|

Aksi Kopra Nyaris “baku tumbu”


DEMO: Petugas gabungan terpantau mengepung salah satu massa aksi. Suasan panas ini di tengarai petugas gabungan menolak massa aksi membakar ban bekas saat berunjuk rasa di depan kantor DPRD Halbar, Senin (3/12). 
HALBAR, BRN - Anjoknya harga kopra saat ini menjadi isu hangat di Maluku Utara sebulan belakangan. Berbagai desakan menaikkan harga koprapun terus di lakukan. Solusi yang ditawarkan ke pemerintah untuk menyelamatkan nasib para petani koprapun tak luput dari OKP maupun oragnisasi cipayung. Di Halmahera Barat (Halbar) desakan menaikkan harga kopra masih terus di lakukan. Kali ini giliran Komite Pergerakan Rakyat (KOPRA) Halbar.

Massa aksi yang menumpangi dump truk  dilengkapi soundsystem  ini menuntut DPRD Halbar secepatnya membuat peraturan darah (Perda) yang mengatur harga kopra. Mereka juga meminta DPRD merealisasikan BUMD dan mencari solusi lain mengatasi anjloknay harga kopra yang saat ini belum ada realisasi dari Pemkab Halbar.

Rifaldo Leki dalam orasinya mengatakan, sampai saat ini Pemkab dan DPRD Halbar masih terkesan tutup ‘mata’ melihat jeritan para petani kopra di Halbar. Pemkab dan DPRD Halbar di duga membiarkan harga kopra di pasaran di mainkan para tengkulak. Para predator ekonomi bukan tidak mungkin hanya menyesengsarakan nasib petani.

“ Banyak hasil kopra yang mengantar seseorang menjadi dosen, PNS, dan bahkan profesor. Para penguasa dan wakil rakyat tidak pernah mendengarkan jeritan para petani kopra. Jangan biarkan harga kopra selamanya ditentukan secara bebas oleh para cukong, tengkulak dan pemodal besar, karena para predator ekonomi itu hanya profid oriented semata,” teriak Rifaldi.

Dias Setiawan mengatakan, kopra juga bentuk dari harga diri khususnya di Maluku Utara. Kepada DPRD dan Pemkab Halbar secepatnya mencari solusi untuk bagaimana menaikkan harga kopra.

Sebelum massa aksi diundang untuk hearing, gabungan petugas dan massa aksi nyaris “baku tumbu”. Massa aksi naik pitam karena di hadang petugas gabungan (Satpol PP, Damkar dan kepolisian) saat membakar ban bekas. Suasan semakin memanas setelah permaintaan hearing terbuka tak diindahkan DPRD Halbar.  

Massa aksi menganggap hearing tertutup itu tidak efektif. Sebab pendapat/saran yang diberikan akan dibatasi DPRD Halbar. Menurut massa aksi, hearing terbuka lebih efktif daripada hearing tertutup. (yadi/red)
Komentar

Berita Terkini