|

‘Jumat Keramat’ KPK Kembali Memakan Korban

Idrus Marham

JAKARTA, BRN - Jumat keramat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memakan korban. Kali ini mantan Sekretasi Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham menjadi korban.

Idrus ditahan ditahan KPK setelah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kontrak kerjasama pembangunan PLTU Riau-1. Penetapan tersangka terhadap Idrus yang juga mantan Menteri Sosial itu sama halnya terjadi pada calon gubernur Malut terpilih, Ahmad Hidayat Mus (AHM). AHM di tetapkan tersangka oleh KPK pada Jumat (26/3) lalu.    

Mantan Bupati dua periode Kepulauan Sula (Kepsul) itu ditetapkan sebagai tersangka bersama Ketua DPRD Kepulauan Sula Zainal Mus yang merupakan adik kandungnya. Mereka diduga merugikan negara sebesar Rp 3,4 miliar atas dugaan pengadaan fiktif dalam pembebasan lahan Bandara Bobong yang menggunakan APBD Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara tahun anggaran 2009.

Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Idrus Marham resmi menjadi tahanan setelah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kontrak kerjasama pembangunan PLTU Riau-1.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Idrus Marham resmi menjadi tahanan setelah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kontrak kerjasama pembangunan PLTU Riau-1.
“ Ditahan selama 20 hari pertama di Rumah Tahanan (rutan) KPK,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Jumat (31/8) seperti dilansir kompas.com.

Menurut KPK, Idrus berperan mendorong agar Eni menerima uang senilai Rp 4 miliar pada November dan Desember 2017, serta Rp 2,2 miliar pada Maret dan Juni 2018. Semua uang itu diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited.

Eni Maulani Saragih sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt. Eni diduga menerima suap atas kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau. Selain dugaan menerima suap, Eni juga diduga menerima suap sebesar Rp 500 juta yang merupakan bagian dari commitment fee 2,5 persen dari nilai proyek kontrak kerjasama pembangunan PLTU Riau-1.

Commitment fee tersebut diberikan oleh Johannes Budisutrisno Kotjo. Dalam kasus ini, KPK juga menetapkan Johannes sebagai tersangka karena memberikan suap kepada Eni. Menurut KPK, dalam pengembangan penyidikan diketahui bahwa Idrus ikut membantu dan bersama-sama dengan Eni Maulani menerima suap. (eko/kompas). 
Komentar

Berita Terkini