|

Tokoh Pemuda dan Tokoh GMIH Pulau Morotai Kecam Aksi Catut Nama Umat



HALUT, BRN - Aksi demonstrasi yang dilakukan Masyarakat serta Aparatur Sipil Negara dengan tuntutan Bupati Pulau Beny Laos Morotai harus lengser dari jabatan menuai kritikan dari tokoh pemuda dan tokoh  Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Aksi tersebut dengan sengaja mencatut nama organisasi GMIH, ungkap tokoh pemuda GMIH Klemens Banggai melalui pres confers , Selasa (27/11)
Kata dia, aksi demonstrasi tersebut sangat tidak mendasar, sebab tidak memiliki data yang akurat dan juga juga menyalahi aturan organisatoris yang mana  mencatut nama umat Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). “ Saya menghormati kebebasan menyampaikan pendapat, karena di jamin oleh undang-undang, tetapi kalau berbicara, juga harus di dukung dengan data”.
Menurutnya, apa yang disampaikan, tidak benar sama sekali, sebagai pemuda GMIH, menyesalkan ada yang mencoba mencatut atau membawa-bawa nama umat oranisatoris GMIH. Setiap elemen masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya perlu mengedepankan cara-cara yang elegan,
Dirinya mengimbau setiap elemen masyarakat dapat menahan diri dan tidak terprofokasi dengan isu-isu yang dapat memecah belah keutuhan dan persatuan persaudaraan serta senantiasa bekerja sama dengan aparat pemerintah dan pihak keamanan guna bahu-membahu menciptakan dan menjaga suasana daerah yang lebih stabil dan kondisif, hal ini penting agar semua pelayanan public dapat berjalan dengan baik, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan dengan lancar.

Lanjut dia, kepada warga gereja GMIH, agar dalam menyampaikan pendapat dimuka umum dengan mengatasnamakan institusi gereja perlu adanya koordinasi dan legalitas pimpinan lembaga/institusi gereja, sehingga tidak menimbulkan interprestasi yang kontradiktif.

Kepada pemerintah daerah agar lebih proaktif dan responsive serta optimal dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan publik dan lebih mengutamakan kepentingan masyarakat  pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dapat mengambil langkah-langkah tegas kepada setiap oknum masyarakat dalam menyampaikan pendapat yang tidak sesuai dengan etika dan norma-norma serta tidak memiliki data-data konkrit/otentik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, melakukan tindakan yang menimbulkan kerusakan fasilitas pemerintah maupun fasilitas umum yang mengakibatkan kerugian.

Kepada sauadara Konstan Rein Padosa dan Yongki Makangiras, bahwa setiap institusi gereja memiliki aturan dan kaidah-kaidah organisasi yang terstruktur yang di dalamnya mengatur mekanisme dalam menyampaikan pendapat dan atau pemberian tugas dan wewenang serta kapasitas secara organisatoris dalam forum resmi maupun tidak resmi, sehingga tidak sewenang-wenang menyatakan dirinya sebagai perwakilan organisasi gereja secara institusional apalagi mengajak umat untuk mengikuti. Bagi kami pernyataan saudara ini, sangat tidak tertanggungjawab karena tidak berkewenangan mengatasnamakan secara konstitusi dalam menyampaikan pernyataan-pernyataan seperti tersebut di atas, oleh karena itu pernyataan sudara merupakan pernyataan pribadi sehingga resiko yang timbul atas pernyataan tersebut merupakan tanggungjawab pribadi maka kami sangat menyasalkan.

Konstan Rein Padosa dan Yongki Makangiras agar segera mengklarifikasi dan meminta maaf secara langsung kepada seluruh warga Kristen serta pimpinan gereja secara terbuka dihadapan publik maupun media massa. Apabila dalam kurung waktu 2 hari terhitung tanggal 28-29 November 2018 tidak melakukan klarifikasi dan permohonan maaf, maka kami akan melakukan tindakan hukum.

Sikap ini ditandtangan in oleh Pdt. Ebson Lela, S.Th (Korwil Morotai Utara), Pdt. SIMUS BOKE, S.Ag (Korwil Morotai Jaya), Pdt. ERWIN HAPE, S.Si.Teol (Korwil Morotai Timur), Pdt. ERWIN HAPE, S.Si.Teol (Korwil Morotai Timur), Pdt. BERENS GALAMBULAENG, S.Th (Korwil MORESLBAR), KLEMENS BANGGAI, S.Si.Teol ( Pemuda GMIH), YOSAFAT KOTALAHA,SAP (Pemuda GMIH) dan TOMI ITJE, S.Pd. M.Si. (Adv/red)
Komentar

Berita Terkini