|

Mengenal HAB Tentang Air Laut Berubah Warna



M GHUFRAN H. KORDI K.
                                         

Seorang kawan mengirimkan foto mengenai air laut berubah warna merah/coklat dan ikan-ikan yang mati di Pulau Makean, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Peristiwa tersebut terjadi pada 24 Februari 2020 dan menjadi tontonan warga.

Perubahan warna air tersebut bisa disebabkan oleh pencemaran, bisa juga karena ledakan plankton yang dikenal sebagai Harmful Algal Bloom (HAB). Untuk memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan terhadap ikan-ikan yang mati dan analisis kualitas air. Tulisan ini hendak mengenalkan peristiwa alam yang dikenal sebagai ledakan plankton, khususnya fitoplankton atau populer sebagai Harmful Algal Bloom (HAB).

Istilah HAB kini menjadi istilah yang digunakan di dunia internasional yang merupakan singkatan dari Harmful Algal Bloom. HAB adalah istilah generik yang digunakan untuk mengacu pada pertumbuhan lebat fitoplankton di laut atau di perairan payau yang dapat menyebabkan kematian massal ikan, mengontaminasi makanan bahari (seafood) dengan toksin (racun yang diproduksi oleh fitoplankton), dan mengubah ekosistem sedemikian rupa yang dipersepsikan oleh manusia sebagai mengganggu (harmful) (Geohab, 2000; Nontji, 2008).

Sebelumnya fenomena ini dikenal sebagai red tide untuk menggambarkan ledakan populasi fitoplankton ini yang dapat mengubah warna air laut. Tetapi isitilah ini sering menyesatkan karena tidak selalu ledakan populasi fitoplankton ini berwarna merah (red), bisa juga kuning, hijau, hijau kuning, merah kecoklatan, atau putih keruh. Bergantung pada pigmen yang terkandung dalam fitoplankton penyebabnya. Lagi pula, ledakan populasi fitoplankton ini tidak berkaitan dengan tide alias pasang surut.

Selanjutnya juga tidak semua jenis plankton yang populasinya meledak itu memroduksi toksin atau racun. Meskipun demikian, ledakan populasi fitoplankton yang nontoksik ini bisa juga berbahaya bila setelah mati massal akan terurai oleh bakteri. Dalam proses penguraian ini diperlukan konsumsi oksigen yang tinggi hingga dapat membuat oksigen yang terlarut dalam air akan habis terkuras, dan menimbulkan kondisi anoksik, kehabisan oksigen. Ketiadaan oksigen dalam air inilah yang dapat mengancam kehidupan biota lainnya, seperti ikan dan hewan laut lainnya (Nontji, 2008).

Di Indonesia, fenomena HAB pertama kali dilaporkan terjadi tahun 1976 di Teluk Kao, Halmahera (Maluku Utara) yang menyebabkan jatuhnya korban manusia, yang oleh penduduk setempat menyebutnya air beracun berwarna merah (Sumadiharga, 1977). Kemudian terjadi lagi tahun 1983 Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada saat itu Gubernur NTT Ben Boy melaporkan adanya peristiwa keracunan dan kematian massal penduduk setelah memakan ikan yang mati mengamban di permukaan perairan pantai Selat Lewotobi, Desa Wulanggitang, Flores Timur NTT. Dilaporkan 240 orang orang keracunan dan 4 orang meninggal (Adnan, 1984). Setelah dilakukan penelitian dengan memeriksa sampel ikan dan air laut yang diambil pada saat kejadian, diketahui bahwa penyebab HAB adalah blooming Pyrodinium bahamenses var. compressum. Fitoplankton Pyrodinium bahamenses var. compressum merupakan penyebab HAB utama di Pasifik Selatan termasuk di perairan negara-negara di Asia Tenggara.

HAB oleh Pyrodinium bahamense var. compressum yang terjadi di perairan Indonesia sangat jelas mempunyai keterkaitan dengan kejadian-kejadian HAB di negara-negara di Asia Tenggara bersamaan dengan terjadinya El Nino. Tahun 1983 pada saat blooming terjadi di Flores, di mana 240 orang keracunan dan 4 orang meninggal, di Teluk Samar dan Teluk Maquenda, Filipina juga sedang terjadi HAB, tepatnya Juni-September. Penyebab HAB sama dan mengakibatkan 278 orang keracunan/menderita dan 21 orang meninggal. Demikian juga di perairan Hongkong yang terjadi pada bulan Oktober 1983 dengan laporan keracunan makan kerang dan ikan mati. HAB yang terjadi di Nunukan, Pulau Sebatik Selatan, Kalimantan Timur 1987 juga terjadi bersamaan waktuya dengan kejadian yang sama d Sabah (Malaysia). Semua kejadian HAB baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara ternyata ternyata bersamaan waktunya dengan terjadinya ENSO (El Nino) pada 1983, 1987, dan 1988. Dengan demikian, kejadian HAB baik di Indonesia maupun di Asia Tenggara umumnya sangat berkaitan dengan fenomena alam El-Nino yang merupakan salah satu tanda terjadinya “global climate change” di dunia (Adnan & Sidabutar, 2004).


