|

Marak Keracunan Makanan, DPRD Cari Solusi



HALUT, BRN - Kasus keracunan makanan selama dua pekan terakhir tahun ini cukup marak terjadi di Kabupaten Halmahera Utara. Sebagian warga Desa Gorua Selatan belum ini mengalami  keracunanan setelah mengkonsumsi makanan/minuman (es buah). Nasib serupa dialami warga Kecamatan Tobelo Tengah setelah mengonsumsi daging ayam potong.

Menguaknya kasus keracunan ini direspon cepat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Halut. Melalui komisi II, para wakil rakyat iyu menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Badan Karantina Pertanian Tobelo, untuk mencari solusi.

“ Rapat ini untuk mencari solusi. Sehingga tidak  saling menyalahi antara satu dengan yang lain, dan ini juga sebagai rapat perdana sekaligus silaturahmi antara Komisi II dengan Badan Karantina  Pertanian Tobelo,” ujar Ketua Komisi II, Janlis Kitong, Jumat (21/9) kemarin.

Mengantisipasi agar masyarakat tidak mengalami keracunan, Komisi II dalam waktu dekat ini akan mengundang pihak-pihak terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Badan Karantina  Pertanian Tobelo, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Halut untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna meningkatkan pengawasan terhadap produk pangan maupun non-pangan dan obat-obatan.

“ Untuk meningkatkan pengawasan terhadap pangan sehat maupun obat-obatan tetap dilakukan, sehingga masyarakat dalam mengkonsumsi produk pangan dan obat-obatan tetap aman,“ ucapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian Tobelo, Haris mengatakan, pihaknya selalu ketat melakukan pemeriksaan terhadap ternak baik yang masuk maupun keluar. “ Setiap ternak, sayuran atau jenis makanan lainnya yang masuk ataupun keluar, biasanya 3 hari sebelumnya kita sudah mendapat laporan untuk kita lakukan pemeriksaan,” kata Haris.  

Pemeriksaan ini untuk memastikan barang tersebut apakah layak dikirim atau tidak, begitu juga sebaliknya (barang masuk). Apabila kedapatan ada barang yang tidak layak dikonsumsi, maka pemiliknya dipanggil dan dilakukan pemusnahan. “ Intinya kita cek semua barang masuk ataupun barang dikirim keluar. Kalau layak kita perbolehkan, tapi kalau tidak layak kita lakukan pemusnahan,” terangnya.

Disentil mengenai daging ayam potong milik seorang pedagang di pasar tradisional Rawajaya Tobelo yang dikeluhkan karena busuk, Haris mengakui pasokan ayam tersebut tidak melalui pelabuhan Tobelo, melainkan dipasok melalui pelabuhan Ternate-Sofifi.

“ Petugas Karantina setempat sudah melakukan pemeriksaan sewaktu daging ayam tersebut masih diatas kapal. Dari hasil pemeriksaan iyu daging ayam dinyatakan layak dan diturunkan. Setelah dilakukan pengembangan, diketahui daging ayamnya busuk karena penampung (kolbox; dalam bahasa daerah Ternate)  tidak safety yang digunakan pemiliknya saat perjalanan dari Sofifi menuju Tobelo,” jelasnya. (Arthur/red)
Komentar

Berita Terkini