Wasapada Bahaya Merkuri di Perairan Laut Halmahera

publisher: BrindoNews.com author photo

Rafiq Kailul.

TERNATE, BRN
- DPW BARIKADE 98 Provinsi Maluku Utara menyoroti penggunaan merkuri di sejumlah perusahaan tambang yang belakangan mulai mencemari laut Halmahera. Dampak negatif cairan Raksa atau hydrargyrum itu perlu diwaspadai. 

Ketua DPW BARIKADE 98 Provinsi Maluku, Rafiq Kailul menyebutkan, aktivitas perusahaan-perusahaan tambang di Halmahera Utara, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, dan Halmahera Selatan banyak menggunakan merkuri. Rata-rata perseroan tidak memperhatikan faktor lingkungan maupun pH sebelum melepas ke ruang bebas.

“Banyak temuan di lapangan. Penggunaan merkuri dalam prosesnya (limbah merkuri) dibuang di sekitar-sekitar sungai yang tentunya terakumulasi dengan sedimen sungai kemudian terbawa aliran air hingga ke laut lepas. Tentu ini berpotensi terjadi pencemaran laut,” kata Rafiq, dalam keterangan tertulisnya yang diterima brindonews.com, Rabu malam, 2 Maret 2022.

Opik sapaan akrabnya, ikan laut yang kita makan selama ini jika dilakukan penelitian sudah pasti terkontaminasi merkuri, dimana ada rantai makanan disitu.

Rafiq mencontohkan seperti kasus di perairan Teluk kao, Halmahera Utara; luapan limbah di Sungai Monoropo, Halmahera Timur; dan perairan Kawasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan.

Menurut Rafiq, contoh kasus tersebut tak luput dari penggunaan merkuri. Itu sebabnya, kata Rafiq, perlu adanya langkah preventif dari pemerintah, terutama meninjau sekaligus mengevluasi kepatuhan Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2019.

“Mangrove, lamun, terumbu karang, terutama ikan yang menjadi sumber pangan masyarakat sudah pasti terganggu di tahun mendatang, jika tidak diatasi segera,” ucapnya. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini