|

Akademisi: Bawaslu Tahu Dari Awal, Kok Kenapa Tidak Disampaikan

Abdul Kader Bubu
TERNATE, BRN - Hasil seleksi calon anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten/Kota Provinsi Maluku Utara resmi diserahkan ke Bawaslu RI. Meski begitu, polemik lolosnya  salah satu pengurus DPD II Partai Golkar Tidore Kepulauan (Tikep), Amru Arfa masih menjadi “wacana hangat” di semua kalangan termasuk akademisi. Lolosnya Amru Arfa pada seleksi calon anggota Bawaslu Zona I belum lama ini membuat akademisi Universitas Khairun Abdul Kader Bubu angkat bicara.

Menurut Kader Bubu, Bawaslu Provinsi harus memberi cacatatan yang menjelaskan Amru Arfa memiliki masalah. Misalnya, sebagai pengurus aktif partai politik atau tidak mengundurkan diri sebagai tim astitensi Bawaslu. “ Catatan-catatan ini harus disampaikan Bawaslu Propinsi ke Bawaslu Pusat, tapi faktanya tidak demikian,” ujar Abdul Kader Bubu saat ditemui di acara puncak pemilihan Putri Kampus 2018 di Royal Resto, Sabtu (11/8) dinihari kemarin.   

Dia mengatakan, penyampaian catatan Bawaslu Provinsi ke Bawaslu RI dengan maksud menjadi catatan ketika Bawaslu RI mengambil keputusan. Saat ini, tidak sekedar menjadi masalah yang bersangkutan lolos hasil seleksi, tetapi masalah krusial yang menimbulkan wacana adalah Bawaslu Provinsi mengetahui dari awal dimana Amru Arfa termasuk salah satu pengurus aktif partai dan tim asistensi Bawaslu.

“ Kalau itu di perhatikan maka akan menjadi masalah, Bawaslu Propinsi tahu dari awal, kok kenapa tidak disampaikan. Foto copy SK jelas, tetapi kemudian dilakukan verifikasi oleh Timsel saat itu ditemukan yang bersangkutan adalah pengurus partai,” beber Kader Bubu.

Kata dia, itu menjadi masalah prinsip yang harus menjadi acuan Timsel. “ Bolanya ada di Bawaslu Propinsi, apakah Bawaslu berani memberikan catatan-catatan sebagaimana keberatan yang disampaikan oleh ketua Timsel atau tidak, itu masalahnya,” ucapnya. (emis)
Komentar

Berita Terkini