Pengamat Hukum dan Ahli Hukum

Redaksi author photo
Zulafif Senen, S.H., M.H.,CSRP.,CLMA.

Penulis adalah akademisi hukum dan alumni Pascasarjana Universitas Islam Indonesia.

 

Fenomena hukum kian marak terjadi, satu demi satu mulai bervariasi tatacara orang melakukan kejahatan. Kejahatan yang awalanya kejahatan tradisional menjadi kejahatan yang modern atau dapat disebut canggih.

Hal tersebut tidak terlepas daripada perkembangan suatu zaman, perkembangan zaman seperti teknologi dan informasi. Bahkan hal demikian juga sempat disampaikan oleh tuan guru Prof. Dr. Jacob Elfinus Sahetapy, S.H. beliau pernah mengatakan “Makin berkembangnya suatu zaman, maka makin berkembang juga suatu kejahatan itu sendiri”. 

Fenomena Hukum 

Homo homini lupus “Manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnyaadalah sebuah ungkapan pertama kali dicetuskan dalam karya Plautus berjudul Asinaria (195 SM lupus est homo homini dan disempurnakan didalam buku yang berjudul De Cive tahun 1651.oleh Thomas Hobbes. Perkataan tersebut seharusnya menjadi sebuah warning bahwasahnya sifat serakahnya manusia juga dipengaruhi oleh perkembangan zaman serta tingginya hasrat diri namun minimnya usaha yang dilakukan tersebut.

Perkembangan suatu zaman memberikan pengaruh juga dalam perkembangan suatu kejahatan. Banyak diantaranya kejahatan yang canggih atau sesuatu yang memberikan peluang kejahatan itu terjadi namun hukum sendiri belum mengakomodirnya didalam sebuah aturan yang berlaku saat ini sehingga banyak diantaranya melahirkan kerancuan dalam menganalisis serta terdapat multi interpertasi didalamnya hingga yang paling parahnya lagi kerapkali dalam menganalisis mengedepankan analogi diatas segalanya yang sebenarnya analogi tersebut dalam hukum pidana itu sendiri diposisikan paling ahir didalam menganalisis suatu fenomena hukum 

Pengamat Hukum 

Berbagai fenomena hukum yang terjadi mulailah bermunculan bahkan kemunculan fenomena hukum yang disebabkan karena perkembangan suatu zaman itu sendiri tidak terlepas daripada pendapat khalayak umum, satu diantaranya adalah seseorang yang hadir dan kerapkali mengatakan diri sebagai seorang pengamat hukum. Jika melihat daripada terminology pengamat diambil dari istilah amati atau mengamat yang secara bahasa adalah serangkaian perilaku melihat secara kasat mata tentang suatu objek dan kemudian di simpulkan melalui prespektif sendiri. 

Pengamat sendiri merupakan subjek atau orang sedangkan pengamatan adalah perbuatannya, dikatakan sebagai seorang pengamat hukum tidak terlepas daripada seseorang yang melihat suatu fenomena yang terjadi dan diberikan kesimpulan melalui prespektif sendiri. Pengamat adalah siapa saja dan tidak harus orang hukum dapat melakukan pengamatan dengan prespektifnya sendiri akan suatu objek yang dia lihat ataupun dia amati secara seksama. 

Ahli Hukum 

Fenomena hukum yang marak terjadi tidak terlepas daripada perkembangan teknologi dan informasi itu sendiri. Kemunculan fenomena hukum tersebut memunculkan seseorang yang atas keahlian keilmuan pada suatu bidang ilmu tertentu yang dipelajari secara bertahun-tahun. Secara terminology ahli ialah mahir atau pandai yang secara bahasa dapat pula dikatakan bahwa ahli adalah kepandaian pada satu bidang ilmu terntentu yang dengan keahliannya tersebut mampu memberikan suatu kesimpulan yang terang dan bahkan dapat dipertanggungjawabkan secara etika keilmuan.

Ahli hukum adalah seseorang yang memiliki kemampuan pada suatu bidang keilmuan pada bangku pendidikan perkuliahan tersebut, data dikatakan ahli dikarenakan keilmuan tersebut adalah murni dipelajari sejak Strata 1 (S1), Strata 2 (S2) dan bahkan Strata 3 (S3) yang mana keberlanjutan keilmuan masih memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain serta pisau analisis yang dipakai dapatlah dipertanggungjawabkan secara etika keilmuan maupun dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Dikatakan sebagai seorang ahli hukum tidaklah muda dan setiap apa yang diucapkan mampu dipertanggungjawabkan secara baik sebab dia yang dikatakan ahli wajib memberikan dasar hukum atas apa yang dia sampaikan ke khalayak umum tersebut, bahkan hal tersebut sesuai dengan adagium hukum “Actori incumbit onus probandi” siapa yang mendalilkan maka dia harus membuktikan atas apa yang dia dalilkan tersebut. Seorang yang katakan sebagai ahli tidak terlepas daripada etika keilmuan yang dipelajari selama bertahun-tahun. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini