|

Diduga Bermisi Agama, Ribuan Masyarakat Morotai Protes Karnaval Merah Putih

Masa aksi yang memadati kantor Bupati Morotai
MOROTAI, BRN - Dugaan kristenisasi terselubung yang dilakukan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) pada Kamis 21/2 lalu menuai protes masyarakat Pulau Morotai.   

Protes yang di wujudkan dalam demontrasi di depan kantor Bupati Morotai di ikuti ribuan masa aksi. Pengamatan Brindonews.com, sebelum berunjuk rasa, para tokoh mayarakat dan agama melakukan pertemuan singkat bersama Ketua Majelis Ulama Indonesia Pulau Morotai, Hi Arsad Haya di Masjid Attaqwa di Desa Yayasan. Sekira pukul 09.30 WIT pagi para pendemo yang mengatasnamakan Front Islam Morotai Bersatu (FIMB) melakukan longmarc melintasi kediaman Benny Laos di Jalan Desa Yayasan.

Aksi di picu karena gelaran Karnaval Merah Putih yang di gelar  Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) di Pantai Armydoc Nepebest, Kecamatan Morotai Selatan pada Kamis 21/2/2019 lalu. Karnaval yang melibatkan 500 pelajar SMAN 1 Morotai, SMK Pelayaran, SMPN 1, MIS Gotalamo  Aliyah dan SD se-Kota Daruba Morotai itu diduga bermisi agama.

Dugaan pembaptisan terhadap ratusan pelajar yang notabane-nya beragama muslim itu setelah menguaknya instrumen atau atribut lebih menjurus pada simbol misionaris. Simbol-simbol itu nampak pada pembagian roti hidup atau biskuit krispy dengan logo ‘tuhan memberkati’ pada bagian bawah cemilan yang bertuliskan INDONESIA DISELAMTKAN itu.

'roti hidup' atau biskuit kripsi yang berlogo 'tuhan memberkati'
Kurang dari sejam longmarc, para pendome tiba di Kantor Bupati Morotai. Di sana, masa aksi dibatasi kawa duri yang di pasang Polisi. Kendati begitu, mereka menerobos masuk guna menemui Bupati Morotai Benny Laos. Masa aksi menduga kegiatan Karnaval Merah Putih YBSN melenceng dari ketentuan.

“ Ini upaya pendangkalan akidah yang berkedok sosialisasi, kita patut pertanyakan makanan yang dimakan itu unsur haram atau tidak ?. Mereka bilang stunami tidak bisa datang, ngoni ini sapa ? Ngoni tuhan, kita tidak marah secara pribadi, kita marah karena agama dinistakan, oleh karena itu pemda penanggungjawab masyarakat morotai, kenapa bisa jadi fasilitator, seharusnya yayasan itu datang, jangan dangkalkan aqidah generasi muda muslim,” kata Fajri Alhamid, salah satu pendemo saat berorasi.

Menurut masa aksi, penyertaan simbol agama dalam karnval merah putih tidak sesuai edaran YBSN ke  sekolah-sekolah Islam. poin dalam edaran itu ditegaskan tidak boleh boleh membawa  simbol agama karena temanya murni nasionalis.

Perwakilan masa aksi saat hearing bersama Wabup dan Kapolres Morotai
Tak lama berunjuk rasa, masa aksi dipanggil melakukan hearing dengan Wakil Bupati Morotai, Asrun Padoma. Di hadapan Kapolres Morotai AKBP. Michael Sitanggang, pendemo meminta agar Polisi segera mengusut dan menangkap terduga pelaku pemurtadan terhadap siswa.

“‘ ’roti hidup atau biskuit krispy dengan logo ‘tuhan memberkati’  yang di makan siswa belum tentu halal, ini sangat sensitif bagi muslim.  Bupati harus hadir, karena bersama-sama melakukan, Bupati jangan cuci tangan karena undangan itu kan turut terlibat sama-sama melakukan, berapa pun kecil andilnya harus diproses secara hukum. Saya sudah cek yayasan itu bertentangan dengan keputusan menteri agama. Unsurnya terpenuhi, kalau tidak diselesaikan maka bisa melebar, ini daerah rusuh dan sangat sensitif sekali makanya harus segera proses,” pinta Mustafa Lasidji dalam hearing.

Meski sudah dilakukan heraing, kekesalan pendemo atas ulah YBSN tak begitu saja surut. Pendemo selanjutnya menuju kediaman Benny Laos di Desa Yayasan. Di sana, pendemo bertindak anarkis dan menghancurkan kaca rumah di lantai satu maupun di lantai dua milik Benny.

Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Pulau Morotai, Revi Dara mengakui hanya mengeluarkan rekomendasi. Rekomendasi keluarkan dengan alasan untuk sosialisasi anti narkoba dan pergaulan bebas.

“ Waktu itu saya tidak ada di Morotai, dan itu di terima oleh Sekretaris Dikbud (Mauludin Wahab,red). Katanya kegiatan anti narkoba dan pergaulan bebas, makanya kita terima untuk bisa sosialisasi di sekolah SD dan SMP, kalau untu SMK-SMA itu ke sanjar Forno, tapi kenyataan di Army Dok itu sudah lain,” Revi menjelaskan.

Brindonews.com belum berhasil memintai tanggapan pengelola YBSN hingga berita ini di publis. (fix/red)
Komentar

Berita Terkini