|

Desak IWIP Laksanakan Fipic

Para pendemo saat berorasi di depan Pasar Barito, Kelurahan Gamalama, Kota Ternate Tengah
TERNATE, BRN - Solidaritas Aksi Mahasiswa Indonesia (Samurai) Maluku Utara menggelar aksi di depan RRI Ternate, Senin (23/9) sekira pukul 10.30 WIT. Aksi protes ini pendemo mendesak PT IWIP menghentikan aktifitas perushaan di Akejira, Weda, Halmahera Tengah.

Masa aksi menilai aktifitas IWIP di Akejira mengancam kelangsungan hidup suku tobelo dalam yang mendiami wilayah itu. Hilangnya konsesi hutan, rusaknya keanekaragaman hayati dan berbagai dampak lainnya adalah efek primer dapat ditimbulkan akibat pembukaan atau penebangan pohon.

“Bukan hanya soal lingkungan saja disitu (Akejira), tapi berbagai satwa hidup disana. Ironisnya suku tobelo dalam yang tadinya cuma meramu dan bercocok tanam, sekarang tidak lagi karena perusahaan sudah masuk bikin jalan disana, bahkan boleh dibilang ambil secara paksa tanpa sosialisasi atau negosiasi lebih dulu,” koar masa aksi.

Koordinator aksi Camerad Moge mengatakan, ekpansi PT IWIP membuka lahan persiapan pertambangan mengabaikan Konfensi ILO 169 dan deklarasi PBB tentang hak-hak masyarakat adat. Akibatnya selain mengancam kelangsugan hidup orang tobelo dalam, juga merusak kawasan Akejira, paru-paru Halmahera Tengah.

“Ini bukan masalaah 8 orang tobelo dalam hidup disitu, tapi ini kemanusiaan, HAM mereka diambil paksa. 313 izin perusahaan dengan alibi kesejahteraan’ sampai sekarang masyarakat Maluku Utara bukannya ‘sejahtera’ tapi tambah miskin. Ditambah lagi hutan sudah gundul, laut dan sungai ikut tercemar akibat dampak primer perusahaan,” katanya.



Pemutaran Film The Chico Mendes Story
Presidium Samurai Maluku Utara Zulfandi Gani mengatakan isu Akejira memang penting disuarakan. “Secara institusi sudah intens berdiskusi, salah satunya isu Akejira,” kata Zul, sapaan akrab Zulfandi, Sabtu (21/9) malam.

Menurutnya, pemanfataan hutan kelompok tobelo dalam di Akejira sama halnya dilakukan masyarakat Cachoeira di hutan Amazon Brazil. Pemanfaaan dengan kearifan lokal menjadi modal utama bagi kelompok tobelo dalam maupun masyarakat Cachoeira untuk tidak berperilaku serakah atas hasil hutan sebagaimana tergambar dalam film The Burning Season:The Chico Mendes Story.

Ketua Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate, Muhmud Ici mengemukakan, peran Raul Julia dalam film The Chico Mendes Story itu untuk memahami dan menyadari eksploitasi sumberdaya alam seperti hutan tidak bisa dijadikan pembenaran atas lanju pertumbuhan di suatu wilayah.

“Aspek pemenuhan generasi di masa mendatang juga harus jadi pertimbangan. Kenapa, ini agar tidak dikuras habis hasil alamnya. Selain itu, hak-hak ulayat yang syarat dengan nilai-nilai moral menjaga hutan sudah selayaknya dijadikan dasar penegakan hukum yang adil,” kata Abang Mici, sapaan akrab Mahmud Ici menyimpulkan The Chico Mendes Story saat diundang menjadi pemantik dalam acara nonton bareng dan bacarita Akejira Halmahera, Sabtu malam kemarin.

Mantan Ketua AJI Ternate ini bilang, belajar dari prinsip hidup Chico ternyata kekerasan bukanlah cara tepat membuat pihak lain setuju dengan apa yang kita perjuangan. Kekerasan tidak harus dibalas dengan kekesaran, melainkan suara melalui gerakan sosial adalah modal sosial yang ditempuh oleh setiap orang memperjuangkan kelestarian lingkungan dan hak-hak kemanusiaan.

Ketua BPH AMAN Malut, Munaidi Kilkoda mengatakan ekspansi PT IWIP masuk di wilayah Akejira boleh dibilang ‘pembantaian’ atau genosida. “Karena memang perusahaan masuk tanpa koordinasi. Pihak perusahaan memanfaatkan Elia dan Yakuta (bagian dari kelompok tobelo dalam) dengan cara memperkerjakan mereka untuk memuluskan rencana membuka hutan. Ditambah lagi orang-orang pesisir mengapling lokasi tersebut untuk dijual ke perushaan,” katanya. (ko/red)
Komentar

Berita Terkini