Tabel 1. Jenis mikroalgae pembentuk HAB yang terdentifikasi di perairan Indonesia
No                  
Jenis Mikro-Algae
                             Lokasi
1         
Alexandrium affine             
Teluk Jakarta
2
Alexandrium cohorticula                                                   
Teluk Jakarta
3
Alexandrium tamiyavanichi                                            
Teluk Jakarta
4
Ceratium fusus                                                                                               Teluk Bayur, Ujungpandang/Makassar, Flores Timur, Kalimantan Timur

Teluk Jakarta, Teluk Bayur, Ujungpandang/Makassar, Flores Timur, Kalimantan Timur

5
Ceratium tripos                                                                    
Teluk Jakarta

6
Chattonella subsalsa*       

Teluk Jakarta
7
Dinophysis acuminata       
Teluk Jakarta, Kuala Tungkal-Jambi
8
Dinophysis acuta    
Teluk Jakarta
9
Dinophysis caudata*          
Teluk Jakarta, Kuala Tungkal-Jambi, Lampung, Flores Timur

10
Dinophysis miles    
Teluk Jakarta, Teluk Bayur, Flores Timur

11
Dinophysis ovum    
Teluk Jakarta, Flores Timur

12
Dinophysis rotundata*       
Teluk Jakarta
13
Gambierdiscus toxicus*     
Flores Timur
14
Gonyaulax diegensis         

Teluk Jakarta
15
Gonyaulax polyedra           
Ujungpandang/Makassar
16
Gonyaulax polygramma    
Teluk Jakarta
17
Gonyaulax spinifera           
Teluk Jakarta, Flores Timur
18
Gymnodinium catenatum*
Teluk Jakarta
19
Gymnodinium impudicum*           
Teluk Jakarta
20
Gymnodinium pulchellum*           
Tambak udang Kamal, Jakarta
21
Gymnodinium sp    
Flores Timur
22
Noctluca scintillans**         
Teluk Jakarta, Kalimantan Timur, Teluk Ambon

23
Prorocentrum lima* 
Flores Timur, Ujungpandang/Makassar, Teluk Jakarta
24
Prorocentrum concavum   
Teluk Jakarta
25
Prorocentrum emarginatum          
Teluk Jakarta
26
Prorocentrum micans         
Teluk Jakarta
27
Prorocentrum microcephalus
Teluk Jakarta
28
Prorocentrum triestnum     
Teluk Jakarta
29
Pseudonitzschia pungens*          
Teluk Jakarta
30
Pyrodinium bahamense var. Compressum*      
Teluk Kao, Tel Ambon, Biak, Teluk Jakarta, Pulau Marsegu-Bangka, Selat Lewotobi-NTT, Pulau Sebatik Selatan, Kalimantan Tmur

31
Trichodesmium erythraeum**       
Pantai Lampung Timur, Perairan Pulau Pari

32
Trichodesmium thiebautii**           
Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Muara Memberamo-Papua
33
Ostreopsis lenticularis       
Teluk Jakarta
35
Ostreopsis ovata     
Teluk Jakarta

35
Thalasisiosira mala
Teluk Jakarta

Sumber: Adnan (1984; 1992; 1999); Praseno (1997; 19999); Adnan & Sidabutar (2005)
Keterangan: * mikroalgae berpotensi menghasilkan toksin; ** mikroalgae menimbulkan masalah bagi perikanan.

Biota penyebab HAB menghasilkan toksin dalam tubuhnya yang kemudian toksin tersebut dapat dialihkan ke ikan atau kerang lewat jalur pakan (food chain). Kehadiran bahan toksik di dalam tubuh kerang bisa saja tidak menimbulkan kematian pada kerang tersebut, tetapi bila dimakan oleh manusia akan dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan kematian. Orang yang memakan makanan laut yang terkontaminasi toksin HAB dapat menderita keracunan, bergantung jenis toksin yang diproduksi biota HAB.

Fitoplankton jenis Pyrodinium bahamense dan Alexandrium tamarense misalnya menghasilkan racun saxitoxin yang dapat menimbulkan gejala Paralytic Shellfish Poisoning (PSP) yang mengakibatkan penderita kejang-kejang sampai kelumpuhan setelah makan kerang. Dalam kasus yang sangat gawat dapat mengakibatkan penghentian fungsi pernapasan dalam waktu 24 jam setelah penderita mengonsumsi kerang.

