Puluhan Pelanggar Prokes Corona di Ternate Terjaring Operasi Yustisi

Editor: BrindoNews.com author photo

Arif Gani: Kesadaran Masyarakat Mulai Meningkat

Satgas Covid-19 mengambil data pelanggar yang terjaring dalam operasi yustisi. Mereka selanjutnya mengikuti sidang ditempat.

Sebanyak 50 pelanggar protokol kesehatan terjaring dalam operasi yustisi Satgas Covid-19 Kota Ternate. Pelanggar yang didominasi pengendaran roda dua itu langsung disidangkan ditempat.

Kegiatan yang berlangsung di Jalan Batu Angus, Dufa-Dufa, Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara diikuti oleh personel gabungan TNI/Polri, dan instansi terkait.

Kepala Operasional Satuan Tugas atau Satgas Penanganan COVID-19 Kota Ternate, Muhammad Arif Gani menuturkan, tingkat kesadaran masyarakat Ternate akan pentingnya protap kesehatan pencegahan penularan virus corona mulai meningkat.

Trend positif ini, lanjut Arif, ditandai dengan sedikitnya pelanggar yang terjaring.

Target 100 pelanggar, namun saat operasi ditemukan hanya 50 pelanggar. Kebanyakan dari mereka alasannya masih lupa membawa masker saat beraktivitas di keluar rumah,” kata Arif, ketika disembangi brindonews di lokasi operasi, Senin pagi, 9 Agustus.

Arif mengatakan manfaat pengunaan masker saat beraktivitas di luar rumah bukan hanya melindungi atau memalisir dan menekan terjadinya resiko penularan virus corona. Selain sebagai benteng personal, salah satu contoh proteksi lainnya adalah melindungi gangguan pernapasan akibat polusi kendaraan.

“Kepentingan pakai masker ini untuk dirinya juga, sehingga kesehatan keluarga dan kesehatan lingkungannya tetap sehat,” ujarnya.

Tergantung Kategori Resiko 

Arif menambahkan, 50 pelanggar protokol kesehatan terjaring operasi yustisi di Jalan Batu Angus, Dufa-Dufa, Ternate Utara itu langsung di swab. Ini dilakukan untuk mengetahui resiko penularan.

“Kalau misalnya ada reaktif langsung kita berikan obat dan diantar pulang ke rumah menggunakan ambulance ,” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Ternate itu mengatakan, pencegahan dini berupa pemberian obat selama tujuh hari itu disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien.

“Kita lihat dulu seperti apa. Kalau kondisi tubuhnya kuat, kita lakukan isolasi mandiri di rumah. Sebaliknya, yang bersangkutan dievakuasi di rumah sakit untuk ditangani jika resiko penularannya kategori berat,” sambungnya. (eko/red)

Share:
Komentar

Berita Terkini