Gegara Tanah, Ahli Waris Gugat Oknum Dosen Unkhair Ternate

Redaksi author photo

Gedung Rektorat Unkhair Ternate.

TERNATE, BRN
- Kuasa hukum Sarlis A. Rongaua, Muhammad Konoras memasukan gugatan baru di Pengadilan Negeri Ternate. Langkah ini dilakukan setelah perkara sengketa tanah dengan Tergugat Sugeng Hariyonato yang ditangani diputus Niet Ontvankelijke atau Putusan NO dari pengadilan dimaksud.

Sugeng Hariyonato adalah seorang dosen di salah satu fakultas di Unkhair Ternate.

Konoras mengatakan putusan NO yang diterima kliennya dirasa tidak masuk akal. Sebab, menurutnya, tidak diterimanya gugatan menurut pertimbangan hakim yang tidak sesuai.

“Setelah saya baca dan teliti putusannya, ternyata putusan itu menyesatkan. Karena pertimbangannya bahwa Sarlis tidak mampu membuktikan atau menunjukan keabsahan (semacam surat dari orangtua Sarlis yang menerangkan bahwa tanah tersebut benar sudah diwariskan ke Sarlis). Padahal dalam perspektif tata tertib hukum acara perdata, ketika orangtua (pemilik) sudah meninggal dunia, maka secara otomatis beralih ke anak. Dari mana orang sudah meninggal dunia harus membuktikan dengan surat pengalihan kepemilikan hak,” katanya ketika ditemui di Kelurahan Fitu, Ternate Selatan, Sabtu sore, 8 September.

Konoras menilai, tidak diterimanya gugatan menurut pertimbangan hakim yang tidak sesuai tersebut terindikasi banyak kejanggalan. Tanda tangan saksi dalam surat jual beli dan penjual merupakan dua kejanggalan lain yang ditemukan.

“Jadi dalam surat jual beli tertera nama Munir Subuh selaku saksi dan Nurmin Husain selaku pembeli. Keduanya sesungguhnya bukan sebagai pemilik dan pihak yang mengetahui. Di mana faktanya, saat dikonfortir dalam persidangan gugatan kedua, tanda tangan saksi Munir Sabtu jauh berdeba dengan tanda tangan sebelumnya dalam surat jual beli itu. Bahkan sampe tiga kali tanda tangan. Karena itu, menurut saya ini jual beli fiktif,” ucapnya sembari menambahkan gugatan kedua yang dilayangkan itu sudah memasuki pembuktian.

Sarlis A. Rongaua menceritakan, transaksi jual beli tanah seluas 3 ribu meter persegi milik orangtuanya itu terjadi pada 1998 silam. Meski begitu, ia sendiri belum tahu pasti tanah yang kini menjadi ahli waris bersama tiga saudaranya itu berpindah tangan.

“Pak Munir Sabtu mengaku itu bukan tanda tangannya, dan ini dikatakan dalam sidang, begitu juga begitu juga Najwia Kasturi selaku ahlis wari dari Nurmin Husain. Dalam sidang Najwia mengaku kalau orangtuanya tidak memiliki sebidang tanah di Kelurahan Fitu, apalagi sampai menjual ke pihak lain,” ucapnya.

Selaku penggugat, Sarlis meminta agar hakim Pengadilan Negeri Ternate berlaku adil dalam memutus perkara. Tetap berpegang pada kode etik dan pedoman perilaku hakim. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini