|

Pemkab Halbar Serius Tangani Dua Pasien Gizi Buruk

Pertemuan Asisten I Setda Halbar, Vence Maluwere dan Direktur RSUD Safrullah Radjiloen dan Kepala Bidang Gizi Dinkes, Erni di ruang kerjanya, Jumat (23/11). 
HALBAR, BRN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Barat (Halbar) menaruh perhatian serius kepada pasien asal Desa Lako Akediri Kecamatan Sahu. Pasien penderita gizi buruk atas nama Meilani Bet (1,6) ini kini tengah di tangani Dinas Kesehatan (Dinkes) Halbar.

Tak hanya Meilani, pasien atas nama Zahra Sabari (2) asal Desa Moiso Kecamatan Jailolo Selatan juga di tangani serius. Penangana pasien diagnosa sama seperti Meilani ini masih terus dilakukan. Ihkwal ini di ungkapkan Asisten I Setda Halbar, Vence Maluwere didampingi Direktur RSUD Safrullah Radjiloen dan Kepala Bidang Gizi Dinkes, Erni di ruang kerjanya, Jumat (23/11).

Vence mengatakan, pasien Meilani di tangani sejak 26 September lalu oleh Dinkes bersama petugas gizi Puskesmas Sahu, Halbar untuk melakukan pemeriksaan awal di rumah orang tua pasien. Dari hasil pemeriksaan, petugas meminta agar Meilani dibawa ke Panti Pemulihan Gizi (Theraupetic feeding Center)  di Puskesmas Kota Jailolo untuk di rawat.

“ Setelah orang tua Meilani setuju, esok harinya 27 September Meilani di bawa Panti Pemulihan Gizi di rawat selama empat hari. Besoknya di hari ke lima (1 Oktober 2018), pasien Meilani dirujuk ke RSUD Jailolo dan di rawat di Poli Spesialis Anak dengan diagnosa gizi buruk, Cerebral Palsy, Bronhits, Kelainan Sptum dan Anima,” katanya.

Ia mengaku sampai saat ini Meilani masih dalam penanganan Pemkab Halbar. Penanganan terhadap Meilani masih terus dilakukan, bahkan Pemkab Halbar sudah beberapa kali membawa Meilani ke RSUD Ternate guna diperiksa lebih lanjut.

“ Karena dari awal, orang tua Meilani memang tidak memiliki cukup biaya pengobatan, sehingga itu Pemkab melalui Dinkes Halbar mengurus BPJS hingga saat ini mau dilakukan pengadaan obat untuk Meilani yang akan didatangkan dari Manado. Jadi kalau ada yang bilang Pemkab tidak melakukan penaganan itu tidak benar,” akunya.

Hal yang sama dilakukan kepada pasien Zahra Sabari. Kata dia, Pemkab Halbar akan menangani dua pasien gizi buruk itu hingga tuntas melalui penanganan RSUD dan Dinkes.

“ Karena itu Bupati Danny Missy meminta petugas RSUD dan Dinkes agar lebih jeli melihat kondisi seperti ini. Sehingga kasus yang seperti dialami kedua pasien tidak terulang lagi dan kalau terulang lagi,” ujarnya.

Saat ini, kata Vence, Pemkab Halbar masih menunggu hasil diagnosa dari dokter yang menangani Meliani dan Zahra. Sebab menurut dokter, apabila tahapan pemulihan gizi dan hormon pertumbuhan sudah stabil, kedua pasien bisa dirujuk ke Jakarta menjalani operasi.

” Intinya pemkab siap bantu kapan saja, meski dokter memutuskan untuk dilakukan operasi di Jakarta. Sedangkan obat pemulihan hormon pertumbuhan masih menunggu pesanan dari manado,” pungkasnya.

Saat ini, kata Vence, Pemkab Halbar sudah mengeluarkan instruksi Bupati Nomor 7 Tahun 2018 tentang penangan gizi buruk, gizi kurang dan ibu hamil kekurangan energi kronik (Bumil KEK). Langkah ini untuk percepatan penanganan yang sudah sesuai standar penanganan dari Kemenkes.

“ Ini terkait penaganan gizi buruk, stanting, dan angka kematian ibu hamil. Jadi kalau ada pihak-pihak lain yang ingin membantu, harus melaporkan ke team penanganan, bukan jalan sendiri-sendiri. Karena ketika ada risiko siapa yang bertanggungjawab ?. Seperti sekarang, ada salah satu pasien saat ini dibawa ke Ternate, tapi akhirnya balik lagi ke Jailolo, jadi kasihan anak dan orangtuanya,” katanya. (Yadi/red)
Komentar

Berita Terkini