Polisi Selidiki Dugaan Galian C Illegal Berkedok Pembangunan Masjid

publisher: BrindoNews.com author photo

Lokasi Galian C milik Acang, yang berlokasi di Desa Wayamiga, Kecamatan Bacan, Halmahera Selatan.

HALSEL, BRN
- Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Halmahera Selatan mulai menyelidiki aktifitas Galian C illegal di Desa Wayamiga, Kecamatan Bacan. Ini dilakukan setelah pihak polisi menerima laporan masyarakat setempat perihal Galian C tersebut tanpa dilengkapi izin. 

Usaha yang diadukan itu diketahui milik HS alias Acang. Lokasinya terletak di Jalan Metro Sayong, Desa Wayamiga, Kecamatan Bacan, Halmahera Selatan.

Terlaksananya bisnis ini setelah Acang bersama pemilik lahan SH alias Sahrin sepakat berkejasama pada awal Februari 2022. Sahrin adalah warga Desa Wayamiga.

“Kami mulai lakukan penyelidikan terkait tindak pidana di bidang minerba (galian C) yang berlokasi di Area Dodola, Desa Wayamiga yang dilaporkan warga setempat beberapa waktu lalu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Halmahera Selatan, Iptu. Aryo Dwi Prabowo, Kamis kemarin, 3 Maret 2022.

Aryo mengatakan, saat pihaknya menerima laporan, dirinya langsung menerjunkan anggotanya di lokasi. Hasil pemeriksaan di lokasi, ditemukan operator alat berat, BMH alias Boby sedang mengerukan tanah menggunakan eksavaktor.

“Anggota kemudian me-interview Boby di lokasi galian C. Hasilnya, Boby mengaku bahwa alat berat (eksavator) yang dikemudikan itu milik HS alias Acang. Boby juga mengakui kalau dirinya diperintahkan Acang untuk membawa alat berat ke lokasi galian C,” ucapnya.

Aryo menyebutkan anggota juga menanyakan ihwal dokumen izin ke Acang dan SH selaku pemilik lahan. Acang maupun SH tidak dapat menunjukkan dokumen izin resmi dari pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara.

“Ketiganya langsung digiring ke Polres Halmahera Selatan dan di-interview lebih lanjut. Setelah itu, pada 24 Februari 2022, penyidik melayangkan surat panggilan pemeriksan kepada HS dan Acang, namun HS mangkir tanpa alasan. Kemudian pada Rabu, 2 Maret 2022, anggota kembali turun di lokasi galian C, dan anggota temukan aktifitas galin C masih berlangsung. Boby selaku operator alat berat, pengawas dan supir dumtruck kita bawa ke kantor dan memintai mereka keterangan,” ujarnya.

Dari keterangan HS, kata Aryo, aktifitas galin C tersebut beroperasi sejak 9 Febuari 2022, dan tidak memiliki izin dari dinas terkait. Diduga illegal karena hanya berdasarkan surat keterangan dari Pemerintah Desa Wayamiga perihal normalisasi, tertanggal 14 Februari 2022.

Namun dari hasil pemeriksaan terhadap HS, ia mengaku hanya mengantongi surat jual beli tanah. material tanah yang dijual tersebut sebagian disumbangkan untuk keperluan pembangunan Masjid Desa Wayamiga, sebagiannya lagi masuk ke kantong HS, dan sebagian lagi disetor ke pemilik lahan.

“Namun, sampai sekarang HS belum setor uang ke pemilik lahan untuk disumbangkan ke masjid. Penyidik juga memeriksa JL, pengawas galin C milik HS. JL bertugas mencatat setiap muatan material tanah yang dijual keluar,” sebutnya.

Menurut penjelasan JL, sambung Aryo, material tanah dijual per satu ret sebesar Rp 60 ribu. Uang ini kemudian dibagi ke panitia pembangunan masjid dan pemilik lahan masing-masing Rp. 10 ribu. Sedangkan sisanya disetor ke HS.

“Hasil penyelidikan penyidik bahwa, pemilik alat berat hanya memanfaatkan warga Desa Wayamiga melakukan aktifitas galian C dengan dalil membantu pembangunan panitia masjid. Kami terus lakukan penyelidikan hingga masalah ini ada titik terang. Rencananya, Senin pekan depan kami agendakan meminta keterangan ahli di dari Dinas ESDM Provinsi Maluku Utara,”ujarnya. (PM/brn)

Share:
Komentar

Berita Terkini