|

Pelestarian Cagar Budaya Butuh Peran Serta Masyarakat

Foto bersama peserta dan panitia kegiatan BPCB Malut
TERNATE, BRN - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Maluku Utara (Malut) mensosialisai pelestarian cagar budaya di Malut. Ini dilakukan demi meningkatkan peran serta masyarakat luas dalam pelestarian benda cagar budaya.

Sosialisasi ini diikuti para guru sejarah dan siswa-siswi sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di tiga kabupaten, yakni Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Halmahera Barat (Halbar) dan Kota Ternate. Pengenalan dilakukan dengan cara membekali pengetahuan tentang cagar budaya, kemudian menggelar diskusi bagaimana cara pemanfaatan, pelestarian dan pengelolaan cagar budaya.

Para siswa-siswi perwakilan tiga kabupaten/kota ini dibagi dalam 5 kelompok. Setiap kelompok mendiskusi materi pemanfaatan, pelestarian dan pengelolaan cagar budaya dan kemudian di presentasi tiap-tiap kelompok. Prensentasi tersebut menunjukkan dalam upaya pelestarian cagar budaya perlu melibatkan peran serta masyarakat sehingga akan tercipta simbiosis yang saling menguntungkan dalam aspek budaya, pariwisata, dan ekonomi.

Salah satu materi yang presentasi adalah pelestarian Benteng Orange Ternate. Hasil diskusi kelompok II dan IV ini membahas pelestarian cagar budaya. Menurut dua kelompok ini, pelestarian harus benar-benar memperhatikan aspek-aspek pelestarian budaya sehingga tidak menghilang atmosfer sejarah.

Menurut mereka, benteng yang didirikan pada 26 Mei 1607 oleh Cornelis Matclief de Jonge dan diberi nama Benteng Orange oleh Francois Wiltlentt pada 1609 (dua tahun berikutnya) kini beralih fungsi menjadi lokasi wisata sejarah di Ternate dan tempat nongkrong berbagai komunitas krearif di Ternate. Dulu Benteng ini lokasinya berada tepat disamping laut dan kini telah berada di tengah kota karena adanya reklamasi dibagian depan benteng ini dibuat taman kota serta lokasi pertokoan.

Namun dari sisi pemenfaatan ekonomi, masyarakat sekitar benteng belum signifikan meresakan dampak ekonomi. Juga masih banyak terdapat coretan-coretan yang tentukan ini secara kasat mata mengurangi pemandangan keaslian benteng. Karena itu, perlu pengembangan kemitraan masyarakat melalui peningkatan kapsitas kelembagaan, pembagian peran dan tanggungjawab secara bersama.

Kasubag Tata Usaha (KTU) BPCB Malut, Rinawati Idrus mengatakan persolan pelestarian tidak berpusat pada BPCB saja, melainkan peran semua stakeholer. Peran serta stakeholder  ini sangat membantu. Rinawati mengungkapkan, selain peran serta stakeholder, peran serta guru-guru di sekolah juga sangat penting.   

“ Cagar budaya adalah peninggalan masa lampau, untuk itu kita harus pertahankan agar bisa bertahan sampai pada anak cucu kita. Karena di UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya sudah ada pemeringkatan, baik tingkat kabupaten, kota, provinsi maupun nasional, dan itu harus di perdakan,” kata Rinawati usai sosialisasi, Rabu (19/12) malam tadi.

Rinawati mengatakan, memang tujuan sosialisasi ini untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada siswa-siswi di tingkat SLTP. Selain itu bertujuan memahami UUD UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya. “ Sosialisasi ini kegiatan setiap tahun BPCB. Dan wilayah kerja kami saat ini empat provinsi, hanya saja keterbatasan anggaran jadi satu program satu tahun pelaksanaan,” ucapnya.

Dia menjelaskan, pelestarian cagar budaya dinilai harus menjadi salah satu prioritas. Karena itu keterlibatan dan partisipasi masyarakat akan lebih menjamin kelestarian dari benda-benda cagar budaya. Kepada masyarakat jufa dilakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran tentang arti penting cagar budaya. Masyarakat, kata dia, juga diberikan pemahaman bahwa setiap cagar budaya, baik benda maupun bangunan, struktur, situs memiliki nilai.

“ Lingkup pelestarian cagar budaya meliputi pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya. Pemanfaatan cagar budaya juga sebagai representasi. Yang cukup penting, kata dia, pemanfaatan cagar budaya bisa dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi. Namun aspek budayanya jangan sampai luntur dan terkalahkan oleh aspek wisata itu, penting diperhatikan,” ucap dia. (eko/am/red)
Komentar

Berita Terkini