Antam Klaim La Nina Picu Luapan Limbah Nikel di Site Moronopo

Editor: BrindoNews.com author photo

Endapan limbah mencemari mangrove di kawasan Sungai Moronopo.

Limbah PT. Aneka Tambang (Antam) di site moronopo mencemari Sungai Moronopo, Kecamatan Kota Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara. Perusahaan plat merah tersebut mengklaim, tercemarnya vegetasi mangrove di muara sungai ini akibat tingginya curah hujan.

President  VP. HC dan CSR PT. Antam Tbk UBPN Provinsi Maluku Utara, A. Toko Susetio menyatakan, intensitas hujan bulanan pada Maret 2021 mencapai 982 mm per hari. Sedangkan hujan maksimum 250 mm per hari.

“Kejadian (meluapnya limbah di site moronopo) ini salah satunya dipicu kondisi cuaca ekstrem akibat La Nina yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Toko, Sabtu 10 April.

Toko mengatakan, Antam sebagai perusahaan negara memiliki komitmen melakukan penambangan sesuai koridor. Termasuk memperbaiki kerusakan (pasca tambang).

“Penanganan jangka pendek, menengah maupun panjang sudah kita dilakukan,” ucapnya.


Toko menuturkan PT. Antam bakal menambah kapasitas sarana pengendali erosi dan sedimentasi. Diantaranya drainase, check dam (suatu sistem pengendalian bencana alam aliran yang membawa endapan), sediment pond, sump, bronjong, terap serta pemasangan geotxtil.

Juga meminimalkan erosi menggunakan sistem penataan lahan reklamasi dan penanaman cover crop di tanggul-tanggul jalan produksi maupun di lereng-lereng gunung.

Langkah lainnya, sambung Toko, melakukan kajian waste water managemen dalam mengantisipasi curah hujan maksimum. Termasuk menyiapkan aplikasi teknologi applicable  pengelolaan aliran permukaan.

“Perusahaan juga bekerja sama dengan perguruan tinggi memaksimalkan penanaman dan perawatan mangrove di area/lokasi terdampak. Ini dilakukan sesuai hasil kajian internal dan monitoring oleh Pemerinrah dan DPRD Halmahera Timur,” katanya.

Butuh Action, Bukan Klaim

Kepala Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup Halmahera Timur, Harjon Gafur menduga, limbah yang mencemari pohon bakau di Sungai Moronopo tersebut efek dari tidak baiknya aktivitas perusahaan.

“Ini luapan hulu atau puncak pengerukan. Terhadap dampak yang ada ini karena memang kegiatan tambang di puncak tidak secara baik, dan itu tanggungjawab secara normatif PT. Antam menyelesaikan persoalan ini (pengelolaan lingkungan).”.

“Pihak Antam pernah meminta rekomendasi ijin pembuangan limbah cair, namun kami tidak mengabulkan. Permintaan ini sampai sekarang saya tidak keluarkan. Pemerintah Halmahera Timur sudah mewarning tidak ada izin yang akan dikeluarkan untuk pembuangan limba cair,” kata Harjon.

Wakil Ketua II DPRD Halmahera Timur, Idrus E. Maneke mengatakan, curah hujan tidak bisa diklaim sebagai penyebab meluapnya limbah di site moronopo.

“Perusahaan harusnya mamastikan apakah check dam  sudah betul atau belum, bukan malah mengklaim. PT. Antam tidak bisa beralasan bahwa itu terjadi sebabnya karena curah hujan,” ujarnya. (mal/red)

Share:
Komentar

Berita Terkini