernyataan awalnya. Akan tetapi skenario Ferdy Sambo sudah mulai terungkap. Dengan begitu, kemungkinan Ferdy Sambo diberikan hukuman yang berat lagi, jelas masih bisa. Dan masih ada saksi dari para ART Ferdy Sambo yang rumit dan berbeli-belit dalam memberi keterangan, yang akhirnya membuat kesan kasus penembakan Brigadir Yosua Hutabarat sama dengan sinetron. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini