Sambut Hut Provinsi, Dinsos Malut Gelar Kegiatan Sadar Bencana Alam

Editor: brindonews.com


Kegiatan 

SOFIFI, BRN - Dalam rangka
menyambut HUT Provinsi Maluku Utara yang ke-21, Dinas Sosial (Dinsos), kembali melaksanakan Program Perlindungan dan Jaminan Sosial dengan melakukan kegiatan Tagana Masuk Sekolah (TMS) yang tersebar di 50 (lima puluh) titik lokasi sekolah yang terdapat di 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota.

"Tidak ada yang tahu kapan bencana datang, namun dengan pengetahuan mitigasi bencana, diharapkan dapat membangun masyarakat tanggap bencana.  Salah satu edukasinya melalui TMS, tutur Kepala Dinas Sosial Prov. Malut Andrias Thomas kepada wartawan via handphone. Rabu, (23/9)

Lanjut Andreas, masyarakat harus siap dalam menghadapi bencana, karena sebagai daerah yang dikategorikan masuk Ring Of Fire  (jalur cincin api) maka ini berarti hampir semua pulau di Malut terdapat ancaman dan juga memiliki sonasi yang tinggi, Sehingga rawan terhadap gempa seperti banjir, tanah longsor, dan rawan terhadap sunami, dan gunung meletus serta bencana-bencana yang lainnya.

Terpisah Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Malut Zulkifli mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementeri Sosial (Kemensos) Tahun 2019 tentang Mitigasi Kebencanaan di Satuan Pendidikan melalui Program (TMS).  

Lanjut Zulkifli, dalam kondisi Pandemi Covid-19 yang belum berakhir ini, pelaksanaan di Kota Ternate dan Kota Tikep, akan di laksanakan secara serentak di beberapa titik  diantaranya Kelurahan Togafo dan Kelurahan Loto yang di mulai sejak Senin, (21/9) kemarin dan pihaknya membatasi peserta masing-masing sekolah 30 - 50 termasuk Siswa  Guru.

Foto bersama usai kegiatan


Kemudian dalam upaya transformasi edukasi, Dinsos Malut melalui  TMS melakukan uji simulasi pengurangan resiko bencana gempa bumi, baik itu saat pra bencana sampai dengan pasca bencana.

Menurutnya, Sekolah merupakan satuan pendidikan menjadi salah satu ujung tombak dalam kegiatan mitigasi dan kebencanaan.  Sekolah juga adalah wadah untuk mengembangkan dan membentuk karakter pada anak-anak, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA. Sehingga apabila siswa di berikan porsi yang terkait dengan pendidikan kebencanaan, maka dengan sendirinya akan tercipta karakter dan sikap kesiapsiagaan yang lebih baik dalam menghadapi bencana di kemudian hari.

Masih Zulkifli, selain simulasi,  meminta setiap sekolah juga harus bentuk TRC siswa yang terdiri dari Tim Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Tim Evakuasi, Tim Posko, dan Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP).

"Tagana juga berusaha untuk mengubah paradigma lama, bahwa yang bertanggung jawab dalam penanganan bencana adalah pemerintah, akan tetapi sebaliknya, ini merupakan tanggung jawab setiap lapisan masyarakat," tukas Zulkifli.

Selain itu, target TMS agar peserta mempunyai pengetahuan tentang bencana, potensi dan upaya pengurangan resiko bencana pada tingkatan yang paling sederhana, sehingga mereka mampu menyelamatkan diri sendiri dan evakuasi sederhana bila terjadi bencana, ujarnya. 

Sementara Kasi Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Dinsos Malut, Rustam Senuk, mengungkapkan materi yang di sampaikan oleh Tagana, meliputi Tugas Fungsi Tagana, Pengenalan Bencana, Mitigasi dan Pengurangan Resiko Bencana, Penanggulangan Pertama Gawat Darurat (PPGD), simulasi bencana gempa bumi serta membantu mensosialisasikan Pelaksanaan Protokol Kesehatan Covid-19.

"Saya berharap siswa yang mengikuti kegiatan ini dapat merekam informasi kebencanaan serta dapat menyampaikan kepada keluarga dan masyarakat di mana siswa itu berdomisili", kata Rustam.

Sementara Ketua FK Tagana Kota Ternate, Yusuf mengatakan TMS  di Kota Ternate mendapat sambutan yang sangat positif dari pihak sekolah dan peserta.  Pihak sekolah bahkan berharap agar kegiatan ini dapat di lakukan secara berkala, dan Tagana dapat membantu terbentuknya Tim Rescue dari para pelajar, terangnya. (han/red) 

Share:
Komentar

Berita Terkini