|

Samurai Malut Kutuk Dugaan Premanisme Oknum Polisi

TERBARING: Haekal Samlan tak sadarkan diri usai mendapat pukulan dari oknum Polisi di Polres Morotai. Haekal diduga menjadi kekerasan saat berunjuk rasa pada Rabu (12/12) kemarin di depan Kantor DPRD Morotai. Korban mendapat pertolongan pertama dari teman-temannya sebelum di larikan ke RSUD Morotai untuk di rawat  
MOROTAI, BRN - Solidaritas Aksi Mahasiswa Indonesia (Samurai) Maluku Utara mengecam dugaan premanisme yang di lakukan anggota Polres Morotai. Bahkan Samurai mengutuk oknum polisi yang diduga menganiaya Haekal Samlan saat berunjuk rasa pada Rabu (12/12) kemarin.

Presidium Samurai Malut, Yusran S. Sangaji melalui rilisnya, Jumat (15/12) mengungkapkan, sebagai polisi seharusnya menjadi pengayom dan pelindung masyarakat. Bukan sebaliknya dan seenaknya melakukan tindak kekerasan terhadap masyarakat.

Menurutnya, tindakan oknum polisi yang diduga menganiaya Haekal sebagai catatan terburuk anggota kepolisian dan tidak ada alasan yang membenarkan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum polisi tersebut.

“ Oknum anggota polisi menganiaya Haekal, memperpanjang rentetan arogansi oknum aparat penegak hukum terhadap rakyat yang semestinya dilindungi dan diayomi. Masyarakat Maluku Utara tidak membutuhkan oknum polisi yang bermental barbar yang sok berkuasa sehingga dengan kekuatan yang dimiliki, mereka melakukan penindasan kepada masyarakat,” tuturnya.

Aksi yang dilakukan masyarakat dan mahasiswa di Kabupaten Pulau Morotai di Kantor Bupati dan DPRD Morotai Rabu (12/12) kemarin karena telah melukai hati masyarakat. Sebab massa aksi yang semestinya menemui wakilnya (anggota DPRD) di kantor parlemen justru di larang oleh aparat kepolisian dan melakukan tindakan anarkis.

Padahal, kata dia, massa aksi sudah berjanji menjaga keamanan bersama. Namun tanpa ada alasan yang jelas, petugas kepolisian justru melarang massa aksi untuk bertemu dengan wakilnya di kantor DPRD dan menganiaya pengunjuk rasa. Bahkan aparat menggunakan pistol dan nyaris menembak masa aksi.

Ia menilai tindakan salah seorang oknum polisi itu tidak manusiawi. Dia meminta dan mendesak Kapolri, Tito Karnavian untuk memecat oknum anggota polisi yang bersikap arogan terhadap massa aksi. Polda Malut dan Polres Morotai menghentikan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

“ Kepada Kompolnas Republik Indonesia agar mengusut tuntas kasus pengeroyokan dan pengancaman senjata api terhadap massa aksi oleh dua anggota polisi tersebut,” desaknya.

Selain itu, Polda Malut juga segera mengirim petugas Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk menginvestigasi kasus pengeroyokan dan pengancaman menggunakan senjata api kepada massa aksi yang diduga dilakukan dua anggota oknum polisi Polres Morotai.

“ Presiden RI dan Kememendagri segera turun tangan memecat secara tidak terhormat Bupati Morotai, Benny Laos. Karena dengan olahnya tindakan anarkis terhadap masa aksi terjadi,  jika tuntutan kami tidak secepatnya dituntaskan, maka kami pastikan akan melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan,” ancamnya. (Fix/red)
Komentar

Berita Terkini