Dituding Provokator, Dua Pendemo Tolak TKA di Obi Dipolisikan

Editor: brindonews.com
Surat panggilan Polres Hamlahera Selatan
Yulia Pohang dan Amrul Doturu terpaksa berurusan dengan Polres Halmahera Selatan. Keduanya dituding mendalangi aksi protes penolakan 46 tenaga kerja asing asal Cina di PT. Halmahera Persada Lygen atau HPAL di Site Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Keduanya diperiksa berdasarkan surat panggilan nomor: S.pgl/58/IV/2020/RESKRIM dan surat panggilan nomor: S.pgl/59/IV/2020/RESKRIM. Panggilan tertanggal 17 April 2020 yang ditandangani Kepala Satuan Reserse Krimnal Polres Halmahera Selatan, Dwi Gastimur Wanto itu dimintai keterangan sebagai saksi dalam perkara dugaan tindak pidana Pasal 160 sub Pasal 216 KUH Pidana.

Dasar dilakukannya pemanggilan ini mengacu pada Pasal 7 ayat (1) huruf g, Pasal 11 ayat (1) dan (2), dan Pasal 13 KUHAP. Acuan lain yang dijadikan dasar yaitu Undang-undang Nomor 2 tahun 2020 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Laporan Polisi Nomor : LP-A/27/IV/2020/SPKT tertanggal 17 April 2020.

Yulia dikonfirmasi mengemukakan, dasar aksi protes yang dilakukan tersebut mengacu pada Peraturan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Permenkumham) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk Wilayah Negara Republik Indonesia.

“Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona di Wilayah Indonesia,” kata aktivis GMKI itu, Minggu (19/4).

Perempuan yang getol menyuarakan hak-hak buruh lokal ini bilang, masuk 46 tenaga kerja asing di Pulau Obi merupakan satu pelanggaran yang cukup luar biasa. Padahal, para tenaga kerja asal China ini punya rute perjalanan di beberapa negara sebelum tiba di Obi pada 11 April 2020.

Dorang (mereka) ini dari Cina, Kamboja kemudian Malaysia dan tiba di Jakarta 4 April 2020 dan di Manado 7 April 2020. 46 TKA ini tidak di karantina. Lebih parah lagi, ketika sampai di Obi, tanpa sepengetahuan Disnakertrans Provinsi Maluku Utara dan tanpa menjalani pemeriksaan apapun dari Gugus Tugas Covid-19 Maluku Utara,” kata Yulia.

Kehadiran 46 TKA tersebut sontak mengundang reaksi para buruh lokal dan masyarakat setempat. Para buruh dan masyarakat memprotes sebagai upaya pencegahan pandemi virus yang menyerang sistem pernapasan itu. Punya riwayat perjananan dari daerah zona merah menjadi penyebab ditolaknya para pekerja asal negara tirai bambu itu.

Foto dan video aksi protes di Site Kawasi, PT HPAL beredar di beranda facebook dan whatsapp grup. Kabarnya, protes itu karena 46 pekerja asal negara tirai bambu itu diduga masuk ke Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara secara diam-diam melalui kapal laut dari salah satu pelabuhan di Kota Bitung, Sulawesi Utara.

“Pas tau (mengetahui) itu (kedatangan 46 TKA) sejumlah buruh dan masyarakat lakukan aksi protes. Dorang (mereka) aksi pertama di 12 April 2020 menjelang salat maghrib. Besok harinya 13 April 2020, dorang lanjut aksi,” kata Ulhy, begitu Yulia biasa disapa.

Amrul Doturu mengekaui surat panggilan pemeriksaan baru diterima pada Sabtu (18/4) pukul 12.38 WIT siang. Aktivis HMI ini mengatakan, dia panggil untuk dimintai keterangan dalam perkara dugaan tindak pidana menggangg ketertiban umum atau memprovokasi masyarakat di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan.

“Waktu pemeriksaan pukul 10.00 WIT pagi. Cuma karena saya sama Ulhy dari kawasi sampe (sampai) di Babang sekitar pukul 21.30 WIT malam, jadi pemeriksaannya lanjut di senin. Tapi sampe di Babang, kami langsung dibawa di ruang penyidik Polres Halsel dan kami periksa. Persoalaan karena sudah larut jadi pak kasat bilang pending dulu nanti lanjut di Senin (20/4) besok,”katanya.

Persoalan yang mengamcam Amrul dan Ulhy berada di balik trali besi ini pelapornya masih ‘misterius’. Amrul mengaku tidak tahu siapa di pelapor yang dimaksudkan dalam Laporan Polisi Nomor : LP-A/27/IV/2020/SPKT tertanggal 17 April 2020 itu.

Sampe (sampai) sekarang kitong (kami) bolom (belum) tau. Kitong di panggil sebagai saksi dalam gerakan aksi kemarin. Persoalan yang disangkakan itu mengganggu ketertiban dan provokator,” kata Amrul via telepon, Minggu (19/4) malam.

Kapolres Halmahera Selatan, AKBP M. Faishal Aris membenarkan pemeriksaan terhadap Ulhy dan Amrul. Faishal mengatakan, keduanya dimintai keterangan atas aksi unjuk rasa di tengah pandemi covid-19.

Sebagaimana Maklumat Kapolri diantaranya, adalah untuk tidak melaksanakan kegiatan yang sifatnya berkerumun termasuk aksi unjuk rasa demi keselamatan rakyat Indonesia,” katanya.

Pulangkan sementara

Amrul mengatakan, dasarnya dilakukannya protes kedatangan 46 pekerja asal Cina tersebut mengacu pada Permenkumham Nomor 11 taun 2020, Maklumat Kapolri Nomor: MAK/2/III/2020, dan Undang-undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Alasan kenapa cenderung pulangkan TKA, kata dia, kekahawatiran pandemi corona virus disease 2019 atau covid-19. “Kitorang sampaikan waktu hering, demi menjaga kenyamanan bersama, untuk sementara ini 46 TKA ini dipulangkan sementara dulu sampai kondisi covid benar-benar selesai, setelah itu baru pihak perusahaan datangkan mereka kembali,” katanya.

Dia mengungkapkan, permintaan memulangkan sementara waktu tersebut tak di tanggap pihak perusahaan. Perusahaan bersikeras mempertahankan berdasarkan hasil rapid test Gugus Tugas Sulawesi Utara.

“Perusahaan tidak mau pulangkan, karena hasil rapid test waktu di Manado itu non reaktif. Tapi maslahnya puluhan TKA ini masuk tanpa protap atau pemeriksaan pencegahan covid di Halmahera selatan. Jadi mereka dari Manado langsung ke Kawasi sudah. Yang dipersoalkan itu mereka punya riwayat perjalanan saja, karena dari bebeapa daerha yang disinggahi tersebut semuanya kategori zona merah covid,” jelasnya.

“Di Jumat (17/4) saya sama Ulhy bikin pertemuan dengan masyarakat (tergabung dalam masa aksi) evaluasi hasil aksi kemarin. Sekitar pukul 17.00 WIT sore, tiba-tiba Kapolres, Wakapolres Halmahera Selatan dan kurang lebih 20 anggota turun dan sergap kitorang dalam rumah. Dorang (polisi) bikin penyergapan tanpa dong tanya tujuan pertemuan ini apa,” Amrul manambahkan. (brn/red)

Share:
Komentar

Berita Terkini