|

IWIP Dinilai Arogan dan Diskriminasi Buruh Lokal

PHK : Husen Mahmud. Karyawan Divisi Workshop Mekanik di PT. IWIP di PKH lantaran dituding mencemarkan nama baik perusahaan lewat postingan di akun facebool pribadinya, Patra Alam. Dia juga berstatus sebagai terlapor di Polres Halmahera Tengah.
TERNATE, BRN -  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate menilai, PT Indonesia Weda Industrial Park (IWIP) terlalu arogan dan serampangan dalam mengambil keputusan. Kebijakan mempolisikan Husen Mahmud dianggap tindakan atau sikap mendiskriminasi buruh lokal.

Sekretaris Umum HMI Cabang Ternate, Rustam Umar berpendapat, selain arogan dan serampangan, penerapan sistem kerja dan keputusan menyelesaikan persoalan di Polres Hamahera Tengah secara tidak langsung mendiskriminatif karyawannya sendiri secara terang-teranggan.

Sikap yang dilakukan Husen adalah sikap yang luar biasa. Bentuk keresahan yang diabadikan dalam video berdurasi 1.04 menit itu representasi sebagian kecil dari akumulasi berbagai permasalahan ketenagakerjaan dan diskriminasi buruh yang selama ini sengaja didiamkan pihak perusahan.

“Sebab, dari suara Ucen lah kita akhirnya tahu bagaimana watak dari perusahan yang bercokol di Maluku Utara selama ini,” tulis Rustam Umar dalam release yang terima brindonesw, Senin (20/4) malam.

Husen Mahmud dipolisikan perusahaan pengembang kawasan indstri itu lantaran mengunggah keresahannya di facebook pada 17 April 2020, kemudian postingan kedua pada 18 April 2020. Video berdurasi 1.04 di unggah di akun facebooknya bernama Patra Alam. Ayah dari anaknya bernama Nukila ini kabarnya sudah dilakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK.   

Kabar PHK pria yang akrab disapa Ucen itu Rustam mengaku sudah tahu. Hasil konfirmasi terakhir, kata Rustam, dia di PHK dengan dalil mencemarkan nama baik perusaan dan ditetapkan sebagai terlapor di Polres Halmahera Tengah. “Konfirmasi terakhir dengan saudara Ucen di hari ini (Senin 20/4/2020,” katanya.

Rustam bilang, pemenuhan hak kerja karyawan jelas termuat dalam undang-undang ketenagakerjaan. Amanat undang-undang ini menjelaskan hak karyawan dan kewajiban perusahaan.

“Mesti di jadikan patokan serta ukuran oleh perusahan untuk menetapkan kebijakan perusahaan, sebagaimana isi konsideran menimbang yang menyebutkan ‘perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun’,” katanya.

Menurutnya, pelarangan izin kerja pada hari-hari libur sudah ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Negera sudah mengatur dan mengharuskan perusahan memberikan izin kerja pada hari libur resmi.

“Sedangkan kerja dengan prinsip non diskriminasi bisa di lihat si Pasal 6 undang-undang ketenagakerjaan yang menyatakan, setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Harusnya ini dijadikan dasar,” terangnya.

Informasi pemutusan hubungan kerja terhadap Ucen benar adanya. Ayah Nukila ini memosting status di dinding facebook pribadinya. Dalam postingan ia menyampaikan kabar kalau dia segera pulang dan meminta maaf pada anaknya Nukila. Status yang di posting pada Senin (20/4) pukul 10.59 WIT itu disertai video anaknya yang baru belajar jalan.

Husen meminta maaf pada anaknya Nukila. Postingan di unggah pada Senin (20/4/2020) pukul 10.59 WIT pagi. Hingga Senin malam tadi sebanyak 361 warganet menyukasi postingan trsebut.
Komentar

Berita Terkini