|

Sarankan Gugus Tugas Jawab Ketidakkepercayaan Publik

Alwia Assagaf : Rekam medis tidak boleh diberikan ke pasien


Husain Alting 
TERNATE, BRN - Kepercayaan publik terhadap penanganan virus corona di Maluku Utara kian menurun. Bahkan, di bilang “merekayasa” jumlah orang yang positif agar mendapat kucuran dana yang besar dari pemerintah pusat. Terlebih, pemberitaan pun dianggap bohong alias hoaks.

Koordinator Bidang Perencanaan Gugus Tugas Penaganan Covid-19 Maluku Utara, Husain Alting menyarankan, sudah saatnya gugus tugas menjawab ketidakkepercayaan masyarakat terhadap perkembangan virus corona di Maluku Utara. Jawaban ini berupa penyajian data akurat.

Husain menyatakan, transparansi tata kelola penaganan medis dan keterbukaan data berapa banyak pasien yang dikarantina, dianggap mampu menjawab dan mengembalikan kepercayaan publik. Publik dengan sendiri sadar bagaimana dan apa upaya dilakukan mengaik penaganan covid.

“Ini yang harus di dorong bersama. Agar edukasi tetap jalan, supaya dari sisi transparansi dan akuntabilitas penganan covid tersebut dapat di peroleh dengan baik oleh masyarakat Maluku Utara,” kata Husai, di Hotel Sahid Bella Ternate, Senin (18/5).

Kunci Kepercyaan Ada di Masyarakat

Rektor Unkhair Ternate ini menilai, relefannya metode transparansi dan akuntabilitas harus diterapkan. Saling bantah atau seolah tertutup akan data pasien justru memperkeru masalah.

“Kapasitas kita sebagai gugus tugas harus merespon ini dengan baik. Misalnya menyusun strategi atau langkah-langkah yang harus kita lakukan. Saya pikir cara ini akan lebih baik, dari pada kita saling bantah-membantah,” kata Husain menyarankan.

“Dengan memnfaatkan media. Komunikasi dengan masyarakat, kemudian kita lakukan terbuka, akuntabilitas dalam pelaksanaan gugus tugas. Dengan demikian, kerpercayaan masyarakat akan pulih. Kunci sukses dari pada penyelesaian covid-19 adalah kerja sama dengan masyarakat,” sambungnya.

Tanpa kerjasama, lanjutnya, semuanya akan sia-sia. Upaya memutus mata rantai virus corona tidak lagi efektif karena masyarakat tidak mengikuti imbaun pemerintah. Berdiam diri di rumah jaga jarak, pakai masker, cuci tangan dengan sabun di air yang mengalir bukan lagi kunci sukses.

Juru Bicara Covid-19 Maluku Utara, dr. Alwia Assagaf menyatakan, rekam medis atau catatan medis pasien berbeda dengan hasil laboratorium. Catatan medis tidak boleh diberikan ke pasien, sedangkan hasil laboratorium boleh dikasih ke pasien.

Alwia mengaku, keterbukaan informasi pasien positif covid sesuai hasil laboratorium itu sudah dilakukan dua pekan belakangan. Meski begitu, yang dikasih ke pasien bukan hasil uji laboratorium asli melainkan salinan tulis tangan.

“Kita buatkan baru. Di tulis sesuai hasil pemeriksaan, spesimennya apa, nomornya berapa, tanggal berapa, dan hasilnya seperti apa ?. Kemudian kita berikan ke pasien,” ucapnya.

Menurutnya, keputusan memberikan hasil uji laboratorium salinan tulis tangan itu menjaga privasi pasien satu dengan yang lain. Salinan diberikan satu demi satu pasien, mulai riwayat pertama positif/negatif pemeriksaan hingga dua kali atau pemeriksaan lanjutan.

“Kalau langsung dari laboratorium itu memuat data seluruh nama-nama pasien yang diperiksa pada hari dan tanggal saat itu. Misalnya 10 orang, data 10 pasien ini dibuat dalam satu laporan pemeriksaan. Kita buat/salin satu-satu dan diuraikan dari pertama pemeriksaan. Misalnya sumber pemeriksaan PCR tanggal 22, 29, 3, 6, diuraikan hasilnya dengan nomor spesimennya, begitu juga dengan PCM,” jelasnya. (han/red)

Komentar

Berita Terkini