|

Sembilan Kali Keluar Masuk Lapas, Kemenkumham Ternate Telusuri Kasus Astrid

Amran Umagapi
TERNATE, BRN – Tersangka investasi bodong Astrid Fitriani Pakaya hingga saat ini tercatat sudah 9 kali keluar masuk sel tahanan Lembaga Kemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas III Ternate. Itu menyusul berdasarkan data yang dikantongi Kanwil Kemenkumham Ternate.


Kepala Bidang (Kabid) Keamanan Keswat dan Basan Baran, Amran Umagapi kepada wartawan, Kamis (17/5/2018) mengatakan, keluar masuknya tersangka dari sel tahanan lapas tersebut diketahui setelah ada surat pemberitahuan dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Malut saat melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan. Astrid belum bisa dikatakan sebagai resmi narapidana (napi) Lapas Perempuan Kelas III sebab dirinya masih berstatus titipan sementara  Direktorat Kriminal Umum Polda. 

“ Yang tercatat dalam data kami sebanyak 9 kali, dan yang terakhir pada 11 Mei 2018. Namun Astrid dikabarkan keluar dari Lapas Perempuan kelas III pada 14 Mei 2018 lalu dan itu tanpa sepengetahuan petugas lapas,” beber Amran.

Amran menambahkan, tersangka Astrid merupakan salah satu tahanan yang masuk dalam kategori pengawasan khusus. Kasus yang melibatkan Astrid merupakan kasus yang menghebohkan dan mengundang perhatian masyarakat umum  alias pembohongan publik, untuk itu dibutuhkan pengawasan serta penanganan khusus terhadapnya. 

“ Dia (astrid) masuk pengawasan khusus dan punya buku tamu tersendiri. Dia juga berhak untuk tidak menerima orang yang besuk. Dia bisa menolak karena itu hak dia. Kami sudah siapkan buku, kalau dia menolak dibesuk, otomatis ada tanda tangan dari yang bersangkuta sebagai dasar kami,” ungkap Amran.

Kendati demikian kata Amran, pihaknya tetap mengusut hal tersebut hingga tuntas. komitmen itu berdasarkan perintah Kepala Kanwil Kemenkumham. “ Harus diusut sampai tuntas. Karena itu sudah sesuai perintah pak Kepala Kanwil Kemenkumham,” tandasnya.  

Amran mengaku belum bisa memastikan untuk menarik kesimpulan terkait hal itu. Karena menurutnya, setiap kali dikeluarkannya dari sel tahanan harus dibarengi dengan surat pemberitahuan dari kepolisian. Akan tetapi yang terjadi pada 14 Mei lalu tidak ketahui petugas (sipir). Ia menduga tersangka Astrid dikeluarkan pada waktu itu terjadi pada malam hari sehingga keluar  dari pengawasan petugas.

 “ Bermasalahnya di jam atau waktu, karena kita nggak tahu apakah salahnya dipetugas (sipir) atau polisi, karena waktu keluarnya tersangka itu polisi yang ngambil,” tutupnya. (Shl)
Komentar

Berita Terkini