|

Bakal Diadukan Ke Komnasham dan Kapolri


PH Korban: Kapolres Halut Harus Bertanggungjawab

Salah satu koban penembakan gas air mata
HALUT, BRN - Penembakan gas air mata yang dilakukan salah satu oknum polisi di lingkup Polres Halmahera Utara (Halut) masih hangat di perbincangkan, khususnya masyarakat Halut. Penembakan dengan maksud membubarkan masa aksi ini berujung salah satu warga Galela mengalami luka di bagian kanan kepala.

Penembakan gas air mata itu bermula saat Aliansi Gerakan Peduli Tani (Agepta) dan beberapa Organisasi Masyarakat (Ormas) menggelar aksi menuntut keadilan terkait lahan petani di Kecamatan Galela. Tak hanya Agepta, masa aksi yang terdiri GMNI, LMND, GAMAS dan Masyarakat Serikat Petani Galela (SPG) mempertanyakan janji Bupati Halut, Frans Manery persoalan penyelesaian dan ganti rugi lahan seluas 2.000 hektar yang diambil alih PT Kapidol Casagro.

Situasi demonstrasi memanas saat masyarakat mencoba masuk ke kantor bupati. Aksi pun berakhir ricuh.  Petugas pun di kerahkan untuk mengamankan masa aksi. “ DPRD harus berkonsultasi dengan Bupati, Frans Manery agar mencabut hak guna usaha PT Kapidol Casagro,” ucap masa aksi, Rabu (19/9) kemarin.

Menanggapi hal ini, Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Halut, AKBP. Irvan Indarta melalui Kepala Sub Bagian Humas Polres, AKP. Rissal Ibrahim menyampaikan peromohonan maaf Kapolres atas kejadian yang terjadi pada aksi demonstrasi tersebut. Rissal mengatakan, maksud penembakan gas air itu upaya anggota mencegah dan melakukan pembubaran agar tidak berkembang menjadi anarkis.

Dirinya mengaku, insiden tersebut sudah diserahkan ke Devisi Provesi dan Pengamanan (Propam) Polres Halut untuk ditindaklanjut. Apabila pengumpulan bahan keterangan benar adanya oknum anggota Polres terlibat pasti ditindak.

“ Kalau ada anggota kami yang bertindak diluar prosedur, kami tetap akan lakukan proses sesuai mekanisme yang berlaku,” kata Kasubag Humas Polres Halut pada pesan singkatnya.

Sementara itu, korban penembakan, Yulianus Bokako (39) mengaku, dirinya di tembak dari jarak yang cukup dekat. “ Saya juga tidak tahu pasti peristiwa penembakan itu terjadi, karena saya hanya merasakan sakit di kepala dan sadar ketika melihat darah mengucur dari kepala hingga ke badan,” akui Yulianus.

Korban serupa dialami Sayuti Tolori. Dirinya mengaku, pasca insiden penembakan gas air mata yang dilakukan salah satu oknum Anggota Polres Halut langsung mengalami luka di bagian betis kaki. Kedua korban pun meminta bantuan hukum.

Terpisah, kuasa hukum korban, Benyamin Ayawaila kepada awak media mengaku dalam waktu dekat akan menyurat (lapor) ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM). Serta membawa masalah ini ke Markas Besar (Mabes) Polri di Jakarta.  

“ Sudah sepantasnya kita laporkan ke Kapolri. Ini menyangkut pembelaan warga yang mendapat perlakuan kasar dari kepolisian, dan Kapolres Halmahera Utara harus bertanggung jawab atas kejadian ini,” tegas Benyamin. (Arthur/red)
Komentar

Berita Terkini