Harita Nickel Resmikan Pabrik Pemurnian Berkapasitan 780 Ribu Ton per Tahun

Redaksi author photo

Technical Support Head Harita Nickel, Rico Windy Albert memberikan sambutan dalam acara peresmian pabrik feronikel PT. HJF.

HALSEL, BRN
- Smelter PT Halmahera Jaya Produksi (PT HJF) resmi beroperasi. Beroperasi pabrik pemurnian di Desa Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Pulau Obi, Halmahera Selatan itu setelah diresmikan PT. Harita Nickel, perusahaan grop yang menaungi PT HJF, Selasa, 18 September.

Head of External Relations Harita Nickel, Stevi Thomas menyatakan, smelter tersebut ditargetkan memproduksi sekitar 780 ribu ton feronikel per tahun. Dibangun dengan delapan line produksi, smelter feronikel PT HJF ditargetkan mencapai kapasitas produksi penuh pada 2023 mendatang.

Meskipun baru satu line produksi, sambung Stevi, mulai beroperasinya PT HJF adalah berkat kerja sama yang luar biasa dari tim produksi Harita Nickel di site Obi. Para karyawan PT HJF yang memiliki berbagai latar belakang mampu bekerja sama dengan penuh dedikasi sampai hari ini sehingga bisa mewujudkan produksi perdana PT HJF.

“Setahun yang lalu, Harita Nickel meresmikan beroperasinya PT Halmahera Persada Lygend (PT HPL) yang memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama baterei kendaraan listrik. 16 bulan kemudian kita bisa meresmikan pengoperasian pabrik PT HJF yang memproduksi feronikel,“ kata Stevi, dalam keterangan persnya yang diterima redaksi brindonews, Selasa malam.

Manajemen Harita Nickel, lanjut Stevi, menyampaikan terimakasih atas semua dedikasi dan kerjasama karyawan PT HJF hingga sampai ke titik ini.

“Tentunya banyak tantangan teknis dan non teknis selama tiga tahun ini. Tantangan belum selesai, baru satu line produksi, masih ada 7 line, masih harus bekerja keras, mudah-mudahan tahun depan bisa tuntas semua line dan kita berharap berjalan dengan aman dan selamat,“ katanya.

Acara peresmian beroperasinya pabrik PT. HJF di Desa Kawasi.

Technical Support Head Harita Nickel, Rico Windy Albert menegaskan, saat ini hanya satu line yang baru bisa dioperasikan untuk produksi perdana. Selanjutnya target produksi beberapa line akan dilakukan secara bertahap dan ditargetkan pada semester pertama 2023 PT HJF sudah mengoperasikan delapan line produksi.

Rico mengungkapkan, total tenaga kerja yang dibutuhkan untuk beroperasinya PT HJF secara penuh diperkirakan mencapai sekitar 5,000 tenaga kerja. “Saat ini dengan satu line produksi saja tenaga kerja yang terserap mencapai 2.600 karyawan,” katanya.

Untuk tenaga kerja, PT HJF berupaya untuk merekrut tenaga kerja lokal dari Halmahera Selatan khususnya dan umumnya dari Maluku Utara. Salah satunya adalah dengan menggelar roadshow rekrutmen tenaga kerja di Labuha, Halmahera Selatan dan Desa Laiwui, Kecamatan Obi, Pulau Obi.

“Dari tenaga kerja yang terserap sekitar 65 persen berasal dari Maluku Utara,” tandasnya. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini