Resapkan dan Amalkan Pancasila

Editor: BrindoNews.com author photo

TEGUH RM SH., MH. Penulis merupakan Advokat dan Konsultan Hukum di Kota Yogyakarta.



Selasa 1 Juni 2021 Negara Indonesia  memperingati hari Lahir Pancasila, bahkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 04 Tahun 2021 tantang pedoman peringatan hari lahir Pancasila Tahun 2021   dengan Tema “Pancasila dalam Tindakan, Bersatu untuk Indonesia Tangguh”.

Perdebatan Hari lahir pancasila sebenarnya sampai saat ini belum Paripurna terbukti dengan beberapa argumentasi tokoh nasional satu diantaranya ialah Pakar hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra mengatakan “ bahwa lahirnya Pancasila bukanlah tanggal 1 juni 1945, tetapi tanggal 18 Agustus ketika rumusan final disepakati dan disahkan (ANTARA NEWS).

Tentu setiap argumentasi dalam perdebatan memiliki landasan sumber referesi yang tentu harus dapat dipertanggungjawabkan apalagi sebagai seorang insan akademis. Banyak literasi yang membahas tentang sejarah Lahirnya Pancasila yang bisa menjadi rujukan kapan Lahirnya Pancasila?. Ada yang berpendapat lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 ada juga  yang menganggap pancasila lahir 22 Juni 1945 dan 18 Agustus 1945.

Sebenarnya ada hal yang tidak kalah penting dari sekedar memperingati Hari Lahir pancasila, bukan bermaksud untuk menegasikan bahwa tidak penting Kapan hari Lahir Pancasila itu. Akan tetapi, tidak akan ada habisnya jika kita  terjebak dalam perdebatan tersebut. Paling tidak untuk saat ini Negara sudah mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, tanggal 1 Juni 1945 telah ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Sekarang adalah momentum bagi semua elemen untuk bagaimana cara mengisi kemerdekaan dengan meresapkan dan mengamalkan Pancasila itu.

Bahwa hal terpenting saat ini adalah bangaimana mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dari pancasila tersebut. Banyak nilai-nilai pancasila  sudah tidak diterapkan lagi dalam kehupan berbangsa dan bernegara. Pancasila memiliki kedudukan sebagai Dasar Negara dan Idelogi dalam berbangsa dan bernegara dapat dilihat sebagai Pandangan hidup Bangsa, Sebagai Filsafat bangsa dan negara, sebagai Dasar Filsafat Negara (Philosofische Grondslag), sebagai asas persatuan dan kesatuan bangsa indonesia dan sebagai jati diri bangsa indonesia.

Akhir-akhir ini muncul keperihatinan adanya ketidak harmonisan atara instruksi pemerintah pada masayarakat tekait memperingati hari lahirnya Pancasila akan tetapi disisi lain pemerintah sendiri mengabaikan pentingnya pendidikan terhadap pancasila. Sejak peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 tahun 2021 Tentang Standar nasional Pendidikan diundangkan Pada 31 Maret 2021. terbukti pemerintah telah menghapus Pancasila sebagai pelajaran atau mata kuliah wajib pada pendidikan nasional.

Seperti halnya dengan tujuan kita mempelajari sesuatu, lebih-lebih jika sesuatu itu merupakan ilmu pengetahuan, maka tujuan kita mempelajari Pancasila ialah ingin mengetahui Pancasila yang benar yakni yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara yuridis, konstitusional maupun secara objektif-ilmiah.

Secara yuridis-konstitusional karena pancasiala adalah dasar Negara yang dipergunakan sebagai dasar mengatur/menyelenggarakan pemerintahaan Negara. Oleh karena itu, tidak semua orang boleh memberikan atau tafsiran menurut pendapatnya sendiri. Secara objektif-ilmiah karena Pancasila suatu paham Filsafat, suatu philosophical way of thinking atau Philosophical sytem sehingga uraiannya harus logis dan dapat diterima akal sehat.

Selanjutnya Pancasila yang benar itu kita amalkan sesuai dengan fungsinya dan kemudian Pancasila yang benar itu kita amankan agar jiwa dan semangatnya, perumusan, dan sistematikanya yang sudah tepat-benar itu tidak di ubah-ubah apalagi dihapuskan atau diganti dengan paham yang lain.

Apabila kita perhatikan tujuan kita mempelajari Pancasila seperti yang dikemukakan diatas, maka akan segera kita sadari bahwa tujuan itu sebenarnya bertitik tolak pada salah satu sifat asasi manusia, yaitu sifat atau hasrat “ ingin Tahu”. Setiap manusia yang normal pasti mempunyai sifat, “Ingin tahu” ini.

Hasrat ingin tahu yang merupakan sifat asasi atau kodrat manusia itu bukan hanya sekedar ingin tahu saja, mlainkan ingin tahu yang benar. Manakala seorang sudah tahu yang benar atau telah mengetahui dengan sebenarnya tentang sesuatu, maka ia akan menghubungkan sesuatu itu dengan dirinya yaitu pemanfaatan sesuatu itu terhadap dirinya ataupun pada orang lain. Dengan kata lain seseorang akan memanfaatkan atau mengamalkan sesuatu yang benar yang telah diketahuinya dengan sebenar-benarnya itu untuk kepentingannya atau kepentingan orang lain. Inilah yang dimaksudkan mengamalkan Pancasila.

Mengingat bahwa Pancasila adalah dasar Negara, maka mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar negara mempunyai sifat Impratif/memaksa, artinya setiap warga negara indonesia harus tunduk /taat kepadanya. Siapa saja melanggar pancasila sebagai dasar negara harus ditindak menurut hukum, yakni hukum yang  berlaku di negara indonesia.

Dengan perkataan lain, pengamalan dan pelaksanan Pancasila sebagai dasar negara disertai sanksi-sanksi hukum. Pengamalan atau pelaksanaan Pancasila sebagai Weltanscauung , yaitu pelaksanaan Pancasila dalam hidup sehari-hari tidak disertai sanksi sanksi-sanksi hukum, tetapi mempunyai sifat mengikat, artinyha setiap manusia Indonesia terikat dalam cita-cita yang terkandung di dalamnya untuk mewujudkan dalam hidup dan kehidupannya, sepanjang tidak melanggar peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Nah apa ajadinya jika pendidikan pancasila dihapuskan dalam sitem pendididikan kita? Yang belajar saja banya yang tidak menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila apalagi yang tidak belajar.

Olehnya karena itu, bertepan pada hari ini 1 Juni 2021 yang secara serenpak merayakan hari lahir Pancasila bahkan menjadi hari peringatan nasional. Untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan tentu direalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar Pancasila dalam Tindakan, Bersatu untuk Indonesia Tangguh, bukan hanya sekedar selogan saja. (*)

Share:
Komentar

Berita Terkini