Kemenko Marves RI Temukan 7 Kendala LIN di Maluku Utara

Editor: BrindoNews.com author photo

Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan berukuran sedang dari familia Skombride (Tuna). Satu-satunya spesies dari genus Katsuwonus. Cakalang terbesar, panjang tubuhnya bisa mencapai 1 meter dengan berat lebih dari 18 kilo gram (wikipedia).

Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi atau Kemenko Marves RI meninjau kesiapan Lumbung Ikan Nasional atau LIN di Tujuh daerah Provinsi Maluku Utara.

Peninjauan Tujuh wilayah yang melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian UKM itu ditemukan beberapa kendala.

Masing-masing wilayah ditemukan hambatan umum seperti minimnya sumber daya manusia, keterbatasan armada tangkap, pasokan bahan bakar, rante dingin, interkoneksi pemasran, korporasi nelayan serta sumber listrik.

Penjelasan ini membuka kegiatan rapat koordinasi LIN Maluku Utara bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Industri RI.

DR. Safri Burhanudin, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Industri RI mengatakan, Tujuh kabupaten kota yang dikunjungi atau ditinjau itu diantaranya Ternate, Halmahera Selatan, Halmahera Barat, Kepuluan Sula, Halmahera Utara, Morotai dan Tidore.

Safri mengemukakan, kendala umum yang dijumpai saat peninjauan lapangan tersebut dijadikan isu utama dalam pembahasan pada 29 Maret 2021 nanti. Setiap kendala akan dibahas secara detail dan dilakukan kajian akademis dengan melibatkan masing-masing bidang.

“Sehingga dalam kajian nanti dapat diketahui kebutuhan apa saja yang di perlukan. Misalanya dari sisi ketersediaan sumber daya manusia, nanti dari kementerian pendidikan yang menjelaskan, pasokan bahan bakar dan listrik akan dihadirkan kementerian energi dan sumber daya alam, pasokan rante dingin dari kementerian kelautan dan perikakan. Untuk interkoneksi pemasaran bidangnya kementerian perhubungan. Jadi di rapat selanjutnya akan menghadirkan beberapa kementrian terkait,” kata Safri.

Ikram Sangaji, Asisten Deputi II Bidang Koordinator Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, menambahkan, hasil rapat dalam pembahasan lanjutan pada 29 Maret nanti selanjutnya ditindaklanjuti dalam bentuk survey.

Survey bertujuan untuk melihat apa saja yang menjadi urgensi. Hasil survey selanjutnya dibikin pemetaan dan kajian akademik dengan beberapa univeritas di Maluku Utara.

“Dari situ baru kita tahu. Sehingga dapat memberikan saran dan masukan untuk memperkuat dokumen menyangkut LIN di Maluku Utara,” ucapnya.

Sekretaris Daerah Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir meminta pemerintah kabupaten kota yang masuk dalam wilayah pengembangan LIN secepatnya menyusun perencanaan konfrehensip secara keseluruhan. Ini tentunya menjawab kendala atau temuan Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI.

Samsuddin menyatakan, sarana prasarana dan infrastuktur perikanan di Maluku Utara perlu ditingkatkan. Misalnya kolstor dan pabrik es di Halmahera Selatan.

“Dari sisi d sudah over load,  sehingga daya tampungnya lebih banyak dari kapasitas tampung. Kemudian soal pasokan listrik, Kemenko Marves RI mengatakan bahwa akan menghubungi pihak PLN atau pengembang listrik swasta guna mengembangkan sehingga bisa memenuhi kebutuhan minimnya suplai listrik di daerah-daerah tersebut,” sebutnya.

“Setelah tim melakukan pemantauan, ternyata Maluku Utara sangat potensial untuk peningkatan hasil tangkapan perikanan tangkap dan pengembangan perikanan budidaya. Ini tentunya dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan armada para nelayan,” lanjutnya. (han/red)

Share:
Komentar

Berita Terkini