BUMD Bahari Berkesan Catat Kerugian Tiga Tahun Beruntun

publisher: BrindoNews.com author photo

Ruang pelayanan Bank Syariah PT. BPRS Bahari Berkesan. (Foto:ANTARA)

TERNATE, BRN
- Dua Badan Usaha Milik Daerah atau BUMD Kota Ternate masih mencatatkan rugi. Anehnya, kerugian saldo penyertaan modal tersebut terjadi tiga tahun berturut-turut.

Misalnya PDAM Kota Ternate. Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, perusahaan penyedia air bersih itu mengalami kerugian. Tahun 2018 rugi sebesar Rp1.235.756.466,00, kemudian di 2019 sebesar Rp1.268.199.939,46, dan Rp1.813.317.077,85 di tahun 2020.

Kondisi yang sama terdapat dalam laporan keuangan PT. Ternate Bahari Berkesan yang tidak menggambarkan kerugian. Saldo penyertaan modal per 31 Desember 2020 sebesar Rp27.609.016.751,58 dan per 31 Desember 2019 sebesar Rp27.306.579.025,34, atau bertambah sebesar Rp302.437.726,24. Nilai penyertaan tersebut berasal dari laporan keuangan tiga BUMD yaitu PT. Ternate Bahari Berkesan sebagai perusahaan induk, PT. Alga Kastela dan PT. BPRS Bahari Berkesan. 

PT. Ternate Bahari Berkesan memiliki dua anak perusahaan yaitu PT. Alga Kastela Bahari Berkesan, dan PT BPRS Bahari Berkesan. Holding company ini punya tiga unit usaha sumber pendapatannya, masing-masing satu unit speedboat, mesin penggiling daging, dan apotek yang dikelola oleh PT. KF (Kimia Farma). 

Speedboat  

PT. Ternate Bahari Berkesan mengoperasikan speedboat berkapasitas 45 orang dengan rute Ternate-Jailolo. LHP BPK Perwakilan Maluku Utara nomor 03.A/LHP/XIX.TER/05/2021, menyebutkan kapal cepat berbahan fiber itu dikelola oleh oknum PNS dinas koperasi inisial S, dan memiliki penghasilan kotor rata-rata per bulan Rp20.000.000,00. Sedangkan penghasilan bersih rata-rata Rp8.000.000,00 per bulan setelah dikurangi honor awak kapal empat orang, biaya bensin, biaya pemeliharaan, dan lainnya. 

Mesin Penggiling Daging
sumber pendapatan lainnya yaitu mesin penggilingan daging. Penghalus daging ini dioperasikan di Pasar Barito oleh seorang karyawan berinisial Y. Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK, rata-rata pendapatannya sebesar Rp5 juta.
 

Apotek 

Kerjasama pengelolaan apotek dengan PT KF berdasarkan Perjanjian Kerjasama Nomor 074/DIR/PKS-TBB/XII/2019. Kesepatan ini diketahui PT. Ternate Bahari Berkesan mendapatkan tiga persen bagi hasil dari penjualan apotek. 

PT. KF membeli persediaan obat-obatan, alat-alat kesehatan, dan perbekalan farmasi lainnya melalui PT Ternate Bahari Berkesan dengan harga ditentukan oleh holding company. Pengawas dari PT Ternate Bahari Berkesan menerika honornya 30 persen dari pendapatan apoteker pengelola apotek dibayar oleh PT KF. Diketahui juga kerjasama pengelolaan apotek dengan Kimia Farma tersebut memanfaatkan tanah dan bangunan milik Pemerintah Kota Ternate, yang dipinjampakaikan kepada PT Ternate Bahari Berkesan. 

Hasil pemeriksaan terhadap laporan keuangan dan keterangan bagian keuangan dan Akuntansi PT Ternate Bahari Berkesan, diketahui bahwa dari tiga sumber pendapatan tersebut yang tercatat dalam laporan keuangan secara penuh hanya bagi hasil dari pengelolaan apotek KF alias Kimia Farma. Sementara atas pengelolaan Speedboat dan mesin penggiling daging belum masuk secara penuh dalam laporan keuangan.

Penyebabnya yaitu selama tahun 2020 pengelola belum memberikan laporan dan juga belum melakukan penyetoran atas pengelolaan. Akibatnya menunjukkan saldo yang tidak bergerak dari tahun 2019 dan tahun 2020. Penyebab lainnya yaitu laporan Keuangan PDAM tidak diaudit oleh Auditor Independen. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini