|

Polda Terjunkan 224 Personil Dalam rangka Operasi Zebra




TERNATE - BRN - Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara (Malut) beserta jajarannya melaksanakan Operasi Kepolisian Mandiri Kewilayahan dengan sandi “ZEBRA KIE RAHA 2019” selama 14 hari terhitung mulai tanggal 23 Oktober sampai 5 November 2019.

Operasi harkamtibmas yang mengedepankan penegakan hukum lantas 40 persen, yang humanis, modern dan berbasis elektronik serta kegiatan Preventif 30 persen dan Preemtif 30 persen dalam rangka cipta kondisi kasmeltibcarlantas menjelang Natal Tahun 2019 dan pergantian tahun baru 2020.

Dengan ditandainya Gelar Pasukan yang dilaksanakan pagi tadi bertempat di Lapangan Apel Polda Malut yang dipimpin langsung oleh Kapolda Maluku Utara Brigjen Pol. Suroto. Dalam operasi Zebra Kie Raha tahun 2019 ini di pimpin langsung Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Malut selaku Kasatgas Opsda Kombes Pol. Abrianto Pardede.

Kapolda Malut Brigjen Pol Suroto dalam sambutanya mengatakan dalam Opersi Kie Raha ini serentak baik Polda Malut maupun Polres jajaran, dan 224 personil di libatkan
“Seluruh personi baik Polda dan Polres itu sebanyak 224 Personil, Polda Malut 40 Personil, Polres Jajaran 184 Personil,” Akunya.

Suroto menjelaskan untuk target kepada pengemudi, sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar, yang melanggar rambu lalu lintas larangan masuk, tidak melunasi pajak kendaraan, pengemudi roda empat yang tidak menggunakan safety belt, melebihi batas maksimal kecepatan dan mabuk pada saat mengemudi.

“Pengemudi ranmor anak yang masih dibawah umur, menggunakan HP pada saat mengemudikan ranmor, menggunakan lampu rotator/strobe/sirine tidak sesuai peruntukannya,” Teranya.

Jenderal bintang satu di Mapolda itu juga menambahkan, pengemudi yang melanggar rambu-rambu lalu lintas yang terhalang pandang, pudar atau rusak, tidak ada kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor.

“Selain itu, lokasi operasi di seluruh jalan raya/jalan utama disemua Polres jajaran yang digunakan aktivitas kendaraan bermotor, jalan raya yang dipasang rambu larangan, kawasan tertib lalu lintas (KTL) yang berada dimasing-masing wilayah,” Akunya.

Kata Suroto lokasi pintu masuk dan keluar objek wisata/rekreasi yang ada di satuan wilayah masing-masing, pintu masuk keluar pasar, mall, pertokoan, perbelanjaan di satuan wilayah masing-masing, lingkungan perguruan tinggi dan sekolah-sekolah yang ada di satuan wilayah masing-masing, juga menjadi lokasi operasi.

Untuk cara bertindak tambah Suroto, melaksanakan kegiatan pendidikan masyarat lalu lintas di daerah pelanggaran, kecelakaan dan kemacetan, pencegahan meliputi pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli lalu lintas di lokasi rawan pelanggaran, kecelakaan dan kemacetan lalu lintas serta mengelola situasi lalu lintas dari tidak tertib menjadi tertib.

“Tindakan penegakan hukum lalu lintas secara simpatik dan selektif prioritas, membangun citra Polisi sebagai penggerak revolusi mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik, personel dan kendaraan bermotor di lapangan secara optimal khususnya pada jam-jam sibuk atau padat arus lalu lintas. Harus berperilaku simpatik, dengan tidak mencari-cari kesalahan pengemudi kendaraan bermotor sesuai prosedur, profesional, modern dan terpercaya,” Tutupnya (Shl)

Komentar

Berita Terkini