Pakai Batu Karang, Proyek Talud Oknum Anggota DPRD Malut Tuai Protes

Editor: BrindoNews.com author photo

Proyek talud penahan ombak di Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan. Tampak batu karang hanya disusun begitu saja tanpa menggunakan campuran (pasir dan semen).

HALSEL, BRN
- Pekerjaan talud penahan ombak di Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara, Halmahera Selatan, menuai protes masyarakat setempat. Pasalnya, proyek yang diduga milik oknum Anggota DPRD Maluku Utara itu menggunakan batu karang sebagai material. 

Informasi yang dihimpun brindonews.com, proyek talud penahan ombak itu melekat di Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Maluku Utara. Pekerjaan dengan nilai lebih dari Rp600 juta ini dikerjakan dalam waktu 68 hari kalender sesuai nomor kontrak 600.640/SP/DPUPR –MU/CK/APBD/Fisik-BG Lingk-26/2021. Sedangkan pelaksananya adalah CV. Herawati Pratama.

Salah satu tokoh masyarakat Samo, Arsyad Hasyim mengatakan pengambilan terumbu karang tersebut masih terus dilakukan. Padahal, eksploitasi terumbu karang mengancam keberlangsungan ekosistem laut, termasuk ikan karang.

“Saya juga heran, proyek pemerintah yang dibiayai APBD tapi materialnya pakai batu karang. Membongkar terumbu karang sama halnya merusak tempat hidup dan bertelurnya ikan,” kata Asyad ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Ahad kemarin.

Arsyad meyebutkan, penggunaan batu karang sebagai material dasar talud itu mencapai 200 kubik. Pengekspolitasi terumbu karang mulai beralih ke lokasi lain yang tak jauh dari Desa Samo.

“Awalnya didekat proyek. Namun karena kebutuhannya banyak, mereka menyasar di titik-titik yang berdekatan dengan kampung. Memang proyek ini untuk kepentingan desa, tetapi tidak harus menghancurkan terumbu karang, masih ada jenis batu lain yang layak (batu sungai),” ucapnya.

Arsyad menambahkan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara maupun Kabupaten Halmahera Selatan segera turun tangan. Sebab menurutnya, persolan ini tidak bisa didiamkan.

“Sudah tentu merusak terumbu karang. Olehnya itu, atas nama masyarakat, kami meminta dinas terkait secepatnya mengambil langkah preventif sebelum ekploitasi karang terus meluas,” ujarnya.

Perihal serupa diutarakan Jainal, Warga Desa Samo. Jainal mengatakan, pengambilan terumbu karang dengan jumlah yang banyak itu bayar oleh kontraktor.

Dorang (pihak rekanan) beli per ret. Ini masalah serius dan perlu disikapi segera. Jika tidak, kedepan dampaknya lebih parah lagi,” ujar Arif.

“Talud penahan ombak sangat bagus, tapi disisi ekosistem laut dan pesisi rusak akibat eksploitasi terumbu karang. Pemerintah (Dinas Lingkungan Hidup) dan DPRD Halmahera Selatan segera turun. Pemerintah Provinsi Maluku Utara jangan ikut mendiamkan ini,” Arif menambahkan.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair Ternate, Janib Achmad menerangkan, terumbu karang merupakan ekosistem penting di lingkungan perairan dan keberadaannya harus dilestarikan.

Menurut Janib, mengekploitasi terumbu karang  justru memberi tekanan lebih tinggi untuk pemulihan atau pembentukan koloni karang. Bahkan memakan waktu yang sangat lama dalam membentuk suatu ekosistem terumbu karang baru.

“Durasinya bisa memakan waktu sampai ribuan tahun. Manfaat utama ekosistem terumbu karang sangat luar biasa, terutama menjadi tempat tinggal ribuan biota mapun tumbuhan laut lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ucapnya.

Janid menyayangkan apa yang sudah dilakukan pihak rekanan (kontraktor). Pihak rekanan mestinya tahu kalau beragam spesies ikan dan biota ekonomis penting lainnya sangat tergantung pada terumbu karang.

“Jika sudah dirusak seperti ini, maka tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Berbagai jenis biota mencari makan dan berlindung di ekosistem ini. Karena itu nelayan sangat bergantung sepenuhnya pada ekosistem terumbu karang sebagai sumber mata pencaharian,” sebutnya. 

Dinas PUPR Maluku Utara maupun pihak rekanan belum memberikan penjelasan menyangkut persoalan dimaksud. Upaya brindonews.com mengonfirmasi kedua pihak melalui sambungan telepon belum terhubung. (red)

Share:
Komentar

Berita Terkini