|

Oknum Cakades Diduga (pakai) Suket Ijazah Palsu

ILUSTRASI
LABUHA, BRN - Hanya gara-gara merebut kursi kepala desa, Musa Abubakar diduga memalsukan surat keterangan (suket) atas kepemilikan ijazah SLTP nya yang hilang. Musa diduga kuat memalsukan suket itu hanya melengkapi syarat administrasi sebagai calon kepala desa (cakades).

Terbongkarnya suket palsu milik cakades pemenang ini ketika Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Front Delik Anti Korupsi (FDAK) Halmahera Selatan mencurigai suket milik Musa. LSM FDAK kemudian mendatangi SMPN 1 Halsel (sekolah asal Musa) memastikan kebenarannya suket tersebut. Dari hasil percakapan, Kepala SMPN 1 Halsel, Djainab Iskandar Alam mengaku tidak mengeluarkan surat keterangan (suket) yang di kantongi Musa saat mendaftar cakades.

Djainab pun turut menduga suket Musa itu bisa bilang palsu. Karena pihak sekolah tidak pernah mengeluarkan surat keterangan kehilangan ijazah atas nama Musa Abubakar. Bukti ini kemudian LSM FDAK menggiring ke ranah hukum disertai bukti rekaman percakapan bersama Kepala SMPN 1 Halsel.

Wakil Ketua LSM FDAK Halmahera Selatan, Muksin Hi Jauhar mengungkapkan, selain mengaku tidak pernah mengeluarkan suket pengganti ijazah Musa Abubakar yang hilang, Kepsek juga mengaku tidak pernah menandatangani surat keterangan warga Desa Doko. “ Saudara Musa juga diduga memalsukan tandatangan Kepsek,” kata Muksin.

Karena itu, Muksin meminta kepada Polres Halsel agar memanggil terhadap Musa Abubakar. Ini dilakukan sehingga yang bersangkutan tidak bisa menghilangkan barang bukti (babuk) atau melarikan diri dan memengaruhi saksi untuk menutup-nutupi informasi atau sumber suketnya. Dia juga mendesak Bupati Halmahera Selatan, Bahrain Kasuba mendiskluafikasi Musa Abubakar Pilkades Doko.

“ Pak bupati bisa menggunakan kewenangannya sebagai kepala daerah mendiskualifikasi yang bersangkutan, karena tidak memiliki ruang menghalalkan segala macam cara. Ijazah saja di palsukan, apalagi hanya Laporan pertanggungjawaban penggunaan dana desa ?,” katanya. (bur/red)
Komentar

Berita Terkini