Gejala keracunan lainnya adalah Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP) yang menimbulkan diare yang disebabkan racun okadaic acid yang dihasilkan oleh fitoplankton jenis Dinophysis sp. Neurotoxic Shellfish Poisoning (NSP) disebabkan oleh racun brevetoxin yang dihasilkan oleh fitoplankton jenis Karenia brevis yang menimbulkan serangan pada saraf. Amnesic Shellfish Poisoning (ASP) disebabkan oleh racun domoic acid yang diproduksi oleh Pseudonitzshia sp yang dapat menimbulkan gangguan gatroinsestinal dan saraf setelah penderita mengonsumsi kerang. Keracunan juga dapat ditimbulkan karena orang mengonsumsi ikan yang terkontaminasi racun ciguatoxin/maitotoxin yang bersumber dari fitoplankton Gambierdiscus, Prorocentrum, Amphidinium yang menimbulkan gejala Ciguatera Fish Poisoning (CFP). Sebenarnya diantara ribuan jenis fitoplankton yang telah dikenal, hanya beberapa saja yang berbahaya (Nontji, 2008)

Selain menimbulkan gangguan pada lingkungan dan kesehatan manusia, HAB juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi. Berita HAB yang tersebar di media dapat menyebaban turunnya omzet perdagangan hasil-hasil perikanan karena orang menjadi takut mengonsumsi seafood. HAB yang terjadi di suatu tempat akuakultur dapat menimbulkan kerugian yang amat besar. HAB yang disebabkan oleh Pyrodinium bahamense yang menyerang Teluk Manila (Filipina) tahun 1988 menimbulkan kerugian US$ 950.000 pada budi daya tiram, US$ 500.000 perhari pada ekspor udang, 809.000 selama 4 hari pada perikanan tangkap, US$ 300.000 perhari pada pasar seafood. Hongkong pernah dilanda HAB yang besar pada Maret-April 1998 yang disebabkan meledaknya plankton jenis Gymnodinium mikimotoi. Serangan ini luar biasa dahsyatnya bagi perikanan Hongkong yang mematikan 1.500 ton ikan budi daya dan menimbulkan kerugian ekonomi sekitar US$ 32 juta. Kematian massal ikan ini disebabkan karena Gymnodinium mikimotoi yang menghasilkan lendir (mucus) yang lengket menempel pada semua benda di laut termasuk menempel pada insang-insang ikan sehingga ikan tersebut tidak dapat bernapas dalam waktu sekejap saja  (Nontji, 2008; Rompas, 2010).

Mikroalga kelompok HAB penghasil toksin (racun) yang diduga mengalami ledakan populasi (blooming) karena eutrofikasi yang terkait dengan aktivitas budi daya perairan yaitu spesies Pyrodinium bahamense var compressum di Teluk Lampung. Teluk Lampung merupakan teluk dangkal dengan kedalaman rata-rata 25 m dengan kondisi perairan yang relatif tenang. Teluk ini mendapat tekanan yang cukup tinggi dari aktivitas manusia, baik di bidang pariwisata, industri, maupun kegiatan marikultur dan tambak.

Spesies mikroalga yang menimbulkan HAB tidak semuanya beracun. Dua spesies HAB, yaitu Noctiluca spp dan Trichodesmium spp tidak beracun, tetapi setelah blooming dan mati mengalami dekomposisi yang mengonsumsi oksigen, mengeluarkan amonia, dan mengubah warna air laut menjadi merah (red tide). Kondisi demikian menyebabkan ikan-ikan dan biota lainnya mati. Selain menimbulkan gangguan pada lingkungan dan kesehatan manusia, HAB juga dapat menimbulkan kerugian ekonomi. Berita tentang HAB dapat menyebabkan turunnya omset perdagangan biota laut. HAB yang melanda suatu perairan tempat budi daya laut dapat menimbulkan kerugian yang amat besar.

Hingga sekarang ini hanya sedikit anggota masyarakat yang sadar akan bahaya HAB. Peneliti yang serius menangani masalah ini di Indonesia pun sangat terbatas jumlahnya, yang tersebar di lembaga penelitian, seperti LIPI, Balai Budidaya Laut (DKP), Balai Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (DKP), dan universitas (UI). Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, merupakan lembaga yang secara rutin melakukan monitoring HAB di Teluk Hurun dan merupakan pilot untuk Indonesia dengan dukungan IOC/Westpac.

HAB adalah peristiwa alam yang berhubungan cuaca. Namun, HAB juga dipicu oleh aktivitas manusia di daratan dan di lautan. Pengayaan nutrien, seperti halnya nitrat dan fosfat, selain berasal dari zat hara daratan (run off), juga dapat disebabkan dari aktivitas budi daya di pantai. Begitu pula pemindahan biota budi daya, seperti kima dan kerang/tiram dari satu daerah ke daerah lain juga dapat menyebabkan tingginya resiko “terinfeksi” suatu perairan karena terbawanya jenis-jenis mikroalga berbahaya yang berasal dari perairan lain.

Untuk menghindari bahaya, masyarakat tidak boleh mengonsumsi ikan-ikan yang mati. Masyarakat juga tidak mengambil dan mengonsumsi kerang/siput yang berada di daerah HAB dan sekitarnya[]

Komentar

Berita Terkini