|

Bantah Terlibat ‘mafia’ Proyek

FIRDAUS SAMAD
MOROTAI, BRN - Kepala Bidang Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Pulau Morotai, Firdaus Samad menepis dugaan pembagian jatah proyek rehabilitasi Kantor Desa Tawara dan Bere-bere Kecil, Kecamatan Morotai Jaya, Pulau Morotai. Firdaus dituding bermain proyek oleh salah satu staf Pemerintah Desa Bere Bere Kecil.
  
Selain dituduh bermain proyek, Firdaus dituduh memotong pajak 11,5 persen dari total anggaran 100 juta rupiah. Firdaus dikonfirmasi Kamis (7/11) membantah semua tudingan tersebut. Dia mengatakan, apa yang dialamatkannya semuanya tidak benar. “Dua pekerjaan itu tidak bermasalah,” kilahnya.

Bantahan Firdaus tidak memotong pajak memang benar adanya. Bukti transfer rekening dari bendahara desa ke Amran Mustika (kontraktor) tidak tercantum pemotongan sepersen pun. Meski begitu, pengakuanya ‘dua pekerjaan itu tidak bermasalah’ ternyata salah kapra.

Penelusuran brindonews di lokasi pekerjaan ditemukan sejumlah kejanggalan. Progres pekerjaan belum seratur persen, sementara laporan realiasi atau pencairan anggaran sudah seratus persen. Ditambah lagi hasil pemeriksaan oleh tim Kementerian Dalam Negeri pekerjaan tersebut bermasalah dan ketidakjelasan kontraktor. Menurut sejumlah perangkat desa, dua proyek itu dikerjakan Amran Mustika.

“Pak Amran sendiri mengaku kalau dia yang kerjakan proyek itu,” kata salah satu perangkat desa yang meminta tidak menyebut identitasnya.

Lagi-lagi Firdaus membantah. Dia mengatakan, kebutuhan akan biaya di tranfer sesuai kebutuhan. “Tidak ditransfer semua, desa butuh apa baru dibelanjakan. Amran Mustikan bukan kontraktor, tapi dia sebagai penyedia material. Tidak benar kalau Amran yang kerja,” kilahnya.

Firdaus mengemukakan, terdapat kekeliruan pada laporan pertanggungjawaban atau SPJ. Sampai sekarang laporan pertanggungjawabannya belum dibuta dan tidak benar kalau SPJ sudah disampaikan ke bendahara desa. “Belum ada laporan. Saya sering update laporan ke Kemendagri, yang saya tau step by step kita fullup di kementerian. Tapi laporan fisik itu belum ada sama sekali, format pelaporannya di kirim kurang lebih 1 bulan lalu,” katanya. 

Penelusuran brindonews tak sampai disitu. Sesuai rumor beredar di masyarakat,
sisa dana rehab dua kantor desa diduga mengalir ke kantong pribadi Firdaus berdasarkan pembagian fee dian dan Amran Mustika.

Rumor ini diperkuat dengan pengakuan sejumlah Staf Desa Towara. Mereka mengungkapkan, rehab kantor desa itu masuk swadaya masyarakat, hanya saja atas perintah Firdaus anggaran itu terpaksa diberikan kepada Amran Mustika, baik belanja material dan biaya proyek.

Diantara pengakuan itu, diketahui Amran hanya belanja 14 buah ram jedela dengan nilai 4 jutarupiah dan dua kuas rol. “Sementara dalam RAB atau rencana anggaran belanja itu 4 buah kuas dan cat 4 buah, tapi faktanya kuas dan cat hanya dua. Sementara sisa anggarannya tidak tahu kemana,” beber mereka.

Kejadian serupa ditemukan di Desa Bere Bere Kecil. Disini ditemukan tidak ada aktifitas pekerjaan atau rehabilitas kantor desa sebagai dimaksud Firdaus. “Sedangkan anggarannya sudah di transfer ke Amran Mustika,” kata salah satu sumber terpercaya.

Hasil penelusuran dan pengakuan staf desa tak cukup kuat Firdaus mengaku. “Tidak benar saya dapat jatah,” katanya. (fix/red)
Komentar

Berita Terkini