|

Polisi Amankan Puluhan Satwa Lindung

Satwa lindung yang diamankan Polres Morotai, Sabtu (29/9) kemarin. Ketentuan hukum satwa lindung ini tertuang pada Pasal 21 ayat 2  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hati dan Ekosistemnya 
MOROTAI, BRN - Kepolisian Resort (Polres) Morotai mengamankan puluhan satwa lindung jenis burung di Desa Wawama, Kecamatan Morotai Selatan (Morsel), Sabtu kemarin. Penangkapan bermula Polres mendapat laporan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) adanya satwa lindung itu diperjual belikan.

Dikendali Kapolres Morotai, AKBP M P Sitanggang Tim Reserse menuju lokasi memantau. Alhasil tim berhasil mengamankan puluhan ekor burung lindung sekaligus mengamankan satu oknum insial M.

“ Barang bukti yang diamankan berupa burung kaka tua putih 5 ekor, nuri bayan 25 ekor, Kasturi Ternate 44 ekor dan Nuri Kalung Ungu 8 ekor dengan total 82 ekor. Burungnya sudah diserahkan ke Karantina Ternate kemarin,” kata Kapolres diruang kerjanya, Senin (1/10).

Beberapa ekor kura-kura/penyu dilpas ke laut.
Kapolres mengatakan, alasan menyerahkan puluhan ekor burung lindung itu di Karantina Ternate untuk dipelihara. Selain dierihara, faktor lainnya adalah Polres Morotai tidak memiliki tempat untuk menampung burung-burung itu.

“ Karena jika ditahan, diakuatirkan burung-burung tersebut akan mati. Karena itu kita serahkan ke Karantina Ternate,” katanya.

Kapolres memastikan kasus ini bakal diproses lebih lanjut untuk memberi efek jerah yang lainnya. Meski begitu, oknum insial M yang diamankan saat penangkapan belum bisa dilakukan penahanan karena masih tahap dimintai keterangan.

“ Apabila benar terbukti, pelaku diancam pasal 21 ayat 2  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana maksimal 5 tahun dan denda Rp 100 juta,” cetusnya.

Selain burung lindung, puluhan kura-kura langka juga ikut diamankan. Kura-kura itu kemudian dilepas ke tempat habitatnya. “ Puluhan kura-kura sudah dilepas di Pulau Galo-Galo. Namun oknumnya tetap diproses untuk memberi efek jerah,” terangnya sembari meminta pihak berwewenang turun ke Morotai gelar sosialisasi, karena sebagian besar masyarakat Morotai belum mengetahui satwa/fauna yang dilindungi UU dan tidak boleh diperjual belikan. (Fix/red)
Komentar

Berita Terkini