Anggota Sabhara di Polda Malut Diduga Jadi Korban Penganiayaan Polisi Senior

Redaksi author photo
Yati Idrus saat menemati anaknya Rahmat Gazali di Ruang Observasi IGD RSUD Chasan Boesoirie Ternate. Anggota Polri angkatan 47 Tahun 2021 ini tembaring lemas di tempat tidur pasien.

TERNATE, BRN
- Yati Idrus tak kuasa menahan tangis saat mengantarkan anaknya, Rahmat Gazali di Instalasi Gawat Darurat RSUD Chasan Beosirie Ternate. Rahmat merupakan anggota sabhara di Polda Maluku Utara.

Yati mengatakan, sebelum dilarikan ke rumah sakit, anaknya itu sempat mengeluarkan busa ketika tiba di rumah, Kelurahan Maliaro, sekira pukul 03.00 dinahari. Ini terjadi saat pulang dari piket jaga di Polres Ternate.

Wanita 50 tahun ini menduga buah hatinya itu menjadi korban penganiayaan polisi senior.

Sampe di rumah jam 03.00, kemudian di jam 04.00 dinihari torang ke rumah sakit. Ini sudah ulang-ulang kali, tapi Amat tara carita (tidak memberitahu) kalau yang pukul itu sapa (siapa).  Dia hanya bilang tara usah sudah karena nama baik institusi," kata Yati, saat ditemui di IGD RSUD Chasan Boesoirie Ternate, Sabtu pagi, 14 Januari.

Yati mengaku sudah berulang kali menanyakan siapa terduga pelakunya. Hanya saja putranya itu selalu diam.

“Alasan menjaga nama baik institusi. Motifnya apa tidak tahu”.

“Amat ini anggota Sabhara di Polda Maluku Utara, tapi sekarang ada jalani hukuman (sanksi) akhirnya dia ditugaskan piket di Polres Ternate selama dua bulan. Terus saya bilang, kan so (sudah) jalani hukuman tapi masih pukul terus. Alasan dia disanksi juga saya tidak tahu,” ucapnya.

Rahmat Gazali sebelumnya mengalami tindakan serupa saat mengikuti pembinaan di SPN Polda Maluku Utara di Sofifi. Kendati begitu, Yati tidak mengingat kapan waktu kejadian.

“Pernah di rongseng tapi hasil tidak tahu seperti apa, torang so minta tapi tidak di kasih,” katanya.

Ia meminta kasus dugaan penganiayaan ini perlu ditangani seterang mungkin. Polda Maluku Utara agar tidak mendiamkan masalah ini.

Ayah korban, Yamin Lampa mengaku sudah mendatangi Bidang Propam Polda Maluku Utara untuk membuat laporan.

“Cuma di propam (bagian pengaduan) tarada (tidak ada anggota piket). Saya sudah titip nomor di anggota di pos jaga, kalau mereka sudah ada baru mereka hungungi. Itu baru saya buat aduan,” ucapnya.

Musa Idrus, paman Rahmat menambahkan, sebelum keponakannya jatuh pingsan, sempat mengungkapkan kalau ia dipukul secara bergantian oleh enam seniornya. Rahmat dibawah dan hajar tepat di Gudang Bulong, Kelurahan Maliaro, lingkungan Batu Anteru.

“Itu dia bilang waktu Pak Hariyanto (Anggota DPRD Kota Ternate) antar ke rumah sakit,” tambahnya. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini