Tidak Selesai Tepat Waktu, LPP-Tipikor Desak Kejati Lidik Proyek IPAL di Kususinopa

publisher: BrindoNews.com author photo

Proyek IPAL di Desa Kususinopa.

TERNATE, BRN
- Pekerjaan instalasi air limbah atau IPAL di Desa Kususinopa, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, menyisakan masalah. Salah satunya upah tukang yang tidak sesuai kesepakatan. 

Para tukang hanya menerima upah sebasar 17 persen dari nilai pagu proyek Rp500 juta. Padahal dalam kesepakatan pihak rekanan harus membayarkan upah tukang sebesar 30 persen.

Selain masalah pembayaran ongkos, Pekerjaan dengan nomor Kontrak: 600/PPK-SPK.1/DAK-SAN/12/2021 dengan  anggaran Rp500 juta ini mengalami keterlambatan alias tidak dapat diselesaikan sesuai waktu kalender. Termasuk ada dugaan monopoli kepala desa setempat.

“Setiap pencairan, anggarannya hanya dikelola kepala desa tanpa melibatkan KSM. Aksam Jaya selaku pelaksana,” ucap salah satu warga Kususinopa yang meminta tidak disebutkan identitasnya.

Warga Kususinopa ini mengatakan, persoalan pembayarang ongkos pekerja dan dugaan monopoli tersebut sudah menceritakan kepada salah satu lembaga swadaya masyarakat.

“Saya cerita di LSM LPP-Tipikor Maluku Utara,” tambahnya.

Sekretaris Jendral LPP-Tipikor Maluku Utara, Sukri Ansar dikonfirmasi mengaku kalau ada warga Kususinopa bertemu dengannya, dan menceritakan ihwal dimaksud.

Sukri mengatakan, berkaitan dengan program kegiatan pengelolaan dan pengembangan sistem air limbah domestik terpusat skala permukiman jenis IPAL skala permukiman kombinasi MCK di Desa Kususinopa itu perlu dikawal.

Sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, lanjut Sukri, secara kelembagaan bakal menyurat ke penegak hukum. Mendesak kepada Kejaksaan Tinggi Maluku Utara segera memanggil dan memeriksa Kepala Desa Kususinopa atas dugaan keterlibatan langsung dalam kegiatan proyek.

“Polres dan Inspektorat Tidore Kepulauan juga sama. Segera melakukan penyelidikan dan memeriksa Kepala Desa Kususinopa atas pelibatan pada kegaiatan,” ucapnya. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini