Sebaran Informasi P4GN Capai 163.273

Editor: brindonews.com
Edi Swasono membacakan capaian penyeberluasan informasi P4GN
TERNATE, BRN - Kegiatan pencegahan dengan penyebarluasan informasi mengenai pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba atau P4GN menuju ke tren positif. Data Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Maluku Utara menunjukkan mencapai 67.615 orang dengan jumlah sebanyak 45 kegiatan yang bersumber dari DIPA APBN.

Tren yang sama terjadi pada sosialisasi P4GN non DIPA. BNNP Maluku mencatat kurang dari 186 kegiatan atau 95.658 orang meliputi instansi pemerintah, swasta maupun lingkungan pendidikan dan kelompok masyarakat telah mendapat pemahaman mengenai bahaya narkoba.

“Total masyarakat Maluku Utara (Malut) yang telah mendapat sebaran informasi P4GN sebanyak 163.273 orang dari rincian jumlah penduduk Malut per 2019 sebanyak 1.232.632 jiwa. Dari capaian itu, naik 13 persen melebihi target 7 persen yang ditetapkan BNN RI,” kata Kepala BNNP Maluku Utara Edi Swasono saat jumpa pers di Ruang Rapat BNNP Malut, Senin (30/12) siang.

Menurut Edi, sarana yang dipakai untuk penyebarluasan informasi P4GN adalah melalui media masa, baik elektronik, cetak maupun media daring atau online. Adapun rinciannya meliputi 4 kali di media televisi, 8 kali di melalui siaran radio dan 4 kali menggunakan media online.

Edi mengatakan, buah dari penyebarluasan informasi P4GN tersebut menghasilkan 154 relawan anti narkoba yang dikukuhkan pada 2019. “Akumulasi relawan anti narkoba kurum waktu 2016-2019 mencapai 991 relawan. Selain itu, ada juga kegiatan pembangunan berwawasana anti narkoba yang menyasar di 50 instansi, bain pemerintah, swasta maupun di lingkungan pendidikan,” katanya.

Edi mengemukakan, selain melakukan langkah pencegahan, pihak BNNP Malut turut melaksanakan kegiatan pemberdayaan guna meningkatkan partisipasi dalam upaya P4GN. Menurut Edi, ada 150 penggiat anti narkoba yang dikukuhkan pada tahun ini. “Akumulasi kurun waktu 2017-2019 sejumlah 560 penggiat dari 149 instansi,” kata Edi.

Edi bilang, giat pemberdayaan arternatif kepada masyarakat bertujuan meningkatkan ketahanan terhadap ancaman P4GN melalui kegiatan produktif dan sifatnya ekonomis atau life skill di kawasan rawan narkotika. “Lain sisi, melalui bidang P2M BNNP Malut memberdayakan masyarakat lewat ketrampilan, misalnya menanam sayu. Ini sudah dilakukan di kelompok pemuda Desa Rawajaya, Tobelo, kerajinan tangan dari anyaman bambu lou di ibu-ibu Kota Tidore, dan perbengkelan untuk para pemuda di Ternate,” terangnya.



Lebihi target rehabilitasi

Menurut Edi, faktor pendorong terjadinya permasalahan narkoba, yaitu bisnis yang sangat menguntungkan. Para pebisnis barang haram tersebut hanya bermodalkan 200 rubi rupiah bisa meraup keuntungan hingga miliaran rupiah. Orang nomor satu di BNNP Malut ini mengatakan, sebanyak 95 orang yang direhab pada 2019, melebihi target yang ditetapkan yakni 84 orang.  

Dijelaskan, rehabilitasi merupakan suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan narkoba, termasuk penanganan komplikasi dampak buruk narkoba. Serta program pasca rehabilitasi dalam upaya memberikan pelayan secara terpadu dan komprehensif untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan agar penyalahguna dapat pulih, kembali produktif dan dapat bersosialisasi di masyarakat. “Layanan pasca rehabilitasi rawat lanjut juga telah dilakukan kepada 40 orang dari jumlah pasien rehab,” katanya.

“Bidang Rehabilitasi BNNP Malut juga bentuk tim asesmen terpadu yang beranggotakan 20 orang. Tugas tim ini melakukan asesmen dan analisis medis, psikososial serta merekomendasi rencana terapi dan rehabilitasi begi seseorang yang yang ditangkap atau tertangkap tangan akibat penyalahgunaan dan peredarab gelap narkoba. Keterlibatan dalam tim ini meliputi perwakilan BNNP dan Polda Malut, kejaksaan, serta pihak Unkhair Ternate,” kata Edi menambahkan.
Pecandu narkoba yang lapor tidak dipidana
Secara nasional, BNN sendiri sudah mengampanyekan wajib lapor bagi masyarakat yang terpapar narkotika. Edi mengatakan, bagi para pecandu narkoba yang melaporkan diri secara sukarela akan tidak di tuntut pidana, melaikan dibina lewat rehabilitasi.

Upaya itu, menurut Edi, guna mengembalikan image BNN dimata masyarakat. “Apabila pecandu itu langsung melapor, maka hal yang akan dilakukan BNN adalah memasukan pecandu itu ke tempat rehabilitasi. Kita bina dina sebagai protek pidana, identitas pecandu selalu dirahasiakan, katanya. 

Nantinya, kata Edi, para pecandu ini akan direhabilitasi di institusi penerima wajib lapor atau IPWL, salah satu di Puskesma Kalumata, Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara. Sesuai amanat Undang-undang (UU) nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat telah melakukan berbagai langkah dan upaya untuk menyelamatkan para pengguna narkoba dan tidak lagi menempatkan para pecandu itu sebagai pelaku tindak pidana atau pelaku tindak kriminal. (brn)
Share:
Komentar

Berita Terkini