Berikut Penjelasan Kepsek Mengenai Pungutan Biaya Wi-fi

Editor: brindonews.com
ILUSTRASI
SOFIFI, BRN - Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 5, Kecamatan Jailolo Selatan, Halmahera Barat, Mahmud Hatari mengklarifikasi dugaan pungutan liar biaya pemasangan wireless fideliy atau wi-fi. Menurut Mahmud, pungutan sebesar Rp.150 per siswa itu sudah ada kesepakatan.

Mahmud menjelaskan, pembebananan biaya pemasang wi-fi disepakati komite dan orangtua siswa didik sesuai hasil rapat 22 Desember 2018. Pemasangan wi-fi bertujuan agar bisa melaksanakan ujian di sekolah sendiri sehingga tidak menumpang UNBK di Jailolo atau Sofifi.

Waktu itu saya dengar berita tentang UNBK, kalau BKPSDM pusat tidak lagi memperbanyak soal ujian nasional, jadi keadaan terpaksa saya harus panggil komite dan orang bicarakan ini dan itu sudah kesepakatan komite dan orangtua. Bukan kputusan kepala sekolah (kepsek),” katanya, Senin (20/1).

Kepsek menuturkan, dana pemasangan yang dipungut sifatnya sumbangan dan tidak wajib dibayarkan. Dia juga membantah pengakua siswa soal tidak diperbolehkan mengikuti ujian tengah semester atau UTS) kalau belum melunasi uang partisipasi pemasangan wifi. “Tidak begitu, itu tidak benar. Ada kurang lebih 81 siswa sampai sekarang belum bayar, dan itu mereka sudah lulus ujian. Mau belum bayar atau sudah bayar semuanya boleh ikut UTS/ujian,” tandasnya.

“Mengenai penjualan voucer sebenarnya masa uji coba internet, karena ada tiga titik. Satu di kantor, di perpustakaan, dan satunya lagi di laboratorium komputer.  Untuk biaya pemasangannya Rp25 juta dengan setoran perbulan 900 ribu lebih,” tambah kepsek.

Seperti diberitakan sebelumnya, para siswa mengaku, biaya pemasangan wi-fi tersebut diberlakukan diawal 2019, namun jaringan internet tidak boleh diakses secara gratis. “Torang (kami) beli voucher dulu baru bisa buka internet. Satu voucher 2000 dengan durasi dua sampai tiga jam,” kata salah satu siswa saat ditemui 9 Januari 2020 pekan lalu.

Pendanaan yang diminta sekolah dengan dalih pemasangan wi-fi bersifat keharusan atau wajib. Siswa tidak diperbolehkan mengikuti ujian tengah semester atau UTS) kalau belum melunasi uang partisipasi pemasangan wifi. “Dapa suru bayar dulu baru bisa iko (ikut) UTS,” kata siswa yang meminta merahasiakan indentitasnya ini. (na/red)
Share:
Komentar

Berita Terkini