|

Dugaan ‘money politic’ Pilkades Paca Masuk Register

Cakades Terpilih Janjikan Bantuan Perumahan

Hesli Bata, Markus Timbangnusa, Ridwan Ngongaje, dan Renatus Keradjaan menyerahkan laporan keberatan hasil Pilkades Paca, Kecamatan Tobelo Selatan, Halmahera Utara. Laporan ini di terima oleh anggota panitia kabupaten, S. Pasaribu.
TERNATE, BRN - Ever Tidore akhirnya memenangkan Pemilihan Kepela Desa Paca, Kecamatan Tobelo Selatan, Halmahera Utara. Calon kepala desa (cakades) nomor urut 02 ini meraih 390 suara dari total 1.149 suara.

Hasil atau torehan ini menjadikan Ever Tidore meraih suara terbanyak pertama mengalahkan empat pesaingnya yaitu Hesli Bata 316 suara, Markus Timbangnusa 219 suara, Ridwan Ngongaje 126 suara, dan Renatus Keradjaan 98 suara.

Perolehan ini Ever Tidore belum sepenuhnya dibilang aman seratus persen. Pasalnya, dia dilaporkan empat pesaingnya ke panitia kabupaten atas dugaan money politic  dan manipulasi undangan pemilih.

Hesli Bata mengatakan, dia dan tiga rekannya tidak terlalu menyoalkan hasil pilkades. Alasan mereka melaporkan hasil pilkades karena ada indikasi atau ada yang janggal dalam pencoblosan.

Selain itu, menurut Hesli, ada juga dugaan praktik money politic  dan pemilih diluar daftar pemilih tetap (DPT) ikut coblos. “Nama-nama pemilih ini tidak terdaftar di DPT, mereka kurang lebih delapan pemilih,” katanya. “Kalau dugaan politik uang ini saya tahu setelah ada pengakuan dari salah satu masyarakat. Dia mengaku menerima seratus ribu rupiah dan dijanjikan bantuan perumahan dari calon kades 02,” sambungnya.

Sedangkan daftar pemilih tetap atau DPT, kata Hesli, sebanyak 1.554 jiwa pilih, namun hanya 1.152 pemilih menyalurkan hak pilihnya. Jumlah ini termasuk depalan orang pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT Desa Paca. “Nama-nama ini diarahkan memilih cakades 02. Misalnya pemilih atas Aknes Tidore, di DPT namanya di tulis Ice Tidore. Kemudia ada juga Nongki Arafane, di DPT di tulis Rikson Arafane. Semuanya diarahkan pilih calon 02,” katanya.

Anggota panitia pilkades kabupaten, S. Pasaribu dikonfirmasi membenarkan adanya laporan keberatan dari Desa Paca. Dia mengatakan, mulai dibukanya pengaduan hasil pilkades pada 2 Oktober sudah dua puluh satu desa terdaftar di buku register pengaduan panitia kabupaten dari sembilan puluh empat desa.

“Batas waktu atau deadline pengaduan hasil pilkades bermasalah sampai pada Rabu (9/10/2019). Setelah semua sudah, kita tunggu ketua panitia dari Jakarta baru ditindaklanjut,” katanya. “Aduan yang masuk itu kebanyakan dugaan politik uang dan masalah DPT”.

Penyelesaian, kata dia, lama atau tidaknya tergantung pokok gugtan. “Misalnya dugaan money politic, kalau bukti-buktinya kuat harus libat polisi dan jaksa. Karena panitia juga dari polisi dan jaksa,” terangnya.

Ketua Panitia Pilkades Kabupaten Halmahera Utara, Nyoter Koene menyebut, prinsipnya tetap ditindaklanjuti. Panitia kabupaten tetap menyelesaian kalau semua aduan sudah masuk. “Masa pengaduan keberatannya 2-9 Oktober 2019. Kalau semua sudah selesai abru kita proses,” katanya.

Media ini berusaha mencari nomor ponsel Ever Tidore, namun belum berhasil. Maksud memperoleh kontak cakades pemenang ini untuk mengonfirmasi dugaan yang dialamatkan kepadanya. Hingga berita ini dipublis, Ever Tidore belum bisa dimintai keterangan. (brn/red)
Komentar

Berita Terkini