Judi Online: Penyakit yang Tak Kunjung Sembuh

Redaksi author photo
Kinanthi Aisyah Fiilail Armadhana.

Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang

 

Dewasa ini, di era 5.0 yang mana mayoritas masyarakat kerap menggunakan alat canggih (gadget) hampir dalam berbagai hal. Mulai dari komunikasi jarak jauh, hingga pembelian jarak jauh (belanja online). Tak lepas daripada itu, suatu kejahatan juga masuk didalamnya seperti perjudian.

Keamanan dalam membatasi pengguna gadget tentunya sudah diatur oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO), dibuktikan dengan adanya trouble server atau tidak dapat di aksesnya aplikasi atau situs perjudian tersebut. Akan tetapi hal tersebut tidak juga efektif dalam menanggulangi kasus tersebut karena pada dasarnya pusat pengendalian aplikasi dan situs judi online tersebut berada di luar negeri.

Masyarakat Indonesia memang tidak bisa mengakses sebuah aplikasi atau situs yang dibatasi atau tidak diberi izin oleh KOMINFO. Akan tetapi banyak cara untuk menembus batas tersebut  salah satunya dengan memakai Virtual Private Network (VPN), yakni Sebuah cara aman untuk mengakses local area network yang berada pada jangkauan tertentu seperti luar negeri, dengan menggunakan internet atau jaringan umum lainnya untuk melakukan transmisi data paket secara pribadi. Tentunya, hal tersebut malah memudahkan masyarakat dalam penggunaan aplikasi atau situs judi online.

Perjudian pada hakekatnya bertentangan dengan Agama, Kesusilaan dan Moral Pancasila, serta membahayakan bagi penghidupan dan kehidupan masyarakat, Bangsa dan Negara. Oleh karena itu perlu diadakan usaha-usaha untuk menertibkan perjudian, membatasinya sampai lingkungan sekecilkecilnya, untuk akhirnya menuju kepenghapusannya sama sekali dari seluruh wilayah Indonesia.

Salah satu penyebab maraknya judi online di Indonesia adalah adanya pandemi covid-19 yang menimbulkan masyarakat tidak bisa beraktivitas di luar rumah. Dan hal tersebut menjadikan masyarakat merasa jenuh, serta pendapatan pekerjaan mereka berkurang bahkan hingga habis. Maka dari itu, masyarakat kerap memanfaatkan judi online sebagai lahan pendapatan mereka yang lumayan banyak.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan pandemi Covid-19 yang menghancurkan banyak perekonomian keluarga menjadi faktor utama mengapa banyak orang terjebak pada judi online. Judi online, kata Devie, seakan memberikan ‘jalan alternatif’ kepada masyarakat yang ingin mendapatkan tambahan pendapatan (bbc.com, 7 Januari 2023).

Selain itu, ada beberapa dampak yang dialami oleh pengguna judi online. Misalnya krisis ekonomi. Ini bisa saja terjadi akibat kalah berjudi yang berimplikasi pada “kecanduan” yang bisa saja merangsan keinginan untuk terus berjudi. Dilansir dari halodoc.com, kecanduan judi online memiliki banyak dampak negatif, baik psikologis, fisik, maupun sosial. Dari sisi psikologis, orang yang mengalami kecanduan judi online dapat mengalami beberapa hal seperti depresi, stress, perasaan putus asa, tidak berdaya, bahkan bisa mencelakai diri sendiri dan orang lain. 

Dampak berikutnya yaitu terganggunya kesehatan mental. , tak hanya sebuah krisis ekonomi, kekalahan dalam permainan judi online juga menyebabkan kesehatan mental seseorang terganggu. Seperti Gambling Disorder. Hal ini dapat membuat seseorang nekat melakukan apapun untuk bisa berjudi dan mendapatkan keuntungan besar dengan waktu yang singkat. Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu menjual barang-barang yang ada di rumah, dan melakukan tindak kriminal lainnya. Depresi bisa terjadi apabila seorang yang kecanduan berjudi online banyak kehilangan taruhan alias kalah. Dengan begitu, memungkinan penjudi berutang akibat gangguan emosional dan fisik yang parah. Efek samping selanjutnya adalah kecemasan yang berlebihan (halodoc.com, 7 Januari 2023).

Bahaya judi online lainnya yakni memengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan kriminal. Adanya krisis ekonomi yang berkelanjutan, besar kemungkinan seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, salah satunya adalah mencuri, merampok dan lain sebagainya. Penyalahgunaan data pribadi, yang mana tidak dapat dipungkiri bahwa data yang kita masukan ke jejaring sosial luar negeri dapat disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Secara hukum, judi online termasuk salah satu perbuatan tindak pidana. Ini atur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023 / KUHP Baru Pasal 334 dengan ancaman pidana 10 tahun penjara dan denda Rp. 75 juta, dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 27 ayat (2) juncto Pasal 45 ayat (1) dengan ancaman pidana 6 tahun penjara dan denda 1 miliyar rupiah.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwasanya judi online yang sampai sekarang masih sering terjadi kerap disebabkan oleh kurangnya keamanan di bidang teknologi informasi. Serta suatu gejala ekonomi yang juga dapat menimbulkan seseorang dapat terjerumus dalam perjudian tersebut. Maka dari itu, sebaiknya pemerintah segera menanggulangi kasus perjudian online ini dengan mengetatkan pertahanan dan keamanan dibidang teknologi dan informatika yang semakin berkembang setiap tahunnya. Serta berusaha agar perekonomian yang ada di Indonesia dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kemiskinan lagi. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini