|

Kajari Bantah Dugaan Suap


Cristian : Cepat Atau Lambat Kasus InI Tetap Tuntas

Cristian Carel Ratianik
LABUHA, BRN - Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Halmahera Selatan (Halsel), Cristian Carel Ratianik membantah 'dugaan' suap yang dialamatkan padanya.

Dugaan suap oleh mantan narapidana (napi) kasus illegal loging, Hartono The alias TEK kepada kepala Kejari ini karena terkesan mendiamkan perintah atau putusan Mahkamah Agung (MA) mengenai penyitaan barang bukti sejumlah alat berat dan kayu bulat milik TEK. 

Dalam putusan MA itu dinyatakan, alat berat dan kayu bulat milik TEK dan kroninya merupakan hasil rampasan negara. Karena itu, MA memerintahkan Kejari Halsel untuk mengekseskui barang-barang itu.

Kepala Kejari Halsel, Cristian Carel Ratianik mengatakan, tudingan dugaan 'suap' dialamatkan padanya itu tidak benar alias bohong. " Saya bersumpah, saya orang beragama. Tidak benar, kalau saya terima suap," kata Cristian kepada awak media di ruang kerjanya, Jumat (5/10).

Cristian mengakui TEK pernah menemuinya di rumah dinasnya yang berada dibelakang kantor Kejari Halsel. Hanya saja kedatangannya untuk berkoordinasi, bukan memberikan sejumlah uang (menyuap) dengan jaminan mendiamkan putusan MA untuk mengeksekusi barang-barang milik TEK.

"Dia (Hartono The) pernah berkoordinasi dengan saya di rumah, tapi bukan berarti membawa kantong yang berisikan uang," kata Cristian.

Sementara terkait masalah penyitaan alat berat dan kayu bulat sebagai barang bukti yang menjadi rampasan negara berdasarkan  putusan Mahkamah Agung Nomor 2374 K / PID. SUS /2011 jo Nomor : 154/Pid. sus/2010/PN.LBH, Cristian mengaku sudah turun ke lokasi dimana tempat yang ditepampatkan barang bukti untuk dilakukan penyitaan.

Hanya saja, Hartono The alias TEK sebagai pemilik barang tidak memiliki itikad baik untuk menunjukan barang bukti mana yang disita. Bahkan, TEK melaporkan Kejari Halsel ke Kejaksaan Agung. "Hartono The, tidak mau menunjukan barang bukti yang disita," kata Cristian.

Sikap TEK tidak mau menunjukan itu membuat Kejari Halsel kesulitan mengetahui alat berat dan kayu bulat yang disita. Selain itu, penyidik Kejari yang menangani kasus tersebut sudah tidak lagi bertugas di Kejari Halsel.

Untuk memudahkan, kata Cristian, sudah membuat laporan ke Polres Halsel. Laporan untuk meminta bantuan kepada  penyidik Polres Halsel ini membantu menangani kasus tersebut dalam hal menunjukkan barang bukti yang akan disita nanti. "Sampai sekarang belum ada respon dari polres," kata Cristian.

Orang nomor satu di Kejari Halsel ini memastikan alat berat dan kayu bulat sebagai barang bukti yang menjadi rampasan negara berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 2374 K / PID. SUS /2011 jo Nomor : 154/Pid. sus/2010/PN.LBH, cepat atau lambat tetap dituntaskan. "Ini sudah menjadi pekerjaan rumah (PR) buat kami,  saya tetap tuntaskan," tegas Cristian.

Sekedar diketahui, alat berat nantinya disita itu berupa 2 unit Lider jenis Loder WA. 500 Komatsu Lot. No. 370 dan Loder Komatsu WA. 500 WL 02. satu unit Grider  GD 510 R Komatsu, satu unit Mitsubishi L-200 Strada nomor polisi DB 8131 CB,  satu unit loging truk warna kuning merek Renault tipe CBH. 280 LT,  01 nomor mesin ST. 5600104876, nomor casis 194240.

Sedangkan barang bukti kayu bulat berjumlah 664 batang dengan kubikasi sebanyak 3.334,47 meter kubik. (snr/red)
Komentar

Berita Terkini