|

Gara-gara Rekomendasi, Paripurna Molor

- Anggota Dewan Nyaris Adu Jotos

PARIPURNA: Suasana ruang paripurna DPRD Morotai. Tampak salah satu anggota dewan bersikeras menyerang anggota lain. 
MOROTAI, BRN - Paripurna Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) Morotai 2019, Senin (10/12) malam tadi molor. 

Molornya paripurna ini buntut dari surat rekomendasi Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) Morotai. Rekomendasi ini meminta DPRD tetap melanjutkan pembangunan pembangunan masjid raya dan gedung Oikumene yang sebelumnya di tola Tim Badan Anggaran (Banggar) DPRD Morotai.

Sidang yang berlangsung ruang paripurna DPRD itu nyaris di warnai adu jotos sesama anggota DPRD. Paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Morotai, Fahri Hairuddin dan dihadiri Wakil Bupati Morotai, Asrun Padoma, Sekda Morotai Muhammad M Kharie, sejumlah pimpinan SKPD dan tamu undangan lainnya itu sempat jalan beberapa menit.  

Kondisi aman, lancar dan tertib tiba-tiba berubah menjadi tegang setelah salah satu anggota DPRD, Anghany Tanjung mengintrupsi ke pimpinan pimpinan sidang untuk  membacakan rekomendasi PD Muhamadiyah dan NU serta Partai Nasdem terkait pembangunan masjid raya dan gedung Oikemene sebelum paripurna di lanjutkan.

Anghany juga meminta peraturan daerah (Perda) Multiyears pembangunan masjid raya dan Gedung Oikumene tetap di lanjutkan. Menurut dia, kedua gedung merupakan permintaan dan kebutuhan dasar masyarakat Morotai terutama yang beragama nasrani.

“ Saya minta Perda Multiyears. Karena ini permintaan dan menjadi kebutuhan bagi masyarakat terutama agama Nasrani di Kabupaten Pulau Morotai,” tandas Anghany.

Permintaan Anghany Tanjung semakin menambah tensi paripurna. Wakil Ketua II DPRD, Rasmin Fabanyo justru marah besar dan menanggapi permintaan Anghany dengan nada tinggi. Waktu molor paripurna pun bertambah hingga beberapa gara-gara perdebatan tersebut.

Rasmin menegaskan, masalah APBD Morotai 2019 sudah bukan lagi ranahnya membahas, melainkan ranahnya pengesahan.  

“ Sekarang itu tinggal di sahkan, bukan di bahas lagi. Karena tim Banggar sudah selesai membahasnya, dan itu sudah sah menurut perundang-undangan yang berlaku,” tegas Rasmin.

Bahkan, Rasmin mencurigai ada ketidakberesan dalam kubuh PD Muhammadiyah Morotai. Sebab, sebelum masjid raya dan gedung pertemuan Oikumene itu di bahas, dirinya lebih dulu bertemu Ketua Muhammadiyah Morotai, Qubais Baba untuk membahasnya.

“ Sebelum di bahas di tim Banggar DPRD kemudian ditolak, saya sudah bertemu  dengan Pak Qubais Baba dan yang bersangkutan bilang pembangunan masjid raya tidak urgen, kok tiba-tiba mau dilanjutkan, sebenarnya ada apa,” kata Rasmin dengan nada tinggi.

Tensi paripurna yang kian panas, pimpinan sidang berinsiatif menghentikan paripurna  mengantipasi hal-hal yang tidak di inginkan. Sayangnya, niat baik pimpinan tidak terima salah satu anggota DPRD. Kondisi kacau kembali setelah salah satu anggota DPRD Barhaban Safihi memukul meja yang ditempatinya.

Aksi adu mulut sesama anggota wakil rakyat tak bisa terhindarkan. Beruntung sesama anggota DPRD lainnya dapat melarai. Paripurna kemudian di hentikan dan belum diketahui pasti kapan di lanjutkan kembali. (Fix/red)
Komentar

Berita Terkini