|

Indonesia Dan Piala Dunia 2030

Oleh: Habibi Bahari Fattah

Pesepak bola timnas Indonesia U-23 Ovaldo Ardiles Haay (kedua kiri) bersama Gavin Kwan Adsit (kiri), Illija Spasojevic (kedua kanan) dan Saddil Ramdani (kanan) melakukan selebrasi seusai mencetak gol ke gawang Mongolia pada laga turnamen internasional Aceh World Solidarity 2017, di Banda Aceh, Aceh, Senin (4/12). Timnas Indonesia menang atas Mongolia dengan skor 3-2.

Piala Dunia 2030 memiliki konsep yang sedikit berbeda, di mana terdapat 48 negara yang akan bersaing untuk memperebutkan Piala Emas tiap 4 tahunan itu. Uruguay–Argentina–Paraguay adalah negara yang sudah mengajukan menjadi Tuan Rumah perhelatan kompetisi terbesar sepakbola ini. Masih ada persiapan setidaknya 12 tahun sebelum masuk ke tahun 2030. Impian terbesar pendukung sepakbola tanah air adalah menyaksikan tim nasional (timnas) Indonesia berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepakbola, Piala Dunia.

Menjadi pertanyaan besar, seperti apakah sepakbola Indonesia pada 2030? Apakah masih seperti ini atau menjadi negara yang mampu mengimbangi Jepang, Korea Selatan, atau bahkan Jerman? Sehingga tak ayal Indonesia menjadi kekuatan sepakbola baru pada 2030 mendatang. Tetapi kembali lagi, itu adalah harapan kita semua, harapan yang kita percayakan kepada PSSI, selaku induk organisasi sepakbola tanah air.

Atau pada 2030 mendatang permasalahan sepakbola tanah air malah masih menentukan dimulainya liga domestik atau malah sistem kepengurusan organisasi sepakbola tanah air makin parah karena terdapat kepentingan politik di dalamnya. Para pengurus PSSI idealnya adalah mereka yang terbebas dari kepentingan politik dan tim-tim yang berlaga di Liga 1 serta terbebas pula dari pekerjaan-pekerjaan yang rangkap jabatan.

Namun, saat ini, kepengurusan PSSI masih didominasi oleh mereka yang memiliki kepentingan di dalamnya. Terbukti dengan banyaknya pemegang saham tertinggi klub-klub Liga 1 yang mendominasi jajaran pimpinan PSSI. Kinerja PSSI masih dinilai kurang maksimal karena bekerja setengah hati. Masih banyak masyarakat yang tidak puas dengan kinerja PSSI serta mendesak pengurus PSSI segera mundur dan digantikan oleh mereka yang berasal dari latar belakang sepakbola, semisal pemain yang sudah pensiun.
Kekesalan pendukung timnas ditambah menjelang  timnas Indonesia dihadapkan pada tiga kompetisi sepakbola tahun 2018 ini, yaitu Asian Games untuk timnas U-23 pada 18 Agustus – 2 September 2018, AFC U-16 pada 20 September – Oktober 2018, serta AFC U-19 pada 18 Oktober – 4 November 2018. Kabar mengejutkan muncul, PSSI ditinggal oleh ketuanya yang mengambil cuti karena sibuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Seharusnya, jika sudah tidak bisa lagi fokus untuk mengurus PSSI, lebih baik fokus berpolitik saja. Ini lebih baik, ketimbang PSSI digunakan sebagai alat politik.
Tentunya harapan besar pendukung sepakbola ini tidak hanya pada 2030 mendatang, tetapi dalam waktu dekat, rotasi kepengurusan PSSI. Akankah momentum 2030 mendatang hanya akan menjadi harapan belaka kembali bagi pecinta sepakbola tanah air atau malah menjadi momentum kebangkitan sepakbola kita. Masyarakat penikmat sepakbola sudah tau, kualitas sepakbola Indonesia seperti apa.
Sejatinya, kualitas sepakbola yang baik pada suatu negara adalah cerminan dari pembinaan pemain negara tersebut. Kemudian, pembinaan pemain yang baik berasal dari sistem liga yang baik pula, dan sistem liga kompetisi sepakbola mencerminkan gambaran asosiasi sepakbola yang bertanggung jawab terhadap kompetisi tersebut.
Dan sekarang kita sudah tau alasan mengapa sepakbola kita jalan di tempat bahkan maju, tapi ke belakang. Hal ini dikarenakan induk organisasinya masih setengah hati menjalankan tugasnya. Apa karena mereka memang tidak mencintai bola atau tidak mengerti bola sehingga kualitas sepakbola tanah air sangatlah tidak membuat masyarakat puas. Tentunya momentum 2030 adalah harapan bagi pecinta sepakbola tanah air untuk menyaksikan timnas Indonesia berlaga di Uruguay, Argentina, atau Paraguay kelak. (*)
Komentar

Berita Terkini